PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI PESANTREN KEBON JAMBU

 

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat

           untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.)

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

 

 

 

 

Oleh :

MUHAMAD IRPAN

NIM :14166310049

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2020 M/ 1441 H

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang unggul baik di lembaga formal maupun nonformal. Salah satu yang sangat menarik dari beberapa istilah pendidikan yang muncul belakangan adalah pendidikan literasi, pendidikan literasi diharapkan mampu menjawab persoalan yang muncul akibat rendahnya minat baca peserta didik. Survei UNESCO pada 2012 menyebutkan Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.[1]

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu: perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.[2] Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.[3]

Hasil riset berbeda juga ditunjukan Proggramme for International Student Assesment (PISA) tentang literasi matematika, membaca, dan sains, skor literasi membaca di awal mengikuti tes PISA 371 dan mengalami peningkatan 382 (tahun 2003), 393 (tahun 2006), dan 402 (tahun 2009), kemudian terus mengalami penurunan 396 (tahun 2012), 397 (tahun 2015) dan titik terendah 371 (tahun 2018), sedangkan menurut PISA kemampuan baca negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018 berada dirata-rata angka 487, peringkat pertama diraih China (skor 555), kemudian diikuti Singapura (549), dan Makau (525).[4]

Pendidikan literasi menjadi penting karena kemampuan literasi menjadi salah satu kecakapan yang harus dikuasi untuk menghadapi abad XXI. Sebagaimana laporan yang dikeluarkan oleh Forum Ekonomi Dunia World Economic Forum (WEF) pada 2015 mengenai keterampilan yang harus dimiliki untuk menghadapi abad XXI. Keterampilan itu mencakup literasi, kompetensi, dan karakter.[5]

Menurut WEF, tidak hanya pendidikan literasi namun karakter dan kompetensi juga dingaggap penting. Salah satu aspek kompetensi abad XXI menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendy khususnya di era industri revolusi 4.0 adalah berpikir kritis (critical thinking).[6] Menurut Larsson (2017) Berpikir kritis dapat diartikan sebagai upaya seseorang untuk memeriksa kebenaran dari suatu informasi menggunakan ketersediaan bukti, logika, dan kesadaran akan bias.[7] Mengingat kondisi sosial yang semakin kompleks dan kemajuan teknologi informasi, mendorong derasnya pertukaran informasi yang belum terverifikasi. Tidak terverifikasinya pertukaran informasi berdampak terhadap munculnya berbagai persoalan. Menurut Al-Walidah (2017) ketidak mampuan masyarakat untuk mengkritisi kebenaran informasi yang diperoleh berdampak terhadap problematika sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu contohnya, pada tahun 2018 masyarakat sempat ditimpa kekhawatiran dan resah oleh adanya informasi palsu yang menyebar luas tentang kebangkitan PKI yang sebenarnya bukanlah isu baru, tapi isu ini menjadi makin viral di tahun 2018, seiring dengan dinamika politik Indonesia. Beberapa kejadian seolah dikaitkan dengan kebangkitan PKI. Pada awal 2018 terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai atau tokoh agama. Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.[8] Kondisi ini menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Agar masyarakat dapat objektif menerima informasi yang diperoleh, kritisisme menjadi penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja, selain itu ia memberi ruang untuk memeriksa dan menolak kebohongan yang mungkin berada di dalamnya.

Seseorang tidak memiliki keterampilan literasi dan critical thinking ini sejak lahir, melainkan keterampilan ini diperoleh dari proses latihan, belajar, atau pengalaman. Penyiapan sumber daya manusia yang menguasai keterampilan abad XXI terutama literasi dan critical thinking akan efektif jika ditempuh melalui jalur pendidikan. Perubahan kurikulum telah dilakukan oleh pemerintah, pada jenjang sekolah menengah ke bawah telah diterapkan kurikulum 2013 dengan berbagai perbaikannya, kurikulum 2013 sesungguhnya telah mengakomodasi keterampilan abad XXI, baik dilihat dari standar isi, standar proses, maupun standar penilaian. Pada standar proses, terbukti menurut Anik Twin (2018) literasi dalam pendekatan scientific approach tersirat dalam skenario pembelajaran, skenario pembelajaran yang diharapkan berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan penilaian hasil belajar berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills).[9] Sejatinya pendidikan literasi dan critical thinking dapat ditemukan penerapannya dihampir semua bidang pendidikan tanpa terkecuali pendidikan di pondok pesantren. Pendidikan di pondok pesantren yang sumber utama pembelajarannya adalah kitab kuning[10] mempunyai metode pembelajaran khas dalam mengkaji kitab kuning. Metode pembelajaran yang berjalan di pesantren sampai saat ini adalah metode sorogan,[11] metode wetonan atau bandongan,[12] dan metode musyawarah.[13]      

            Menurut Lailatul Fitriyah dkk (2019) metode sorogan, pesetra didik hanya dilatih untuk membaca sebuah kitab yang ia maknai dengan tujuan untuk membenarkan bacaannya, pada metode bandongan, peserta didik hanya dilatih untuk menyimak apa yang guru bacakan sambil memberi makna, sedangkan metode musyawarah, tidak  hanya melatih peserta didik membaca dan menyimak, akan tetapi diperlukan argumentasi atas pendapat yang disampaikan.[14] Argumentasi yang dibangun diperoleh dari literasi membaca dan berfikir kritis, dalam hal ini membaca teks kitab kuning. Kemampuan membaca teks yang baik memungkinkan untuk membaca beragam referensi kitab kuning yang menjadi rujukan dalam musyawarah. 

            Hal senada juga dinyatakan oleh Hafidz Muftisany (2016) menurutnya, metode sorogan dan bandongan pada intiya sama-sama memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat dalam pengajaran kitab kuning. Namun, kedua metode tersebut dianggap tidak cukup efektif untuk mengembangkan nalar kritis peserta didik karena sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk mempertanyakan kebenaran materi yang dipelajarinya.[15] Berbeda dengan metode musyawarah, menurut Rakhmawati (2016) metode musyawarah melatih para santri lebih aktif pada pendalaman kajian dan pemecahan solusi atas permasalahan yang terjadi, sebagai suatu tanggapan para santri menjawab dengan merujuk pada referensi kitab kuning pesantren.[16]

            Sedangkan menurut Dhofier, dalam musyawarah para santri harus belajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[17] Sementara untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, tentunya dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning sebagai rujukan pembahasan masalah.

            Berbagai pendapat diatas menjadi alasan bahwa metode musyawarah ini layak untuk diteliti lebih lanjut terkait baigamana perannya dalam membentuk peserta didik yang literat dan mampu berfikir kritis (critical thinking). Pembelajaran kitab kuning yang notabennya menggunakan metode musyawarah dianggap memiliki kualitas yang baik. Terbuktik menurut Dhofier, santri yang telah menyelesaikan kelas musyawarah di pesantren Tebuireng akhirnya menjadi ulama besar yang dapat mengembangkan pesantren-pesantren besar. Namun pada saat itu santri yang dapat mengikuti musyawarah sangat sedikit karena seleksinya sangat ketat.[18] Diantara santri yang menjadi ulama besar setelah menyelesaikan kelas musyawarah yaitu kyai Manaf Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo Kediri, KH Jazuli pendiri pesantren Ploso Kediri, dan kyai Zuber pendiri Pesantren Resosari di Salatiga.[19] Dan masing-masing memiliki santri lebih dari 1.000 orang yang datang dari daerah jauh.[20]

Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy adalah salah satu dari pesantren yang masih kental dengan metode musyawarahnya. Metode musyawarah yang diterapkan di pesantren tersebut sebenarnya sudah menjadi tradisi yang mengakar sejak asal pendiriannya, pelaksanaan musyawarah di Pesantren Kebon Jambu memiliki beberapa sistematika pelaksanaan hingga pada perkembangannya mengalami berbagai modifikasi agar bernilai maksimal. Adapun musyawarah yang berjalan sampai saat ini adalah musyawarah harian, mingguan, bulanan, tahunan dan musyawarah sewilayah tiga Cirebon.[21]

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu?

 

 

 

B.  Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah

1.    Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

a.    Pendidikan literasi diharapkan mampu menjawab persoalan yang muncul akibat rendahnya minat baca peserta didik.

b.    Berfikir kritis (critical thinking) menjadi penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja.

c.    Literasi dan critical thinking menjadi salah satu kecakapan yang harus dikuasi untuk menghadapi abad XXI.

2.    Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengetahui kualitas dari pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah kajian kitab kuning berbasis musyawarah.

C.  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penelitian ini secara umum ingin mengungkap pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.

 

Adapun secara terperinci penelitian ini ingin memfokuskan pada hal-hal sebagai berikut:

1.    Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan literasi sanri ?

2.    Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan critical thinking santri ?

3.    Apakah keterampilan literasi kitab kuning berpengaruh pada keterampilan critical thinking santri ?

D.  Tujuan Penelitian

Signifikansi masalah yang dirumuskan di atas memiliki tujuan sebagai berikut: 

1.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatan keterampilan literasi sanri.

2.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatkan keterampilan critical thinking santri.

3.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi kitab kuning terhadap keterampilan critical thinking santri.

E.  Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, diantaranya:

1.    Hasil dari penelitian ini dapat menjadi landasan dalam penerapan atau pengembangan metode pembelajaran secara lebih lanjut. 

2.    Sebagai sumbangan karya ilmiah untuk memperkaya khasanah keilmuan khususnya di bidang pendidikan.

3.    Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memotivasi peneliti lain untuk mengungkapkan sisi lain yang belum diterangkan dalam penelitian ini.

F.   Penelitian Terdahulu

Untuk mendukung penelitian ini maka penulis menampilkan acuan penelitian yang relevan diantaranya adalah :

Rani Rakhmawati.[22] Jurnal. ”Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur”. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup pendidikan pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dengan penyajian pelestarian kitab kuning. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan syawir adalah sebagai suatu usaha untuk menjaga, melestarikan khazanah ke-ilmuan pesantren yang khas dengan cirinya kitab kuning sekaligus menjadi suatu bekal yang mewadahi da’wah, syiar agama di tengah-tengah perkembangan zaman, meski ada juga beberapa santri kurang bersemangat ketika mengikuti kegiatan syawir karena tingkat pemahaman terhadap kitab kuning masih belum maksimal.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini, Penulis akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam melestarikan khazanah keilmuan pesantren yang sudah di modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu, sehingga dapat meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri di Pesantren Kebon Jambu.

Fathur Rohman.[23] Jurnal.”Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang”. Jurnal ini, memberikan gambaran pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah fiqih dengan kegiatan musyawarah di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Dari hasil penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan musyawarah merupakan bentuk pembelajaran berbasis masalah fiqih dalam gaya pesantren. Dari segi prinsip, karakteristik, serta tahapan pembelajaran dalam kegiatan musyawarah telah sesuai dengan konsep pembelajaran berbasis masalah. Penelitian yang ditulis Fathur Rohman tersebut, menjelaskan model musyawarah telah memenuhi prinsip dan karakteristik pembelajaran berbasis masalah. Maka, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa musyawarah merupakan model pembelajaran fiqih berbasis masalah ala pesantren.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah yang sudah di modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Zaenuddin.[24]Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah Studi multi situs dengan kasus yang ada di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dan Hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung. Dari hasil penelitian yang ditulis Zaenuddin tersebut, hanya menjelaskan implenentasi metode diskusi atau musyawarah dan bandungan dalam meningkatkan kualitas santri dalam membaca kitab kuning.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Mohammad Sholeh.[25]“Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir  Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur”. Penelitian ini pada dasarnya untuk mendeskripsikan strategi dan metode musyawarah sebagai salah satu model dalam kajian kitab turath di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kajian kitab turath dengan menggunakan model musyawarah atau diskusi telah mempu membentuk tipologi berpikir santri, mulai dari kemampuan berpikir kritis, analitis, logis dan kreatif meski ada juga beberapa santri yang terkadang bersikap acuh tak acuh ketika mengikuti kegiatan musyawarah karena tingkat pemahaman terhadap kitab turath masih belum maksimal.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Pesantren Babakan Ciwaringin. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Merujuk kepada beberapa hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitaian yang dilakukan penulis memiliki perbedaan dengan penelitan-penelitian sebelumnya, walaupun secara umum sama-sama membahas tentang  tema metode Musyawarah di Pondok Pesantren, akan tetapi dari masing-masing penelitian yang disajikan di atas memiliki kontribusi yang berbeda sesuai dengan fokus penelitian yang dilakukan. Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah tentang pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon.

G. Kerangka Pemikiran

Metode musyawarah sistem pengajaran sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab dan merupakan latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik. Kemampaun literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar. Kemapuan critical thinking adalah kemampuan berargumentasi, kemampuan berargumen sendiri akan sangat berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat argumentasi yang dibuat.

Tabel 1.1

Skema kerangka berfikir

 

Metode Musyawarah

·      Argumen yang baik

·      Referensi kitab yang dapat dipertanggung jawabkan

·      Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan

·      Menerima pendapat orang lain dengan saling menghormati

 

 

Kemampuan Literasi

Kemampuan Critical Thinking

·      Mampu mengambil informasi.

·      Mampu membentuk pemahaman yang luas.

·      Mampu mengembangkan interpretasi.

·      Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

·      Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks.

 

·  Mampu merumuskan masalah

·  Mampu memberikan argumentasi

·  Mampu melakukan deduksi dan induksi

·  Mampu melakukan evaluasi

·  Mampu mengambil keputusan dan tindakan

 

Untuk menyamakan persepsi dan menghindari adanya perbedaan pemahaman beberapa istilah dalam penelitian ini, perlu adanya definisi dan batasan istilah yang akan dipilih dan digunakan oleh peneliti, sebagai berikut:

1.    Metode Musyawarah Kitab Kuning

a.      Definisi dan Indikataor Metode Musyawarah

Dhofier menyatakan bahwa musyawarah, sistem pengajaran sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab, biasanya hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab, dan merupakan latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik.[26]

Seringkali, pimpinan pesantren beberapa hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan sejumlah pertanyaan (masail diniyyah) bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari siding dijadwal mingguan. Hari-hari sebelum acara diskusi, peserta musyawarah biasanya menyelenggarakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah seorang juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan masalah yang disiapkan oleh Kyainya. Diskusi dalam kelas musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[27] Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[28] Adapun indikator metode musyawarah sebagai berikut:[29]

a.    Toleransi dalam menghadapi pendapat orang lain.

b.    Keberanian dalam mengungkapkan pendapat atau ide.

c.    Berpikir secara sistematis, argumentatif, objektif, rasional dan kritis.

d.   Mengembangkan wawasan secara lebih komprehensif.

e.    Kritis terhadap sesuatu pernyataan dan kesadaran membangun alternatifnya.

b.      Kitab kuning

Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. [30]

2.    Definisi dan Indikataor Kemampuan Literasi

Menurut Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[31] Adapun indikator literasi adalah sebagai berikut: [32]

1.    Kemampuan mengambil informasi.

2.    Kemampuan membentuk pemahaman yang luas.

3.    Kemampuan mengembangkan interpretasi.

4.    Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

5.    Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks.

3.    Kemampuan Critical Thinking

a.      Definisi dan Indikataor Critical Thinking

             Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan sebuah usaha yang dilakukan secara terorganisasi yang memahami dunia dengan hati-hati, melalui kegiatan menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang lain untuk memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu. Sejalan dengan pengertian ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan bahwa berfikir kritis senantiasa ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar, yakni analisis, evaluasi, dan argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan kata-kata kunci sebuah informasi dan merekonstruksi informasi tersebut, agar mampu menangkap makna secara utuh dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi berarti menilai kekuatan informasi atas dasar baik atau kurang baiknya argumen yang mendukung kesimpulan dalam informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti yang disajikan atas klaim yang disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau tanggapan yang diberika oleh seseorang pengkritik atas informasi yang diperolehnya.[33] Adapun indikator critical thinking adalah sebagai berikut: [34]

1.    Memformulasikan pertanyaan yang mengarahkan investigasi.

2.    Argumen sesuai dengan kebutuhan.

3.    Menunjukkan persamaan dan perbedaan.

4.    Mendeduksi secara logis.

5.    Menginterpretasi secara tepat.

6.    Menganalisis data.

7.    Membuat generalisasi.

8.    Menarik kesimpulan.

9.    Mengevaluasi berdasarkan fakta.

10.     Memberikan alternatif lain.

11.     Menentukan jalan keluar.

12.     Memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan.

b.      Santri

Menurut Nurcholish Majid, dalam Yasmadi, asal usul perkataan santri ada dua pendapat. Pertama berasal dari bahasa Sansakerta yaitu kata sastri yang artinya melek hurup. Kedua, kata santri berasal dari bahasa Jawa, yaitu Cantrik yang artinya seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi menetap.[35]

Berdasarkan indikator di atas, ketika beberapa indikator dari metode musyawarah kitab kuning tidak sesuai dengan indikator dari kemampuan literasi dan critical thinking maka disini ada masalah yang perlu dilakukan penelitian  agar dapat mengetahui pengaruh terhadap kemampuan literasi dan critical thinking. Maka untuk menjawab itu semua diperlukan adanya penelitian yang mendalam. Maka hal itu yang mendorong peneliti untuk mengetahui pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatkan kemampaun literasi dan critical thinking santri.

H.  Hipotesis

Adapun hipotesis positif dugaan atau jawaban sementara pada penelitian ini dapat penulis kemukakan bahwa:

1.      Terdapat pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu

2.      Terdapat pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu

3.      Terdapat pengaruh positif kemampuan literasi santri terhadap kemampuan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu

Adapun hipotesis positif atau dugaan sementara dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.      Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

2.      Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

3.      Jika kemampuan literasi santri memberikikan pengaruh terhadap kemampuan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

Maka hal tersebut di atas ada Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking, maka hipotesisnya diterima.

Adapun hipotesis negatif yang dapat peneliti kemukakan adalah sebagai berikut:

1.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

2.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

3.    Jika kemampuan literasi santri tidak memberikikan pengaruh terhadap kemampuan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

Maka hal tersebut di atas tidak ada Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking, maka hipotesisnya ditolak.

Dalam penelitian ini hipotesis statistiknya adalah:

1.    Hipotesis (Ha) : ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)

2.    Hipotesis (Ho) : tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)

I. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran pembahasan yang sistematis, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan dalam beberapa bab dan sub bab.

Bab Pertama, berisi pendahuluan. Dalam pendahuluan ini dikemukakan latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, kajian pustaka, bab ini menguarikan teori-teori tentang Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking.

Bab ketiga, akan diurai tentang metodologi penelitian, secara umum bab ini terdiri dari tempat dan waktu penelitian, profil pondok pesantren, metodologi penelitian, populasi dan sampel, intrumen penelitian, uji instrument, teknik analisis data dan uji hipotesis.

Bab keempat, akan dibahas tentang temuan dan pembahasan penelitian Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di pesantren kebon jambu.

Bab kelima, merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan Implikasi.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING

             

             

 

A.  Teori Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Terhadap Keterampilan Literasi Dan Critical Thinking

Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa. Sebagai mana yang dinyatakan oleh Slavin bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif[36] yang anggotanya empat orang atau lebih dengan struktur kelompok heterogen.[37]

Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivistik Piaget dan Vigotsky. Menurut sudut pandang teori konstruktivistik  Piaget lebih menekankan kepada kondisi individu, belajar yang baik yaitu ketika siswa aktif mencari informasi yang mereka perlukan dan sekaligus mencari pemecahan masalahnya sendiri.[38]  Sedangkan menurut Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap pada individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif.[39] Dengan demikian pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok siswa. Pernyataan Piaget dan Vigotsky tersebut sesuai apa yang dinyatakan oleh Dhofier bahwa dalam musyawarah para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[40] Menurut Lailatul Fitriyah dkk (2019) pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok belajar atau bisa disebut dengan musyawarah tersebut yang kemudian melatih keterampilan peserta didik mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Latihan menyimak terjadi ketika peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan oleh teman musyawarah yang lain, latihan berbicara terjadi ketika peserta didik menyampaikan argumentasinya dan latihan menulis terjadi ketika menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.[41] Sementara untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, tentunya dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning yang menjadi rujukan pembahasan masalah.

Pembelajaran menggunakan metode musyawarah guru diharapkan membentuk kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaranya sendiri dan teman-teman satu kelompoknya. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu anggota untuk mempelajarinya juga. Pembelajaran kooperatif mempunyai pendekatan pembelajaran diantaranya, STAD (Student Teams Achievement Divisions), kelas jigsaw, belajar bersama, investigasi kelompok, dan penulisan kooperatif.[42]

Pendekatan pembelajaran kooperatif pada metode musyawarah yang dipakai adalah belajar bersama, pendekatan belajar bersama diciptakan oleh David dan Roger Johnson (1994) pendekatan ini mengandung empat komponen: (1) interaksi tatap muka; (2) interdepedensi positif; (3) akuntabilitas individual; dan (4) pengembangan keahlian kelompok interpersonal. Jadi selain aspek prestasi seperti digagas Slavin, pendekatan pembejaran kooperatif Johnson ini juga difokuskan pada perkembangan sosial emosional dan interaksi kelompok. Dalam belajar bersama, murid bekerja dalam kelompok heterogen terdiri dari empat sampai lima anggota untuk menyelesaikan tugas yang menekankan pada diskusi dan team building.[43]

B.  Metode Musyawarah Kitab Kuning

1.    Pengertian Metode Musyawarah Kitab Kuning

              Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa arab metode disebut dengan Thariqat, Sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.[44]

   Pendidikan di pondok  pesantren mempunyai metode pembelajaran dalam mengkaji kitab kuning,[45] salah satunya adalah metode musyawarah. Metode musyawarah merupakan suatu istilah khas atau lokal bagi masyarakat pesantren dalam menyebut metode pembelajaran khas pengajian kitab kuning hingga saat ini. Musyawarah digunakan sebagai metode pembelajaran kitab kuning dengan variasi khusus bernuansa modern dalam keilmuan Islam. Mudaimullah mengatakan bahwa metode musyawarah adalah sebuah sistem belajar yang bersifat dialogis emansipatoris, yakni sistem yang menuntut anak didik menjadi subyek dalam belajar dan terlibat aktif serta bebas dalam berpikir, menganalisis, menyampaikan pendapat, berargumentasi dan berpolemik.[46]

Metode musyawarah atau dalam bahasa lain bahtsul masa’il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar, sebagai mana yang dikatakan oleh Dhofier bahwa musyawarah, sistem pengajaran sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab, biasanya hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab, dan merupakan latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik.[47]

Seringkali, pimpinan pesantren beberapa hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan sejumlah pertanyaan (masail diniyyah) bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari siding dijadwal mingguan. Hari-hari sebelum acara diskusi, peserta musyawarah biasanya menyelenggarakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah seorang juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan masalah yang disiapkan oleh kyainya. Diskusi dalam kelas musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[48] Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[49]

2.    Komponen Metode Musyawarah Kitab Kuning

              Pada setiap musyawarah yang dilakukan oleh para santri tidak bisa dilepaskan dari dari lima komponen utama. Masing-masing komponen bekerja sama dalam mensukseskan jalannya kegiatan musyawarah. Komponen-komponen tersebut adalah:[50]

a.    Moderator

              Moderator adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin jalannya kegiatan musyawarah. Seorang moderator diharuskan orang yang benar-benar memiliki kecakapan berdiskusi sekaligus mempunyai ilmu yang cukup terhadap persoalan yang dibahas. Sebab tugas moderator tidak hanya sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi juga harus bisa memahami, mengkordinir dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh peserta musyawarah.

b.    Notulen

              Notulen adalah seseorang yang bertugas menulis semua hasil musyawarah dan ta’bir yang dipakai oleh para peserta dan musahih. Hasil catatan dari notulen selanjutnya diarsip untuk keperluan dokumentasi.

c.    Peserta

              Peserta adalah orang-orang yang terlibat dalam musyawarah. Sebelum pelaksanaan musyawarah para peserta telah disodori persoalan yang akan dibahas dalam musyawarah beberapa hari sebelumnya. Karena itu, dalam pelaksanaan musyawarah para peserta biasanya membawa sebanyak mungkin referensi untuk dijadikan sumber argumentasi.

d.   Perumus

              Perumus adalah seseorang yang bertugas merangkum berbagai jawaban dan argumentasi yang telah disampaikan dalam musyawarah. Perumus bertugas meredaksikan keputusan musyawarah dalam redaksi yang sederhana sehingga dapat difahami oleh semua pihak. Perumus juga berkewajiban memilih argumentasi yang sangat relevan dari sekian ta’bir/dalil yang dikemukakan peserta.

e.    Pentashih

              Pentashih adalah seseorang yang diposisikan sebagai pengarah. Posisi pentashih dalam musyawarah  sangat strategis, sebab mereka menjadi pihak yang mempunyai otoritas memutuskan hasil kajian dalam musyawarah. Karena strategisnya posisi pentashih, maka mereka yang menduduki posisi ini dipersyaratkan memiliki keilmuan yang mumpuni dan diatas rata-rata. Biasanya posisi ini diduduki oleh para kyai, para ustadz dan santri senior, bergantung level musyawarah yang diselenggarakan.

3.    Metodologi Pegambilan Keputusan Metode Musyawarah

Sistem pengambilan keputusan dalam musyawarah dibuat dalam kerangka bermazhab kepada salah satu mazhab empat yang disepakati dan mengutamakan bermazhab secara qauli (mengikuti pendapat-pendapat yang sudah jadi) dalam lingkup mazhab tertentu. Oleh karena itu, prosedur pengambian jawaban masalah dalam musyawarah disusun dalam urutan sebagai

berikut:[51]

a.    Keputusan musyawarah bersumber dari kitab-kitab Madhahib al-Arba'ah. Diluar Madhahib al-Arba’ah. tidak boleh dipakai sebab madzhab-madzhab diluar itu belum pernah dibukukan, namun untuk permasalahan-permasalahan yang bisa ditemukan syarat dan rukunnya boleh diikuti meskipun diluar Madhahib al-Arba’ah.

b.    Dalam kasus tidak ada satu qaul/wajah/pendapat sama sekali yang memberikan penyelesaian, maka dilakukan ilhaq al-masa’il binaza’iriha. Namun untuk orang-orang yang sudah mencapai derajat faqih (ahli bidang fikih) diperbolehkan menggunakan metode ilhaq dengan syarat masalah-masalah yang diilhaqkan bukan masalah-masalah yang termasuk kategori sulit (membutuhkan pemikiran yang panjang untuk menemukan titik persamaannya). Begitu pula seorang faqih  diperbolehkan memakai kaidah-kaidah mazhab yang bersifat umum.

c.    Tidak boleh menggunakan ta'bir  berupa ayat-ayat al-Qur'an atau hadis yang masih mentah, tanpa interpretrasi dari para ulama yang memenuhi kriteria mufassir. Jika memakai ta'bir dari al-Qur'an atau hadis, maka harus disertai penjelasan dari para ulama mengenai ayat-ayat atau hadis tersebut.

d.   Jika memakai mazhab diluar Syafi'i supaya dijelaskan syarat dan rukun yang berkaitan dengan masalah tersebut menurut mazhab yang bersangkutan. Karena termasuk salah satu persyaratan taqlid. Yaitu harus mengetahui syarat, rukun, dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan mazhab yang diikuti.

e.    Menurut ulama fikih sosial dan juga keputusan Nahdlatul Ulama, qaul da’if sebaiknya dipakai pegangan untuk memutuskan masalah-masalah yang sudah berlaku di masyarakat. Karena keputusan musyarawah bukan termasuk fatwa namun hanya sekedar irshad (memberi petunjuk). Dengan catatan qaul tersebut tidak sangat lemah.

f.     Teks-teks ahli fikih mengenai suatu permasalahan yang zahirnya terjadi takhalluf (perbedaan) dan tanafi’ (saling menafikan), jka masih mungkin dijami'-kan (dicarikan titik temu) maka wajib menjami'-kannya.

g.    Menurut qaul mu'tamad, pendapat-pendapat yang masih mutlak (tanpa ada qayyid) harus dipahami menurut kemutlakannya, meskipun ada sebagian ulama yang menentangnya.

h.    Dalam kasus ketika jawaban dicukupi oleh ‘ibarah kitab dan disana hanya terdapat satu wajah (pendapat ulama mazhab) maka dipakailah qaul/wajah tersebut sebagaimana diterangkan dalam ‘ibarah tersebut.

Prosedur pemilihan qaul/wajah dilakukan sebagai berikut:

a.    Ketika dijumpai beberapa qaul/wajah dalam satu masalah yang sama, maka diusahakan memilih salah satu pendapat.

b.    Pemilihan salah satu pendapat dilakukan dengan cara mengambil pendapat yang lebih maslahah (baik) atau yang lebih kuat.

4.    Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning

Untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode musyawarah, kiyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[52]

a.    Peserta musyawarah adalah para santri yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.

b.    Peserta musyawarah tidak memiliki perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi kegagalan dalam musyawarah.

c.    Topik atau persoalan (materi) yang dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kiyai atau ustaz pada pertemuan sebelumnya.

d.   Pada beberapa pesantren yang memiliki santri tingkat tinggi, musyawarah dapat dilakukan secara terjadwal sebagai latihan untuk para santri.

Kegiatan musyawarah diawali dengan penyajian masalah oleh nara sumber yang menguasai persoalan yang diangkat. Setelah nara sumber menyajikan masalah yang sebenarnya, moderator mempersilahkan peserta untuk membahas dan memberikan pendapatnya disertai dengan argumen-argumennya masing-masing, dimana setiap pendapat harus dilengkapi dengan argumen dari pendapat lain. Argumen yang diutarakan diambil dari kitab-kitab kuning yang mereka pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan akhir dan akan dirumuskan oleh tim perumus atau musohih untuk kemudian disahkan oleh majlis tashih (majlis pengesahan).[53]

e.       Indikator Metode Musyawarah

Indikator pencapaian metode musyawarah kitab kuning antara lain sebagai berikut:[54]

f.     Toleransi dalam menghadapi pendapat orang lain.

g.    Keberanian dalam mengungkapkan pendapat atau ide.

h.    Berpikir secara sistematis, argumentatif, objektif, rasional dan kritis.

i.      Mengembangkan wawasan secara lebih komprehensif.

j.      Mengasah daya kritik terhadap sesuatu pernyataan dan kesadaran membangun alternatifnya.

C.  Literasi

1.    Pengertian Literasi

Literasi yang dalam bahasa Inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin yaitu litera (huruf) yang pengertiannya melibatkan pengertian sistem-sistem tulisan konvensi-konvensi yang menyertainya, literasi juga sering diartikan sebagai keaksaraan.[55] Jika dilihat dari makna harfiah, menurut Adibah dkk (2018) literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Seringkali orang yang bisa membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut iliterat atau buta aksara.[56] Sedangkan menurut Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[57]

Selain itu, Kern berpendapat bahwa secara sempit literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis yang juga berkaitan dengan pembiasaan dalam membaca dan mengapresiasikan sastra (literatur) serta melakukan penilaian terhadapnya, akan tetapi literasi secara luas berkaitan dengan kemampuan berpikir dan belajar seumur hidup untuk bertahan dalam lingkungan sosial dan budayanya.

Sementara McKenn dan Robinson menjelaskan bahwa literasi dalam membaca adalah medium bagi individu untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya sehingga berhubungan erat dengan kemampuan menulis dalam lingkungan sosial, terutama di tempat kerja dan lingkungan tempat tinggal.

Sedangkan, Kirsch juga mengemukakan bahwa literasi pada dasarnya adalah kemampuan “using printed and written information fo function in society, to achieve one’s goals, and to develop ones’s knowledge and potential.” Pengertian ini merupakan pengembangan dari definisi The National Literacy Act di Amerika Serikat tahun 1991 yang menerangkan bahwa literasi sebagai “an individual’s ability to read, write, and speak in English and compute and solve problems at levels of proficiency necessary to function on the job and in society, to achieve one’s goals, and to develop one’s knowledge and potential.”[58]

Pada perkembangannya, menurut Yunus Abidin dkk (2018) literasi dimaknai sebagai suatu kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.[59] Sedangkan menurut Evelyn Williams English, literasi diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan memecahkan masalah.[60] Dalam konsep literasi, membaca diartikan sebagai usaha untuk memahami, menggunakan, merefleksi, dan melibatkan berbagai jenis teks untuk mencapai tujuan .[61] Dalam hal ini, membaca bertujuan mengembangkan pengetahuan dan potensi seseorang, serta untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Berdasarkan definisi ini, membaca diartikan sebagai kegiatan membangun makna, menggunakan informasi dari bacaan secara langsung dalam kehidupan dan mengaitkan informasi dari teks dengan pengalaman pembaca.

Jadi literasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan keterampilan tertentu, yang diperlukan untuk menyimpan serta mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan. Karena literasi merupakan peristiwa sosial, maka tradisi literasi bisa diamati dari aktifitas pribadi seseorang, oleh karenanya ketika berbicara tradisi literasi juga berkaitan erat dengan pendidikan, kecendekiawanan dan status sosial seseorang.[62]

Beberapa abad yang lampau, literasi secara umum memang hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis melalui aksara, literasi dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan semata. Ini membuktikan bahwa kompetensi apa yang dibutuhkan bagi insan untuk hidup dan berbudaya pada masanya. Dengan demikian, peradaban atau kehidupan dimasa lalu memang mengutamakan dan membutuhkan kompetensi membaca dan menulis, karena merupakan simbol pendidikan dasar atau umum pada masa tersebut, dan selajutnya dapat mencapai predikat sebagai masyarakat yang berperadaban.[63]

2.    Jenis-Jenis Literasi

Menurut Ibnu Adji Setyawan[64] istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap merujuk pada kemampuan atau kompetensi dasar literasi yakni kemampuan membaca serta menulis. Intinya, hal yang paling penting dari istilah literasi adalah bebas buta aksara supaya bisa memahami semua konsep secara fungsional, sedangkan cara untuk mendapatkan kemampuan literasi ini adalah dengan melalui pendidikan. Sejauh ini, terdapat 9 macam literasi, antara lain :

1.      Literasi Kesehatan merupakan kemampuan untuk memperoleh, mengolah serta memahami informasi dasar mengenai kesehatan serta layananlayanan apa saja yang diperlukan di dalam membuat keputusan kesehatan yang tepat.

2.      Literasi Finansial yakni kemampuan di dalam membuat penilaian terhadap informasi serta keputusan yang efektif pada penggunaan dan juga pengelolaan uang, dimana kemampuan yang dimaksud mencakup berbagai hal yang ada kaitannya dengan bidang keuangan.

3.      Literasi Digital merupakan kemampuan dasar secara teknis untuk menjalankan komputer serta internet, yang ditambah dengan memahami serta mampu berpikir kritis dan juga melakukan evaluasi pada media digital dan bisa merancang konten komunikasi.

4.      Literasi Data merupakan kemampuan untuk mendapatkan informasi dari data, lebih tepatnya kemampuan untuk memahami kompleksitas analisis data.

5.      Literasi Kritikal merupakan suatu pendekatan instruksional yang menganjurkan untuk adopsi perspektif secara kritis terhadap teks, atau dengan kata lain, jenis literasi yang satu ini bisa kita pahami sebagai kemampuan untuk mendorong para pembaca supaya bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang menjadi dasar argumentasi teks.

6.      Literasi Visual adalah kemampuan untuk menafsirkan, menciptakan dan menegosiasikan makna dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual bisa juga kita artikan sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar.

7.      Literasi Teknologi adalah kemampuan seseorang untuk bekerja secara independen maupun bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jaab dan tepat dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi.

8.      Literasi Statistik adalah kemampuan untuk memahami statistik. Pemahaman mengenai ini memang diperlukan oleh masyarakat supaya bisa memahami materi-materi yang dipublikasikan oleh media.

9.      Literasi Informasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang di dalam mengenali kapankah suatu informasi diperlukan dan kemampuan untuk menemukan serta mengevaluasi, kemudian menggunakannya secara efektif dan mampu mengkomunikasikan informasi yang dimaksud dalam berbagai format yang jelas dan mudah dipahami.

Sedangkan menurut Ferguson,[65] literasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

1.    Literasi Dasar (Basic Literacy), literasi jenis ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

2.    Literasi Perpustakaan (Library Literacy), lebih lanjut, setelah memiliki kemampuan dasar maka literasi perpustakaan untuk mengoptimalkan literasi perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah. 

3.    Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan. 

4.    Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

5.    Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Sesuai uraian di atas kiranya dapat ditarik benang merahnya bahwa jenis-jenis literasi pada dasarnya mencakup aspek-aspek perkembangan baik terkait dengan teknologi, informasi, elektronik, kesehatan, dan lain sebagainya. Semuanya bermuara pada bagaimana mengembangkan potensi individu untuk lebih tertarik dalam proses pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.

3.    Tingkatan Literasi

Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki tingkatan-tingkatan yang menanjak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya. Wells (1987) menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu: performative, functional, informational, dan epistemic. Orang yang tingkat literasinya berada pada tingkat performative, ia mampu membaca dan menulis, serta berbicara dengansimbol-simbol yang digunakan (bahasa). Pada tingkat functional orang diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku manual. Pada tingkat informational orang diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasa. Sementara pada tingkat epistemic orang dapat mentransformasikan pengetahuan dalam bahasa.[66]

Dengan demikian tingkatan literasi dimulai dari tingkatan paling bawah yaitu performative, functional, informational, dan epistemic.

 

 

4.    Prinsip dan Tujuan Literasi

Kern dalam buku mutu pendidikan yang dikutip oleh Hayat & Yusuf (2010) mengatakan bahwa terdapat tujuh prinsip pendidikan berbasis literasi, yaitu:[67]

1.    Literasi berhubungan dengan kegiatan interpretasi.

Kegiatan berbahasa pada dasarnya adalah kegiatan interpretasi terhadap realita yang dihadapi dan realita itu ditafsirkan ke dalam penggunaan bahasa. Ketika membaca, sebenarnya kita sedang menginterpretasikan tulisan yang kita baca. Dalam hal ini, latihan menggunakan bahasa adalah latihan untuk mendorong siswa melakukan kegiatan interpretasi. Berbagai bentuk latihan dapat dirancang agar siswa dapat menggunakan bahasanya secara imajinatif, baik dengan cara menceritakan kembali apa yang sudah dibacanya maupun dengan menerka kalimat-kalimat yang sudah dihilangkan sebagian.

2.    Literasi berarti juga kolaborasi.

Kolaborasi atau kerja sama dalam  kegiatan belajar bahasa adalah tahap penting dalam proses belajar bahasa. Bekerja berpasangan dengan teman atau bahkan dengan gurunya sendiri harus didorong agar siswa memperoleh kepercayaan diri sebelum dapat menggunakan bahasanya secara mandiri. Berbagai bentuk kerja sama ini dapat diciptakan dalam keempat keterampilan bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam bekerja sama ini siswa didorong untuk berhati-hati menggunakan bahasanya, bergantung dengan siapa ia berkolaborasi. Ini adalah bagian dari latihan penggunaan bahasa.

3.    Literasi juga menggunakan konvensi.

Konvensi adalah kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam budaya dan tercermin dalam berbagai aspek bahasa yang dipelajari. Belajar bahasa juga berarti belajar menyesuaikan diri pada konvensi-konvensi baru yang ada di dalam bahasa tersebut, termasuk struktur teks, misalnya surat undangan resepsi dalam bahasa Inggris cenderung lebih sederhana dan to the point tanpa banyak basa basi. Termasuk dalam konvensi ini adalah penggunaan tanda baca atau punctuation yang merupakan indikator penting dalam kemampuan menulis.

4.    Literasi melibatkan pengetahuan budaya.

Penerapan konvensi yang benar tersebut lebih banyak didasarkan pada pengetahuan budaya. Penggunaan bahasa tanpa mengindahkan nilai-nilai budaya dapat menyebabkan salah pengertian atau bahkan ketersinggungan. Termasuk dalam pengetahuan budaya ini adalah bahasa tubuh atau bahasa isyarat (gestures) dalam pergaulan sehari-hari yang sering kali bertolak belakang maksud dalam berbagai budaya.

 

 

5.    Literasi juga menggunakan konvensi.

Konvensi adalah kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam budaya dan tercermin dalam berbagai aspek bahasa yang dipelajari. Belajar bahasa juga berarti belajar menyesuaikan diri pada konvensi-konvensi baru yang ada di dalam bahasa tersebut, termasuk struktur teks, misalnya surat undangan resepsi dalam bahasa Inggris cenderung lebih sederhana dan to the point tanpa banyak basa basi. Termasuk dalam konvensi ini adalah penggunaan tanda baca atau punctuation yang merupakan indikator penting dalam kemampuan menulis.

6.    Literasi melibatkan pengetahuan budaya.

Penerapan konvensi yang benar tersebut lebih banyak didasarkan pada pengetahuan budaya. Penggunaan bahasa tanpa mengindahkan nilai-nilai budaya dapat menyebabkan salah pengertian atau bahkan ketersinggungan. Termasuk dalam pengetahuan budaya ini adalah bahasa tubuh atau bahasa isyarat (gestures) dalam pergaulan sehari-hari yang sering kali bertolak belakang maksud dalam berbagai budaya.

7.    Literasi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah.

Kegiatan belajar mengajar dalam pendekatan ini disarankan melibatkan proses berpikir untuk memecahkan masalah. Setiap orang yang melakukan suatu tindak bahasa, misalnya berbicara, pada dasarnya ia sedang memecahkan masalah tentang topik yang harus dibicarakan, cara mengungkapkannya dan cara memilih kosakata sesuai dengan target audiences-nya. Dalam kegiatan membaca pun kita pada dasarnya dipaksa untuk menemukan hubungan antarmakna dalam upaya memahami gagasan atau pendapat penulisnya.

8.    Literasi adalah kegiatan refleksi.

Refleksi adalah kegiatan menilai penggunaan bahasa dirinya sendiri dan penggunaan bahasa orang lain yang menjadi lawan bicaranya. Secara tidak sadar, ketika kita bercakap-cakap dengan orang lain, kita memperhatikan cara lawan bicara kira menggunakan bahasanya dan melakukan penilaian. Apabila peggunaan bahasa itu baik, biasanya kita juga ikut menggunakannya, baik ungkapan, kalimat, frasa maupun kosakatanya.

9.    Literasi adalah kemampuan menggunakan bahasa lisan dan tulis untuk menciptakan wacana.

Seseorang dikatakan telah memiliki tingkat literasi yang baik apabila ia dapat meningkatkan kemampuan lisan (oracy) menuju ke arah kemampuan menangani teks tertulis (literacy). Tingkat literasi ini juga berhubungan dengan keterampilan hidup (life skills) yaitu kemampuan untuk menggunakan orasi dan literasinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengisi formulir di sekolah, mengisi formulir pengiriman uang di bank, membuat lamaran kerja, menulis undangan pesta ulang tahun dan sebagainya.

      Adapun tujuan dari literasi itu sendiri menurut The United Nations (2012)[68] yaitu:

1.  Membuat kemajuan yang signifikan diantara memenuhi kebutuhan belajar dari remaja dan dewasa, meningkatkan tingkat melek huruf sebesar 50% dan mencapai kesetaraan gender.

2.  Memungkinkan semua peserta didik untuk mencapai tingkat penguasaan dalam membaca dan keterampilan hidup.

3.  Menciptakan lingkungan literasi yang berkelanjutan dan diperluas.

 

4.  Meningkatkan kualitas hidup.

5.    Keterampilan Literasi

Menurut National Center for Education Statistics (NCES, 2017)[69] terdapat tujuh kunci dasar dalam literasi, yaitu:

a.       Text search skills Searching text efficiently (keterampilan mencari teks. Mencari teks secara efisien).

b.      Basic reading Decoding and recognizing word fluently (dasar-dasar membaca. Menemukan dan mengucapkan dengan lancar).

c.       Language skills Understanding the structure and meaning of senteces as well as the relationship among senteces. (Keterampilan bahasa. Memahami struktur dan maksud kalimat yang berhubungan dengan kalimat lainnya).

d.      Inferential skills Drawing appropriate text based inferences. (Keterampilan    inferense. Menggambar teks yang sesuai berdasarka inferense).

e.       Application skills Applying newly searched, inferred, or computed information to accomplish a variety af goals. (Keterampilan aplikasi. Menerapkan hal baru dengan teliti, disimpulkan, atau informasi dihitung untuk menyelesaikan berbagai tujuan).

f.       Computation identification skills Identifying the calculations required to solve quantitative problems. (Keterampilan mengidentifikasi perhitungan. Mengidentifikasi perhitungan- perhitungan yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan kuantitatif).

g.      Computation performance skills Performing any required calculation (by hand or with a calculator). (Keterampilan keahlian perhitungan. Keahlian melakukan perhitungan yang diperlukan dengan tangan atau menggunakan mesin kalkulator).

6.    Asas Dasar Penilaian Literasi

Asas dasar penilaian literasi matematika, literasi sains, literasi membaca, maupun literasi menulis menurut Yunus Abidin dkk (2018) adalah:[70]

a.    Berfikir kritis

Konsep berfikir kritis sebenarnya bukanlah konsep baru. Dewey telah memperkenalkan konsep berfikir reflektif sebagai padanan konsep berfikir kritis. Dalam pandangannya, berfikir kritis merupakan pertimbangan aktif, terus-menerus, dan teliti terhadap sebuah keyakinan atau pengetahuan yang diterima, berdasarkan alasan yang mendukungnya dan kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.

b.    Berfikir kreatif

                 Keterampilan berpikir kedua yang menjadi standar penilaian literasi adalah keterampilan berpikir kreatif. Secara umum, berpikir kreatif senantiasa dihubungkan dengan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Hal ini dipahami karena berpikir kritis juga memiliki hasil akhir berupa argumen kuat atas sebuah informasi yang bersifat multiperspektif. Dalam konteks ini, argumen yang unik, kuat, dan baru menjadi argumen yang berfungsi menambah khazanah ilmu pengetahuan. Letak kreatif dalam hal ini adalah pada domain unik dan baru. Dengan alasan, sebuah pemikiran yang unik dan baru diyakini mengandung kadar kreativitas di dalamnya. Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah, pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara-cara nontradisional dan nonkonvensional dianggap sebagai pemecahan masalah yang baik. Dalam konteks ini, pemecahan masalah tersebut dapat pula dikatakan sebagai solusi yang mengandung kadar kreativitas.

c.    Berpikir pemecahan masalah

Keterampilan yang ketiga dalam penilaian literasi adalah keterampilan berpikir pemecahan masalah. Dewasa ini, kompetensi pemecahan masalah merupakan tujuan utama proses pendidikan berbagai negara di dunia. Hal ini sejalan dengan keyakinan bahwa pemerolehan dan peningkatan kompetensi pemecahan masalah menjadi dasar bagi siswa untuk belajar di masa depan, berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat, serta untuk melakukan berbagai kegiatan pribadinya. Dalam hal ini, siswa harus mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari ke dalam situasi baru yang akan dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kekuatan pemecahan masalah yang dimiliki siswa menjadi hal utama yang akan bermanfaat baginya, dalam menghadapi tantangan dalam hidup dimasa depan.

7.    Indikator Literasi

Ditinjau dari aspeknya, indikator literasi mengukur lima aspek sebagai berikut.

6.        Kemampuan mengambil informasi.

7.        Kemampuan membentuk pemahaman yang luas.

8.        Kemampuan mengembangkan interpretasi.

9.        Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

10.    Kemampuan merefleksikan äan mengevaluasi bentuk teks.

Kemampuan mengambil informasi yakni kemampuan mengambil informasi yang disajikan terpisah dalam teks. Kemampaun membentuk pemahaman yang luas dan mengembangkan interpretasi menghendaki pembaca untuk secara fokus membangun hubungan antar informasi dalam teks. Tugas ini mengharuskan pembaca untuk membentuk pemahaman yang luas, sekaligus mengembangkan interpretasi. Pada dasarnya, kemampuan ini adalah kemampuan pembaca untuk mengintegrasikan dan menginterpretasikan berbagai informasi dalam sebuah teks. Kemampuan merefleksi dan mengevaluasi isi teks, serta merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks, dikelompokkan bersama ke dalam kategori aspek merefleksi dan mengevaluasi. Keduanya membutuhkan pembaca untuk menarik pengetahuan di luar teks dan mengaitkannya dengan apa yang sedang dibaca. Merefleksikan dan mengevaluasi isi teks senantiasa berkenaan dengan substansi nosional teks, serta merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks berkenaan dengan struktur dan fitur formal sebuah teks.

 

 

 

 

 

 

D.  Berfikir Kritis (Critical Thinking)

1.    Pengertian Berfikir Kritis (Critical Thinking)

Realitas bagi pemikir sekuensial abstrak adalah dunia teori metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi.  Proses berpikir mereka logis, rasional dan intelektual.[71] Aktivitas favorit  pemikir  sekuensial  abstrak  adalah  membaca,  dan  jika  suatu  proyek perlu  diteliti,  mereka  akan  melakukannya  dengan  mendalam.  Mereka  ingin mengetahui  sebab-sebab  di  balik  akibat  dan memahami  teori  serta  konsep. Para pemikir sekuensial abstrak biasanya adalah filsuf-filsuf besar dan ilmuwan.[72]

Tipe berpikir ini memiliki kesamaan ciri dengan berpikir kritis. Yakni salah satu kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang yang berguna untuk meningkatkan kemampuan bernalar secara mendalam ketika menghadapi suatu permasalahan. Berfikir kritis menurut John Deway, berfikir kritis adalah pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional.[73]

Berdasarkan pengertian tersebut, dalam pandangan Dewey menjelaskan bahwa kata kunci berfikir kritis terletak pada kata aktif. Artinya, berfikir kritis merupakan proses aktif dalam memahami dan mengevaluasi sebuha informasi, dan tidak begitu saja menerima semua informasi tersebut. Kata kunci kedua terletak pada kata terus-menerus dan teliti, yakni berfikir kritis adalah proses memikirkan sesuatu secara mendalam sebelum membuat sebuah kesimpulan ataupan membauat kesimpulan akhir. Kata kunci berikutnya adalah alasan, kesimpulan, dan kecenderungan, yang menandakan bahwa konsep ini berfikir kritis adalah penalaran. Walaupan penalaran bukan satu-satunya aspek berfikir kritis, keterampilan bernalar diyakini sebagai elemen utama bagi terbentuknya keterampilan berfikir kritis.

Facione menyatakan bahwa mendefinisikan berfikir kritis sangat mudah, yakni berfikir kritis adalah kemampuan memberikan jawaban yang bukan bersifat hafalan. Berfikir kritis bukanlah mengingat kembali informasi yang diperoleh secara sederhana, serta bukan pula keterampilan berfikir yang tidak logis dan tidak rasional. Berfikir kritis adalah berfikir reaktif dan naluriah. Seseorang tidak berfikir kritis cenderung langsung membuat kesimpulan atas sebuah informasi yang sebenarnya belum jelas. Ia akan gagal mengenali bias informasi tersebut dan cenderung tidak mempertimbangkan berbagai perspektif yang mungkin ada. Seseorang yang kemampuan berfikir kritisnya rendah, akan mengalami kesulitan dalam  mengtasi masalah atau tantangan. Hal ini kareana gagal untuk memahami dan mengatur fakta-fakta penting dari sebuah situasi, merasa terganggu oleh informasi yang tidak penting, kurang tekun dalam memecahkan masalah dan merancang solusi yang bersifat samar-samar, serta tidak sesuai dengan situasi tertentu.[74]

Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan sebuah usaha yang dilakukan secara terorganisasi yang memahami dunia dengan hati-hati, melalui kegiatan menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang lain untuk memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu. Sejalan dengan pengertian ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan bahwa berfikir kritis senantiasa ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar, yakni analisis, evaluasi, dan argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan kata-kata kunci sebuah informasi dan merekonstruksi informasi tersebut, agar mampu menangkap makna secara utuh dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi berarti menilai kekuatan informasi atas dasar baik atau kurang baiknya argumen yang mendukung kesimpulan dalam informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti yang disajikan atas klaim yang disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau tanggapan yang diberika oleh seseorang pengkritik atas informasi yang diperolehnya.[75]

Berdasarkan ketiga aktivitas berfikir kritis diatas, dapat dikemukakan bahwa salah satu hal yang menjadi dasar kemampuan berfikir kritis adalah kemampuan berargumentasi. Kemampuan berargumen sendiri akan sangat berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat argumentasi yang dibuat. Bertemali dengan konsep ini, Harrison (2009) menyatakan bahwa argumen sangat berhubungan dengan kebenaran, kekuatan logika, dan hal-hal yang menguatkannya. Kebenaran merupakan bagian dari pernyataan, kekuatan logika merupakan bagian dari argumen (hubungan antara premis dan kesimpulan), dan hal-hal yang menguatkan merupakan properti menyeluruh atas semua argumen. Berdasarkan kenyataan ini, focus utama berfikir kritis pada dasarnya berkenaan dengan bagaimana sebuah argumen dibunyikan. Oleh sebab itu, keterampilan berfikir kritis lebih jauh sering dikaitkan dengan keterampilan menginterpretasi, keterampilan memverifikasi, dan keterampilan berlogika/bernalar.

Lebih jauh tentang keterkaitan antara berpikir kritis dan kemampuan berargumen, Rainbolt dan Dwyer menyatakan bahwa berpikir kritis adalah keterampilan mengevaluasi argumen-argumen yang dibuat orang lain dengan benar, serta membuat sendiri argumen-argumen yang baik dan benar. Berpikir kritis juga dapat dikatakan sebagai keterampilan membuat keputusan berdasarkan alasan yang baik dan benar. Keterampilan ini diperoleh melalui serangkaian proses merefleksi, menganalisis, dan mengevaluasi secara efektif berbagai isu atau masalah yang ditemukan dalam kehidupan. Melalui proses ini, akan diketahui alasan-alasan yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai premis, serta akan diperoleh keyakinan yang didukung alasan tersebut yang selanjutnya disebut sebagai sebuah simpulan.

Bertemali dengan tiga aktivitas dasar berpikir kritis, berpikir kritis dapat dipandang sebagai aktivitas berpikir secara analitis dan disengaja, serta melibatkan pemikiran alamiah. Berpikir kritis mempakan upaya mengolah pengetahuan untuk mengidentiükasi hubungan antara disiplin ilmu dalam rangka mencari solusi potensial kreatif, untuk memecahkan masalah tertentu. Seseorang pemikir kritis akan menggunakan kemampuan reflektifnya dalam mengambil keputusan dan bijaksana dalam memecahkan masalah melalui kemampuanya menganalisis situasi, mengevaluasi argumen, dan menarik kesimpulan yang tepat. Pemikir kritis memiliki gairah untuk mencari kebenarm bahkan ketika kebenaran tersebut bertentangan dengan keyakinan lama yang dipegangnya.

Selain sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman, berpikir kritis juga dilandasi oleh sikap dan perilaku seseorang. Bertemali dengan kenyataan ini‚ pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki sikap dan perilaku adil, berpikiran terbuka, analitis, reflektif, aktif, skeptis, dan bebas dari Pengaruh pihak lain (merdeka). Dalam konteks ini, pemikir kritis harus siap menerima kenyataan bahwa keyakinan yang dipegangnya selama ini bisa saja harus diubah dengan keyakinan baru. Pemikir kritis bukanlah seseorang yang mendebat segala sesuatu, melainkan hanya mengkritisi hal atau informasi yang tingkat kebenaran bukti dan faktanya rendah. Pemikir kritis adalah orang merdeka yang menyampaikan segala pandangannya dengan hanya berdasar pada pengetahuan dan pengalamannya, dan bukan berdasarkan atas pengaruh orang lain. Sejalan dengan kenyataan ini, berpikir kritis seyogianya tidaklah dilekati nilai rasa negatif, melainkan harus dimaknai dan nilai secara positif. Berpikir kritis adalah keterampilan mengevaluasi pengetahuan untuk secara kreatif mengembangkan pengetahuan baru sehingga keterampilan ini juga sering dipadankan dengan istilah keterampilan berpikir kritis-kreatif.

Lebih jauh, berpikir kritis adalah kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, memproses informasi ini secara kreatif dan logis, menantang dan mengevaluasi kebenaran informasi tersebut, menganalisis dan membuat kesimpulan akhir Yang dianggap dapat dipertahankan dan dibenarkan. Dalam tataran lain, berfikir kritis juga dapat diartikan sebagai keterampilan menganalisis situasi berdasarkan fakta atau peristiwa untuk membuat sebuah keputusan atau kesimpulan dengan mempertimbangkan faktor empati, sejarah, dan budaya. Berpikir kritis juga dapat dikatakan sebagai upaya memahami sebuah subjek, memikirkan kebenaran subjek tersebut, mengapresiasi subjek tersebut. memahami keunggulan dan kelemahannya, serta mengembangkan satu sudut pandang atas subjek tersebut.

Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, The Partnership for 21st Century Skills (Trilling dan Fadel, 2012) mengidentifikasi empat bidang keterampilan berpikir kritis, yakni (a) penalaran secara efektif, (b) penggunaan sistem berpikir‚ (C) pembuatan penilaian dan keputusan, serta (d) pemecahan masalah. Proses berpikir ini mengharuskan seseorang untuk meneliti berbagai sumber informasi dan mengidentifikasi informasi kunci yang relevan Pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, memiliki dedikasi yang baik dalam memahami keinginannya untuk mendapatkan informasi atau bukti yang dapat dipercaya, dan memiliki kemampuan menilai tujuan secara reflektif berdasarkan pertimbangan atas bukti tertentu. Untuk membuat keputusan dan mengevaluasi dampak dari tindakan yang dipilihnya, pemikir kritis menggunakan beberapa proses berpikir sekaligus.[76]

2.    Langkah-Langkah Dalam Berfikir Kritis

                 Sebagai sebuah keterampilan atau kecakapan, berpikir kritis tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat tanpa latihan atau pembiasaan. Karena berpikir kritis adalah sikap (attitude), kebiasaan (habit), keterampilan (skills), dan komitmen untuk terus mempertanyakan sesuatu, satu-satunya jalan untuk memiliki sikap demikian adalah dengan melatih diri dan terus mengembangkannya. Beberapa tahapan atau langkah di bawah ini diusulkan sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan bersiap kritis. Sekali lagi, langkah-langkah ini jangan sekadar dihafal tanpa mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.[77]

                 Dalam mengembangkan berpikir kritis, langkah-langkah berikut perlu dilakukan.

1)   Mengenali masalah. Pengenalan terhadap masalah merupakan langkah pertama untuk menunjukkan berpikir kritis. Jangan pernah menanggapi sesuatu, kalau Anda tidak pernah mengenal apa masalah utamanya. Seperti seorang dokter yang tidak mungkin mendiagnosa suatu penyakit tanpa mengenal dan mengerti gejala-gejala penyakit yang diderita pasien, demikian juga seorang yang berpikir kritis harus mengidentiükasi persoalan lebih dulu sebelum menarik kesimpulan atasnya.

2)   Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah. Setelah berhasil mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah mencari cara memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan yang lebih luas dan usaha kreatif untuk mencarinya adalah sesuatu yang penting untuk mendukung berpikir kritis.

3)   Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan untuk penyelesaian masalah. Seperti pengetahuan yang luas diperlukan dalam mengatasi masalah, demikian halnya informasi yang penting yang terkait dengan persoalan perlu dikumpulkan. Informasi yang cukup membuat seseorang mampu menilai sesuatu secara tepat dan akurat.

4)   Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. Artinya, seorang berpikir kritis perlu mengetahui maksud atau gagasan-gagasan di balik sesuatu yang tidak dinyatakan oleh orang lain. Di sini dituntut kemampuan analisis yang tajam.

5)   Menggunakan bahasa yang tepat, jelas, dan khas dalam membicarakan suatu persoalan atau suatu hal yang diterimanya. Istilah-istilah yang gunakan dalam menanggapi persoalan haruslah berkaitan dengan topik yang dibahas. Jangan menggunakan istilah yang sama sekali tidak terkait dengan pembahasan. Penggunaan istilah demikian akan mengaburkan persoalan dan menambah masalah baru.

6)   Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan.

7)   Mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan.

8)   Menarik kesimpulan-kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan sedang dibicarakan.

3.    Kemampuan Dasar Berfikir Kritis

Satu hal penting yang sangat ditekankan dalam berpikir kritis dan ini tampak terutama dalam pemikiran Edward Glaser maupun Richard W. Paul di atas adalah bahwa berpikir kritis menuntut dipenuhinya beberapa kemampuan dasar. Kemampuan-kemampuan dasar itu dapat diuraikan secara singkat di bawah ini.

1)        Kemampuan untuk menentukan dan mengambil posisi yang tepat dalam mendiskusikan atau menyoal sebuah isu. Artinya, kita harus menentukan posisi yang tepat terhadap sebuah permasalahan yang kita hadapi. Dengan kata lain, kita tidak boleh berada dalam posisi yang tidak jelas. Kita harus menempatkan diri pada tempat yang jelas. Jangan membiarkan diri bimbang dalam menentukan posisi.

2)        Pemikiran yang kita berikan harus relevan dengan topik yang sedang dibicarakan.

3)        Argumen yang kita sampaikan harus rasional. Dengan kata lain klaim harus bisa dipertanggung jawabkan secara rasional.

4)        Dengan alasan-alasan yang jelas, memutuskan untuk menerima atau menolak sebuah ke putusan atas klaim yang dibuat oleh orang lain.

5)        Keputusan tersebut harus datang dari dalam diri sendiri, dan bukan karena dipengaruhi oleh faktor-faktor luar.

4.    Komponen Berpikir Kritis

                          Brookfield mendefinisikan lima aspek dan empat komponen berpikir kritis. Menurutnya, berpikir kritis terdiri dari aspek-aspek, yaitu berpikir kritis adalah aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis adalah proses bukan hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya, berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir kritis, yaitu:[78]

1)        Identifikasi dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis.

2)        Menarik pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis.

3)        Pemikir kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif.

4)        Mengimajinasikan dan menggali alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.

5.    Karakteristik Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis, yang dapat membantu seorang individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis ini mempunyai karakteristik tertentu yang dapat dilakukan dan dipahami oleh masing-masing individu. Seifert dan Hoffnung menyebutkan beberapa komponen berpikir kritis, yaitu:[79]

1)   Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkahlangkah logis lainnya secara mental.

2)   Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.

3)   Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.

Sedangkan menurut Beyer Karakteristik berpikir kritis, dijelaskan secara lengkap sebagai berikut:[80]

1)   Watak (Dispositions), seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.

2)   Kriteria (Criteria), dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

3)   Argumen (Argument), argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

4)   Pertimbangan atau pemikiran (Reasoning), yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

5)   Sudut pandang (Point of view), sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

6)   Prosedur penerapan kriteria (Procedures for applying criteria), prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

6.      Indikator Berpikir Kritis (Critical Thinking)

Menurut Ennis dalam Costa, yang dikutif oleh Mohammad Soleh terdapat 12 indikator berpikir kritis yang terangkum dalam 5 kelompok keterampilan berpikir, yaitu memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification), membangun keterampilan dasar (basic support), menyimpulkan (interfence), membuat penjelasan lebih lanjut (advance clarification), serta strategi  dan taktik (strategy and tactics).[81]

Jika dijabarkan, kedua belas indikator tersebut adalah: 1) Merumuskan masalah; 2) Menganalisi argumen; 3) Menanyakan dan menjawab pertanyaan; 4) Menilai kredibilitas sumber informasi; 5) Melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi; 6) Membuat deduksi dan menilai deduksi; 7) Membuat induksi dan menilai induksi; 8) Mengevaluasi; 9) Mendefinisikan dan menilai definisi; 10) Mengidentifikasi asumsi; 11) Memutuskan dan melaksanakan; dan 12) Berinteraksi dengan orang lain.

Kuswana menjelaskan bahwa berpikir kritis merupakan analisis situasi masalah melalui evaluasi potensi, pemecahan masalah, dan sintesis informasi untuk menentukan keputusan.[82] Filsaine dan Kusnawa membuat indikator berpikir kritis menurut Ennis dalam bentuk tabel sebagai berikut:[83]

Tabel 2.1. Indikator Berpikir Kritis Ennis

Kompetensi Berpikir Kritis

Indikator-Indikator

Merumuskan masalah

1.                   

Memformulasikan pertanyaan yang mengarahkan investigasi.

Memberikan argumentasi

2.                   

Argumen sesuai dengan kebutuhan.

3.                   

Menunjukkan persamaan dan perbedaan.

Melakukan deduksi

4.                   

Mendeduksi secara logis.

5.                   

Menginterpretasi secara tepat.

Melakukan induksi

6.                   

Menganalisis data.

7.                   

Membuat generalisasi.

8.                   

Menarik kesimpulan.

Melakukan evaluasi

9.                   

Mengevaluasi berdasarkan fakta.

10.               

Memberikan alternatif lain.

Mengambil keputusan dan tindakan

11.               

Menentukan jalan keluar.

12.               

Memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan.

Sumber: (Filsaime, 2008: 81)

E.  Kitab Kuning

1.    Pengertian Kitab Kuning

              Kitab kuning Secara lughawi (etimologi) diartikan sebagai kitab yang berwarna kuning, karena kertas-kertas yang dipergunakan berwarna kuning atau karena terlalu lamanya kitab tersebut disimpan atau dipergunakan sehingga berwarna kuning. Biasanya kualitas kertasnya rendah dan kadang-kadang lembarannya pun lepas tak terjilid sehingga mudah diambil bagian-bagian yang diperlukan tanpa harus membawa kitab secara utuh. Sedangkan secara istilahi (Terminologi) kitab kuning diartikan sebagai kitab yang berisi ilmu-ilmu keislaman, khususnya ilmu fiqih yang ditulis dan dicetak dengan huruf Arab dalam bahasa Arab atau Melayu/Jawa/Sunda dan sebagainya tanpa memakai harakat atau syakal (tanda baca/baris) sehingga disebut juga “Kitab Gundul”.[84]

              Kitab tersebut ditulis oleh penulisnya dalam waktu sejarah yang sangat jauh dari kehadirannya sekarang, dan karena itu, orang sering menyebutnya sebagai “kitab kuno”. Pengajaran kitab-kitab ini, meskipun berjenjang sesuai dengan berat ringannya pembahasan, materi yang diajarkan kadang-kadang berulang-ulang, tetapi pada jenjang yang lebih berat terjadi pendalaman dan perluasan wawasan santri. Misalnya, dalam ilmu fikih, santri yang telah mempelajari kitib tipis mulai dari pokok bahasan taharah, akan memulai pokok bahasan itu ketika mempelajari kitab yang lebih tinggi.[85]

              Perjenjangan berdasarkan kitab yang dipelajari santri, dalam pelaksanaanya tidaklah menjadi suatu kemutlakan. Suatu pesantren dapat saja memberikan tambahan atau melakukan inovasi atau mengajarkan kitab-kitab yang lebih popular dan efektif.[86]

              Jumlah teks klasik (kitab kuning) yang diterima pesantren sebagai ortodoks (al-kutub al-mu’tabaroh) pada prinsipnya terbatas. Ilmu yang terkandung dalam kitan klasik tersebut dianggap sesuatu yang sudah bulat dan tidak dapat ditambah, hanya bisa diperjelas dan dirumuskan kembali. Meskipun terdapat karya-karya baru, namun kandungannya tidak berubah.[87]

2.    Sejarah Perkembangan Kitab Kuning

              Sangatlah mungkin sejauh bukti-bukti historis yang tersedia dikatakan bahwa kitab kuning menjadi text book, reference, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren, seperti yang kita kenal sekarang, adalah baru dimulai pada abad ke-18 M. bahkan, cukup realistis juga memperkirakan pengajaran kitab kuning secara massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-19 M, ketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya jawa, kembali dari program belajarnya di Mekkah.[88]

              Namun, realitas ini tidak berarti bahwa kitab kuning, sebagai produk intelektual, belum ada pada masa-masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat, paling tidak sejak abad ke-16 M. Sejumlah kitab kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab, Melayu, maupun Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan kajian mengenai Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak keilmuan yang dicermainkan kitab kuning bagaimanapun juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang kira-kira sejak lima abad sebelum pembakuan kitab kuning di pesantren-pesantren.[89]

              Hal ini diperkuat dengan pernyataan Martin Van Bruinessen bahwa lembaga pesantren belum ada sebelum abad ke-18 tidak berarti bahwa kitab kuning tidak dipelajari sebelumnya. Kitab-kitab klasik berbahasa Arab jelas sudah dikenal dan dipelajari pada abad ke-16. Beberapak kitab pada zaman itu sudah diterjamahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu sementara beberapa pengarang Indonesia telah menulis kitab-kitab dalam bahasa tersbut dengan gaya dan isi yang serupa dengan kitab ortodoks. Sekitar tahun 1600, sejumlah naskah Indonesia berbahasa Melayu, Jawa dan Arab dibawa ke Eropa. Mereka memberi gambaran berharga, meskipun belum sempurna, tentang tradisi keilmuan Islam di Nusantara saat itu.[90]

              Kitab-kitab yang merupakan penopang utama tradisi keilmuan Islam ditulis pada abad ke-10 sampai dengan abad ke-15 M. Beberapa karya penting ditulis sebelum periode tersebut, dan beberapa karya baru dengan corak yang sama terus ditulis, tetapi sejak akhir abad ke-15, pemikiran Islam tidak mengalami kemajuan yang berarti. Pola pemikiran dalam ilmu-ilmu keislaman tetap sama.[91] Menurut Taufik Abdullah yang dikutip oleh Affanfi Mochtar[92] pada abad ke-16 M. ajaran-ajaran Islam mulai merambat dalam kehidupan masyarakt luas, mulai tingkat atas di pemerintahan hingga lapisan masyarakat kecil. Sejak itulah kitab kuning mulai masuk dan menjadi teks resmi yang dijadikan pegangan dalam hidup beragama dan bermasyarkat. Penulisan-penulisan kitab kuning juga mulai dilakukan oleh ulama Nusantara, sepertia di Aceh pada tahun 1603 M. Bukhari al-Jauhari sudah menulis kitab Tajus-Salathin yang berisikan teori-teori mengatur negara. Kitab inilah yang diyakini oleh taufik Abdullah yang memiliki peran dalam merumuskannya ortodoks kraton di Nusantara.

              Kemudian, abad ke-12 H. atau abad ke-17 M. hingga abad ke-13 H./19 M. adalah masa keemasan Islam di Nusantara dengan lahirnya ilmuwan muslim dan ratusan kitab kuning karya anak bangsa. Sebut saja Syekh Nawawi Banten yang karya-karyanya mewarnai dinamika intelektual Islam di Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Karya ulama yang dijuluki Ulama al-Hijaz oleh ulama di dua kota suci  Makkah dan Madinah ini diperkirakan memiliki karya kitab kuning sebanyak 11.155 buah. Sekitar 50-an di antaranya digunakan dalam kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia dan Malaysia, seperti kitab Ats-Tsimar al-Yani’ah Syarh Riyadhil-Badi’ah dan Uqudul-Lujain yang membahas relasi suami istri.[93]

3.    Materi Ajar Kitab Kuning

Kitab-kitab kuning yang diajarkan sebagai materi pembelajaran di pesantren secara sederhana dapat dikelompokkan kedalam delapan bidang ilmu, yaitu nahwu (syntax) dan sharaf (morfologi), fikih, ushul fikih, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, dan cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari berjilid-jilid tebal mengenai hadits, tafsir, fiqh, usul fiqh dan tasawuf. Kesemuanya dapat pula digolongkan ke dalam tiga kelompok tingkatan, yaitu: 1. Kitab dasar, 2. Kitab tingkat menengah, dan 3. Kitab tingkat tinggi.[94] Pembelajaran biasanya berlangsung mengikuti pola pengajaran tuntas kitab yang dijadikan rujukan utama suatu pondok pesantren sesuai dengan keahlian kiainya.[95]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

                                  

 

A.  Tempat Dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat. Adapun waktu yang digunakan untuk penelitian ini yaitu terhitung dari tanggal 20 September sampai 20 Desember 2019. Adapun jadwal penelitian adalah sebagai berikut:

 

Tabel 3.1

Waktu Penelitian

No

Nama Kegiatan

September

2019

Oktober

2019

November

2019

Desember

2019

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.                   

Persiapan

 

 

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.                   

Studi pustaka

 

 

 

X

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Observasi

 

 

 

 

 

X

X

X

 

 

 

 

 

 

 

 

4.                   

Analisis data

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

X

 

 

 

 

 

5.                   

Penyusunan laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

X

X

X

 

 

 

 

 

B.  Profil Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy

1.      Sejarah Singkat Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy

Pondok Kebon Jambu Al-Islamy didirikan oleh KH. Muhammad dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada tanggal 07 November 1993[96] di bawah naungan Yayasan Tunas Pertiwi. terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.[97] Pengambilan nama “Kebon Jambu” dilatar belakangi upaya mengabadikan aspek sejarahan geografisnya, di mana dahulunya adalah belantara kebun yang diisi pepohonan jambu biji oleh KH. Amrin Hannan bapak dari Nyai Hj. Masriyah Amva sekitar tahun 1980-an.[98]

Sedangkan sebutan Al-Islamy bukanlah suatu sebutan yang tanpa sejarah. Mulanya nama pondok ini hanyalah Kebon Jambu. Pada masa awal berdiri, Pondok Kebon Jambu menerima kiriman bantuan buku-buku dan kitab-kitab untuk pembuatan perpustakaan dari suatu lembaga pemerintah di Jakarta. Pada waktu itu team pengirim bantuan buku-buku dan kitab-kitab yang bertugas mencari alamat kebingungan, setelah berkeliling mencari-cari pondok yang bernama Pondok Al-Islamy di desa Babakan kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon ternyata tidak ditemukan. Akhirnya mereka berinisiatif untuk mendatangi balai desa Babakan dan menanyakan langsung kepada aparat desa, ternyata aparat desa pun tidak mengetahui nama pondok Al-Islamy (karena memang tidak ada). Setelah itu, ada dari salah satu aparat yang menanyakan, siapa nama pengasuhnya, disebutkanlah nama KH. Muhammad, maka jadi jelaslah, alamat yang mungkin dimaksud pengirim tersebut adalah Pondok Kebon Jambu (karena hanya ada satu nama pengasuh KH. Muhammad pada masa itu). Setelah kejadian itu, Pondok Kebon Jambu diberi tambahan nama menjadi Pondok Kebon Jambu Al-Islamy. Ini dilakukan agar laporan pengiriman buku-buku dan kitab-kitab telah sampai pada alamat yang dituju, yaitu Pondok Al-Islamy alias Pondok Kebon Jambu Al-Islamy yang diasuh oleh KH. Muhammad.[99]

Sama seperti pondok pesantren lainnya, Pondok Kebon Jambu mengajarkan kitab-kitab klasik atau yang biasa disebut dengan kitab kuning sebagai kurikulumnya, dengan menggunakan metode pengajaran klasikal khas pesantren seperti bandungan, sorogan, dan musyawarah. Pondok Kebon Jambu termasuk dalam kategori pesanten khalaf dimana pondok pesantren dengan pendekatan modern, melalui satuan pendidikan madrasah, maupun pendidikan Formal, ataupun yang lainnya, tetapi tetap mempertahankan pendekatan klasikal khas pesantren. Pembelajaran pada pondok pesantren khalaf juga dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan, dengan satuan program yang didasarkan pada satuan waktu, seperti catur wulan, semester, tahun ataupun kelas dan seterusnya.[100] Hal tersebut terbukti bahwa di Pondok Kebon Jambu terdapat  madrasah yang dulu dikenal dengan Madrasah Tahsinul Akhlaq Assalafiyah (MTAS), sekarang berganti nama menjadi Madrasah Tahsinul Akhlaq Kebon Jambu (MTAKJ).[101] Dan juga terdapat sekolah formal seperti SMPTP, MATP dan Ma’had Aly Kebon Jambu.[102] Tidak hanya itu Pondok Kebon Jambu juga menerapkan sistem pengajaran kitab kuning di luar pendidkan Madrasah dan pendidkan formal berupa jenjang kelas dari mulai tingkat persiapan lalu naik ke tingkat 1 (fasholatan) hingga tingkat 6 (fathul mu’in). Kenaikan tingkatan ini dilakukan setiap tahunnya dengan seleksi dan ujian semester setiap enam bulan sekali yang dilakuan sangat ketat.[103]

2.      Musyawarah di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy

Sebuah model pembelajaran akan berjalan dengan maksimal apabila didukung oleh sistem yang baik. Karenanya, di Pondok Kebon Jambu dibentuk suatu lembaga khusus untuk mengakomodir kegiatan musyawarah yaitu Majelis Musyawaroh (MAJROH). Lembaga ini sebagai manifestasi program kerja Departemen Musyawarah Pondok Kebon Jambu. Dalam program kerjanya departemen ini bertugas (1) Meningkatkan kualitas musyawarah, (2) Mengadakan musyawarah shughro satu bulan sekali setiap selasa wage, dan musyawarah kubro satu tahun dua kali se-wilayah Pesantren Babakan Ciwaringin, dan musyawarah yang biasa disebut dengan Bahtsul Masail se-wilayah III Ciayumajakuning ataupun Se-Jawa Barat (jangka panjang pra-akhirussanah) (3) Membukukan hasil musyawarah serta mengumumkan pada publik dan (4) Meningkatkan pemantauan musyawarah kitab kuning.

Dalam kinerjanya, lembaga ini akan bersinergi dengan pengurus madrasa, Pendidikan Pondok Kebon Jambu dan organisasi santri di semua tingkatan. Dimana masing-masing antara pengurus madrasah, pengurus pendidikan Pondok dan organisasi santri juga memiliki semacam seksi khusus yang menangani musyawarah dengan program kerja yang hampir sama dengan Majelis Musyawaroh.

Di Pondok Kebon Jambu, musyawarah menjadi salah satu forum diskusi yang sering dilakukan oleh para santri, dengan eksistensi memecahkan sebuah masalah baik itu yang sudah terungkap dalam ta’bir-ta’bir kitab salaf atau masalah-masalah kekinian yang belum terdeteksi hukumnya.

Sebetulnya metode musyawarah ini, diselenggarakan hampir oleh seluruh pondok pesantren Babakan. Ada yang menjadi program harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan, tergantung dari jadwal yang dibuat oleh pengurus pondok setempat. Karena musyawarah sebagai wadah diskusi yan paling efektif di pondok pesantren. Dengan adanya musyawarah santri bisa lebih berkembang dalam pemikiran dan pengetahuanya untuk memahami masalah–masalah agama yang di hadapi masyarakat yang bersifat modern. Seperti yang biasa diketahui, banyak permasalahan kontemporer yang belum terbahas secara mendetail di dalam al- Quran dan al-Hadist, ijma, ataupun qiyas sehingga dengan adanya Musyawarah permasalahan–permasalahan tersebut bisa terjawab secara mendetail dalam musyawarah kitab kuning.

Musyawarah kitab kuning di Pondok Kebon Jambu sangat digemari oleh para santri dibandingkan dengan metode sorogan atau bandungan, karena didalam musyawarah antara santri satu dengan yang lain bisa saling beradu argumentasi tentang masalah yang di bahas, dan saling menguatkan pendapatnya masing-masing yang tentunya mempunyai dasar untuk mempertahankan argumentasinya, dengan cara ini santri bisa berfikir kritis dan menambah kemampuan literasi keilmuan baik dalam hal kecerdasan intelektual maupun emosionalnya.

Sementara itu santri/kiai menggunkan forum musyawarah bertujuan untuk membahas masalah-masalah waqiiyah yang dicarikan dalilnya didalam kitab-kitab fiqih yang populer disebut dengan kutubul mu’tabaroh ‘ala madzahibul arba’ah. Dan didalam kitab tersebut terdapat banyak perbedaan pendapat (khilafiyyah) antara pendapat yang satu dengan yang lain, ada yang membolehkan, ada yang memakruhkan, bahkan ada yang mengharamkan, oleh karena itu perlu dibahas bersama santri dengan santri yang lain (musyawirin). Mana pendapat yang lebih kuat dan mana pendapat yang lemah, dengan adanya pembahasan ini para santri bisa saling mufakat dan membuahkan hasil keputusan yang memuaskan.

Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy kegiatan musyawarah sudah ada sejak awal berdirinya. Seirin perkembangannya, kegiatan musyawarah pun semakin di perbaharui, dengan tujuan untuk melestarikan warisan khazanah keilmuan Islam dan  menumbuhkan gairah belajar para santri  dalam mempelajari kitab kuning. Musyawarah ini juga diharapkan para santri mampu untuk menganalisa masalah dengan sudut pandang fikih dan mampu memberikan solusi yang sesuai dengan kemaslahatan umum yang lebih kompleks.[104]

3.    Majelis Musyawaroh (MAJROH)

Kegiatan MAJROH merupakan rutinitas Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan merupakan hasil rapat panitia Majroh 1440-1441 H. Peserta Majlis Musyawaroh adalah seluruh tingkat empat, lima, enam tingkatan yang berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok Jambu Putri, Ma’had aly, Pondok Melati dan Pondok Assanusi Putra.

Kegiatan MAJROH diawali dengan penyajian masalah oleh nara sumber yang menguasai persoalan yang diangkat. Setelah nara sumber menyajikan masalah yang sebenarnya, moderator mempersilahkan peserta untuk membahas dan memberikan pendapatnya disertai dengan argumen-argumennya masing-masing, dimana setiap pendapat harus dilengkapi dengan argumen dari pendapat lain. Argumen yang diutarakan diambil dari kitab-kitab kuning yang mereka pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan akhir dan akan dirumuskan oleh tim perumus atau musohih untuk kemudian disahkan oleh majlis tashih (majlis pengesahan).[105]

4.    Komponen Majlis Musyawarah Pesantren Kebon Jambu

Pada setiap musyawarah yang dilakukan oleh para santri tidak bisa dilepaskan dari dari lima komponen utama. Masing-masing komponen bekerja sama dalam mensukseskan jalannya kegiatan musyawarah. Komponen-komponen tersebut adalah:[106]

a.    Moderator

              Moderator adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin jalannya kegiatan musyawarah. Seorang moderator diharuskan orang yang benar-benar memiliki kecakapan berdiskusi sekaligus mempunyai ilmu yang cukup terhadap persoalan yang dibahas. Sebab tugas moderator tidak hanya sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi juga harus bisa memahami, mengkordinir dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh peserta musyawarah.

b.    Notulen

              Notulen adalah seseorang yang bertugas menulis semua hasil musyawarah dan ta’bir yang dipakai oleh para peserta dan musahih. Hasil catatan dari notulen selanjutnya diarsip untuk keperluan dokumentasi.

c.    Peserta

              Peserta adalah orang-orang yang terlibat dalam musyawarah. Sebelum pelaksanaan musyawarah para peserta telah disodori persoalan yang akan dibahas dalam musyawarah beberapa hari sebelumnya. Karena itu, dalam pelaksanaan musyawarah para peserta biasanya membawa sebanyak mungkin referensi untuk dijadikan sumber argumentasi.

d.   Perumus

              Perumus adalah seseorang yang bertugas merangkum berbagai jawaban dan argumentasi yang telah disampaikan dalam musyawarah. Perumus bertugas meredaksikan keputusan musyawarah dalam redaksi yang sederhana sehingga dapat difahami oleh semua pihak. Perumus juga berkewajiban memilih argumentasi yang sangat relevan dari sekian ta’bir/dalil yang dikemukakan peserta.

e.    Pentashih

              Pentashih adalah seseorang yang diposisikan sebagai pengarah. Posisi pentashih dalam musyawarah  sangat strategis, sebab mereka menjadi pihak yang mempunyai otoritas memutuskan hasil kajian dalam musyawarah. Karena strategisnya posisi pentashih, maka mereka yang menduduki posisi ini dipersyaratkan memiliki keilmuan yang mumpuni dan diatas rata-rata. Biasanya posisi ini diduduki oleh para kyai, para ustadz dan santri senior, bergantung level musyawarah yang diselenggarakan.

5.    Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning

Untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode musyawarah, kiyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[107]

a.    Peserta musyawarah adalah para santri yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.

b.    Peserta musyawarah tidak memiliki perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi kegagalan dalam musyawarah.

c.    Topik atau persoalan (materi) yang dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kiyai atau ustaz pada pertemuan sebelumnya.

d.   Musyawarah dapat dilakukan secara terjadwal sebagai latihan untuk para santri.

 

 

 

C.  Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat korelasional dalam rangka mengetahui hubungan setiap variabel penelitian dengan menggunakan teknik analisis regresi.[108]Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya.[109]

Skema untuk mengetahui Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu:[110]

r 1

Y1

X

r 2

Y2

 

 

 

 

 


Gambar 3.1 Skema Paradigma Penelitian

keterangan:

X         = Metode Musyawarah Kitab Kuning

Y1       = Keterampilan Literasi

Y2       = Keterampilan Critical Thinking

r1, r2     = Korelasi Sederhana

 

Adapun metode dalam penelitian ini, langkah pertama mengumpulkan data yang terkumpul selama penelitian dianalisis guna menjawab permasalahan yang telah diajukan sebelumnya. Angket yang dirancang dalam 22 pertanyaan untuk para santri tingkat enam Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala likert yang ditentukan dengan sekor 1-3 dengan kategori yang telah ditetapkan peneliti. Yaitu untuk pilihan (a) bobot nilai 3, pilihan (b) bobot nilai 2, dan pilihan (c) bobot nilainya 1. Adapun sekor 3 menunjukan kategori baik, sekor 2 menunjukan kategori cukup, sekor 1 menunjukan kategori kurang.[111] Adapun tahapan menganalisis data yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah:

1.      Tahapan analisis pendahuluan

Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, langkah berikutnya  melakukan analisis terhadap semua data yang terkumpul. Yaitu dengan cara memberikan angka sekor pada setiap jawaban per item soal dari angket yang disebarkan kepada para responden (santri) kemudian seluruh sekor dijumlahkan secara keseluruhan, lalu dianalisis secam statistik. Dari hasil tersebut dibuat tiga kategori, yaitu tinggi (baik), sedang (cukup baik) dan rendah (kurang baik).

 

2.      Tahapan analisis uji hipotesis

Analisis korelasi untuk mengetahui pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2) yaitu Analisis regresi sederhana.[112]Apabila angka probabilitas hasil anlisa < 0,05 maka hipotesis (H0) ditolak dan hipotesis kerja (Ha) diterima[113] atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas (independent variabel) dan dua variabel terikat (dependent variabel) yaitu: 1). Variabel bebasnya metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning. 2). Variabel terkikatnya kemampuan literasi dan critical thinking santri.

Adapun langkah-langkahnya  dengan menggunakan SPSS 25 for windows adalah sebagai berikut:

1.    Buka lembar kerja SPSS

2.    Buat semua keterangan variabel dari variabel view

3.    Klik data view dan masukan data

4.    Lalu analisis dengan cara: klik Analize-Regression-Linier, kemudian akan muncul dialog. Selanjutnya isilah kotak menu dependent dengan variabel terkait, yaitu Y1 atauY2 dan kotak menu independent dengan variabel bebas, yaitu variabel X

5.    Selanjutnya ketik kotak menu Statistics. Pilih Estimates, Descriptives dan Model Fit lalu klik Continue

6.    Kotak menu Plots, berfungsi untuk menampilkan grafik pada analisis regresi. Klik kotak menu Plots, kemudian klik Normal Probability Plot yang terletak pada kotak menu Standardized Residual Plots. Selanjutnya klik Continue

7.    Setelah klik Continue klik Ok, beberapa saat akan muncul hasilnya.[114]

D.    Instrumen Penelitian

1.    Angket atau kuesioner

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden dalam arti lapran tentang pribadinya atau hla-hal yang ia ketahui.[115] Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket tertutup, sehingga responden cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan. Tujuan kuesioner disini digunakan sebagai metode pokok dalam memperoleh informasi tentang Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islami Cirebon.

Skala pengukuran yang digunakan dalam angket ini menggunakan skala likert. Sekala likert berfungsi untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial.[116] Dalam penelitiaan ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut variabel penelitian. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator sebagai titik tolak untuk menyusun item instrument berupa pertanyaan.

2.      Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.[117] Dokumen dalam penelitian ini digunakan sebagai bukti telah melakukan penelitian dilokasi tersebut (berupa poto) dan sebagai pendukung memperkuat data yang diperoleh dengan cara mengambil hal yang berkaiatan dengan data penelitian yang ada di Pesantren Kebon Jambu.

3.      Observasi

Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting dalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[118] Observasi dalam penelitian ini digunakan sebagai bahan tambahan memperkuat data yang diperoleh melalui angket dengan mengumpulkan keterngan dari beberapa responden atau santri yang ada di Pesantren Kebon Jambu.

E.     Populasi dan Sampel

1.    Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah para santri tingkat atau kelas enam di Pesantren Kebon Jambu. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagai wakil yang diteliti.[119] Populasi dalam penelitian ini sejumlah 30 orang.

2.    Sampel

Sampel adalah sebagiandari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajri semua yang ada pad populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.[120] Berdasarkan hal itu, apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili).

Dalam menentukan jumlah sampel apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya kalau sebjeknya lebih besar bisa diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Sehingga penelitiannya disebut penelitian sampling.[121] Pada penelitian ini diambil semuanya karena subjeknya kurang dari 100 sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi sebanyak 30 santri. 

F.     Uji Instrumen

1.    Uji Validitas

Uji validitas adalah suatau ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument, uji validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pertanyaan-pertanyaan pada instrument yang harus di buang atau diganti, karena dinggap tidak relevan. Untuk menguji kevalidan angket dalam penelitian ini menggunakan uji validitas product moment dengan aplikasi SPSS for windows versi 25. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji ini, bisa dilakukan dengan cara:

Ø Membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel. Jika nilai r hitung > r tabel, maka item soal angket tersebut dinyatakan valid dan jika nilai r hitung < r tabel, maka item soal angket tersebut dinyatakan tidak valid.

Ø Membandingkan nilai (sig.) dengan probabilitas 0,05. Jika nilai (sig.) < 0,05 maka item soal angket tersebut valid dan Jika nilai (sig.) > 0,05 maka item soal angket tersebut tidak valid

2.      Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrument mencirikan tingkat konsistensi. Karena instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan angket berbentuk soal pilihan ganda, checklist, dan ratingscale. Untuk menjaga reabilitasnya tiap pilihan jawaban memiliki bobot tertentu.

G.    Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data sebagai berikut:

1.    Mengumpulkan angket yang disebarkan ke responden (30)

2.    Memeriksa tiap item soal angket dari setiap variabel dan dimasukan ke tabel seperti dibawah ini

Tabel 3.2

Contoh format tabel tabulasi angket variabel X

No. Res

Nama Responden

Jawaban angket variabel

Skor Total

1

2

3

4

5

6

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.    Buat tabel daftar tentang distribusi frekuensi jawaban tentang metode musyawarah kitab kuning

Tabel 3.3

Contoh format tabel distribusi frekwensi variabel X

No. Res

Alternatif jawaban

Total

Nominasi

A

B

C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.    Dari data di atas dapat dicari  skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

I = interval

Xt = nilai tertinggi

Xr = nilai terendah

Ki = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[122]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel metode musyawarah kitab kuning, nilai tertinggi ….. dan nilai terendah …… dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:

Jadi jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, rendah sebagai berikut:

a.    Untuk kategori tinggi mendapat nilai …….

b.    Untuk kategori sedang mendapat nilai …….

c.    Untuk kategori rendah mendapat nilai …….

Kemudian dicari prosentase metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:

1.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang tinggi, antara skor……sebanyak…..santri:

2.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang sedang, antara skor……sebanyak…..santri:

3.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang rendah, antara skor……sebanyak…..santri:

Untuk lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning

Tabel 3.4

Contoh format tabel hasil distribusi frekwensi variabel X

No.

Metode musyawarah

Interval

Frekuensi

Prosentase

1.       

Tinggi

 

 

 

2.       

Sedang

 

 

 

3.       

Rendah

 

 

 

 

Jumlah

 

 

 

H.    Uji Hipotesis

Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2). Dalam penelitian ini menggunakan bantuan komputerisasi program SPSS for windows versi 25. Adapun langkah langkahnya sebagai berikut:

1.         Buka lembar kerja SPSS

2.         Buat semua keterangan variabel dari variabel view

3.         Klik data view dan masukan data

4.         Lalu analisis dengan cara: klik Analize-Regression-Linier, kemudian akan muncul dialog. Selanjutnya isilah kotak menu dependent dengan variabel terkait, yaitu Y1 atau Y2 dan kotak menu independent dengan variabel bebas, yaitu variabel X

5.         Selanjutnya ketik kotak menu Statistics. Pilih Estimates, Descriptives dan Model Fit lalu klik Continue

6.         Kotak menu Plots, berfungsi untuk menampilkan grafik pada analisis regresi. Klik kotak menu Plots, kemudian klik Normal Probability Plot yang terletak pada kotak menu Standardized Residual Plots. Selanjutnya klik Continue

7.         Setelah klik Continue klik Ok, beberapa saat akan muncul hasilnya.[123]

 

 

 

 

 

BAB IV

TEMUAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

 

A.    Temuan Penelitian

1.    Instumen Variabel Pengaruh Metode Musyawarah Kitab Kuning

Data nilai variabel pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabel 4.1

Distribusi Nilai Hasil Angket Metode Musyawarah

Dalam Pembelajan Kitab Kuning

 

No. Responden

Nomor Item Dan Skor

Skor Total

1

2

3

4

5

6

7

1.       

3

3

3

3

3

3

3

21

2.       

2

2

3

2

3

2

3

17

3.       

2

2

2

1

2

1

2

12

4.       

2

2

3

3

3

2

3

18

5.       

2

2

3

3

3

2

3

18

6.       

2

2

2

2

2

3

2

15

7.       

3

2

3

2

3

3

2

18

8.       

2

2

2

2

2

2

2

14

9.       

2

1

2

1

3

2

3

14

10.   

2

2

2

2

2

2

2

14

11.   

3

2

2

3

3

2

3

18

12.   

3

2

2

2

3

1

2

15

13.   

2

2

2

1

2

1

2

12

14.   

2

3

2

2

3

3

3

18

15.   

2

2

2

2

2

2

2

14

16.   

2

2

3

2

3

3

3

18

17.   

2

2

2

3

3

3

2

17

18.   

3

2

2

2

3

3

2

17

19.   

2

2

3

2

2

2

2

15

20.   

2

1

2

2

2

2

2

13

21.   

3

2

2

3

3

2

2

17

22.   

3

2

2

2

2

2

2

15

23.   

2

2

2

2

2

2

2

14

24.   

2

2

2

2

3

3

2

16

25.   

3

2

3

3

2

3

3

19

26.   

2

2

2

3

3

3

3

18

27.   

3

2

2

3

3

2

2

17

28.   

3

3

2

2

3

3

2

18

29.   

2

2

2

1

3

3

2

15

30.   

2

3

3

1

2

2

1

14

 

Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.    Dari soal angket nomor 1 yang selalu berargumentasi dengan menyertakan referensi dalam musyawarah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 20 responsen menjawab kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.

2.    Dari soal angket nomor 2 yang selalu berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas dalam musyawarah sebanyak 4 orang responden, sebanyak 24 responden menjawab kadang-kadang, dan 2 orang menjawab tidak pernah.

3.    Dari soal angket nomor 3 yang selalu berpendapat dengan menyertakan dalil yang dapat dipertanggung jawabkan dalam musyawarah sebanyak 19 orang responden, sebanyak 21 responden menjawab kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu  menjelaskan referensi dalam musyawarah dengan menyertakan nama kitab, nama pengarang, cetakan  dan juga halaman kitabnya sebanyak 9 orang responden, sebanyak16 responden menjawab kadang-kadang, dan 5 orang menjawab tidak pernah.

5.    Dari soal angket nomor 5 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman atau kelompok lain yang tidak sependapat dalam musyawarah sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk menjelaskanya kembali 12 orang responden, sebanyak 15 responden menjawab kadang-kadang, dan 3 orang menjawab tidak pernah.

7.    Dari soal angket nomor 7 yang selalu berpendapat semaksimal munkin dalam musyawarah dengan cara mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di kelas ataupun sekolah sebanyak 10 orang responden, sebanyak  19 responden menjawab kadang-kadang, dan 1 orang menjawab tidak pernah.

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang Pengaruh

Metode Musyawarah Dalam Pembelajan Kitab Kuning

 

No. Res.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

21

 

 

21

A

2.       

9

8

 

17

B

3.       

 

10

2

12

C

4.       

12

6

 

18

B

5.       

12

6

 

18

B

6.       

3

12

 

15

B

7.       

12

6

 

18

B

8.       

 

14

 

14

C

9.       

6

6

2

14

C

10.   

 

14

 

14

C

11.   

12

6

 

18

B

12.   

6

8

1

15

B

13.   

 

10

2

12

C

14.   

12

6

 

18

B

15.   

 

14

 

14

C

16.   

12

6

 

18

B

17.   

9

8

 

17

B

18.   

9

8

 

17

B

19.   

3

12

 

15

B

20.   

 

12

1

13

C

21.   

9

8

 

17

B

22.   

3

12

 

15

B

23.   

 

14

 

14

C

24.   

6

10

 

16

B

25.   

15

4

 

19

A

26.   

12

6

 

18

B

27.   

9

8

 

17

B

28.   

12

6

 

18

B

29.   

6

8

1

15

B

30.   

6

6

2

14

C

Dari data di atas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

i = interval

Xt = nilai tertinggi

Xr = nilai terendah

Ki = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[124]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning, nilai tertinggi 21 dan nilai terendah 12 dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:

 

 

Jadi jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang dan rendah sebagai berikut:

a.     Untuk kategori tinggi mendapat nilai 19-21

b.      Untuk kategori sedang mendapat nilai 15-18

c.       Untuk kategori rendah mendapat nilai 14-12

Kemudian dicari prosentase metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:

 

1.         Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang tinggi, antara skor 19-21 sebanyak 2 santri:

2.         Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang sedang, antara skor 15-18 sebanyak 19 santri:

3.         Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang rendah, antara skor 12-14 sebanyak 9 santri:

Untuk lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning.

Tabel 4.3

Hasil Distribusi Frekuensi Pengaruh

Metode Musyawarah dalam pembelajan Kitab Kuning

No.

Metode musyawarah

Interval

Frekuensi

Prosentase

4.       

Tinggi

19-21

2

6,67%

5.       

Sedang

15-18

19

63,33%

6.       

Rendah

12-14

9

30%

 

Jumlah

30

100%

 

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning, tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 19  jawaban responden dari 30 santri sebagai responden. Kareana nilai rata-rata jawaban responden berada pada interval 15-18, hal ini menunjukan bahwa metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning kategori sedang, yaitu 63,33%.

2.    Instumen Variabel Keterampilan Literasi

Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabel 4.4

Distribusi Nilai Hasil Angket Kemampuan Santri

 Pada Keterampilan Literasi

 

No.

Nomor item dan skor

Skor total

1

2

3

4

5

6

1.       

3

3

3

3

3

3

18

2.       

3

2

3

3

2

3

16

3.       

2

3

2

3

2

3

15

4.       

3

3

3

3

2

2

16

5.       

3

2

3

3

2

3

16

6.       

2

3

3

2

2

1

13

7.       

3

3

3

2

2

3

16

8.       

3

3

2

2

2

2

14

9.       

2

1

2

2

1

2

10

10.   

2

3

2

2

2

3

14

11.   

3

2

2

2

2

2

13

12.   

3

2

3

2

3

2

15

13.   

2

3

2

3

2

2

14

14.   

3

2

2

3

2

2

14

15.   

2

3

3

3

2

3

16

16.   

3

2

1

2

1

3

12

17.   

3

3

3

3

2

2

16

18.   

3

2

3

3

2

2

15

19.   

2

2

1

2

1

3

11

20.   

1

2

2

2

2

1

10

21.   

3

3

3

3

3

3

18

22.   

2

2

2

2

3

2

13

23.   

2

2

2

2

2

2

12

24.   

3

2

2

2

2

2

13

25.   

2

2

3

3

3

2

15

26.   

3

3

2

3

2

3

16

27.   

3

3

3

3

2

3

17

28.   

2

2

1

1

2

2

10

29.   

3

2

2

2

2

3

14

30.   

3

1

1

2

2

2

11

 

Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.    Dari soal angket nomor 1 yang selalu mengambil informasi atau referensi dari berbagai kitab kuning sebanyak 18 orang responden, sebanyak 1 responden menjawab kadang-kadang, dan 11 orang menjawab tidak pernah.

2.    Dari soal angket nomor 2 yang selalu lebih dahulu menganalisis pendapat yang terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 responden menjawab kadang-kadang, dan 2 orang menjawab tidak pernah.

3.    Dari sola angket nomor 3 yang selalu lebih dahulu mengevaluasi pendapat yang terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 13 responden menjawab kadang-kadang, dan 4 orang menjawab tidak pernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu lebih dahulu menganalisis bentuk teks yang terdapat didalam kitab sebanyak 14 orang responden, sebanyak 15 responden menjawab kadang-kadang, dan 1 orang menjawab tidak pernah.

5.    Dari soal angket nomor 5 yang selalu mendapatkan pemahaman baru dari hasil mencarai referensi yang tidak didapat dalam kelas pengajian sorogan atau bandungan sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mencarai referensi terbaik sebagai rujukan sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 responden menjawab kadang-kadang, dan  2 orang menjawab tidak pernah.

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Jawaban Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

No. Res.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

18

 

 

18

A

2.       

12

4

 

16

A

3.       

9

6

 

15

B

4.       

12

4

 

16

A

5.       

12

4

 

16

A

6.       

6

6

1

13

B

7.       

12

4

 

16

A

8.       

6

8

 

14

B

9.       

 

8

2

10

C

10.   

6

8

 

14

B

11.   

3

10

 

13

B

12.   

9

6

 

15

B

13.   

6

8

 

14

B

14.   

6

8

 

14

B

15.   

12

4

 

16

A

16.   

6

4

2

12

C

17.   

12

4

 

16

A

18.   

9

6

 

15

B

19.   

3

6

2

11

C

20.   

 

8

2

10

C

21.   

18

 

 

18

A

22.   

3

10

 

13

B

23.   

 

12

 

12

C

24.   

3

10

 

13

B

25.   

9

6

 

15

B

26.   

12

4

 

16

A

27.   

15

2

 

17

A

28.   

 

8

2

10

C

29.   

6

8

 

14

B

30.   

3

6

2

11

C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari data diatas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

i = interval

Xt = nilai tertinggi

Xr = nilai terendah

Ki = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[125]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi, nilai tertinggi 18 dan nilai terendah 10 dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:

Jadi jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, dan rendah sebagai berikut:

a.    Untuk kategori tinggi mendapat nilai 16-18

b.    Untuk kategori sedang mendapat nilai 13-15

c.    Untuk kategori rendah mendapat nilai 10-12

Kemudian dicari prosentase kemampuan santri pada keterampilan literasi dengan rumus:

1.      Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yang tinggi, antara skor 16-18 sebanyak 10 santri:

2.    Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yang sedang, antara skor 13-15 sebanyak 13 santri:

3.   Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yang rendah, antara skor 10-12 sebanyak 7 santri:

Untuk lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemampuan santri pada keterampilan literasi.

Tabel 4.6

Hasil Distribusi Frekuensi Tentang Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

 

No.

Keterampilan Literasi

Interval

Frekuensi

Prosentase

7.       

Tinggi

16-18

10

33,33%

8.       

Sedang

13-15

13

43,33%

9.       

Rendah

10-12

7

23,34%

 

Jumlah

30

100%

 

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan literasi, tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 13  jawaban responden dari 30 santri sebagai responden. Kareana nilai rata-rata jawaban responden berada pada interval 13-15, hal ini menunjukan bahwa kemampuan santri pada keterampilan literasi kategori sedang, yaitu 43,33%.

3.    Instumen Variabel Keterampilan Critical Thinking

Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabel 4.7

Distribusi Nilai Hasil Angket Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Critical Thinking

No. Responden

Nomor item dan skor

Skor total

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1.       

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

30

2.       

2

3

2

2

2

2

3

2

2

3

23

3.       

2

1

1

1

2

2

2

2

2

1

16

4.       

2

1

3

3

2

1

1

2

1

2

18

5.       

2

2

3

3

3

3

2

2

2

3

25

6.       

3

2

3

2

2

3

1

2

3

1

22

7.       

3

3

2

2

3

3

3

2

3

3

27

8.       

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

9.       

3

2

2

2

3

1

2

3

3

3

24

10.   

3

2

1

2

2

2

2

3

2

2

21

11.   

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

12.   

3

2

3

2

2

2

3

2

3

2

24

13.   

1

1

2

2

1

1

1

2

2

2

15

14.   

3

3

2

2

2

2

3

2

2

2

23

15.   

3

3

2

2

2

3

2

3

2

2

24

16.   

3

3

3

2

2

1

3

2

3

2

24

17.   

3

3

3

2

1

2

2

2

3

2

23

18.   

2

3

2

2

3

3

3

2

2

2

24

19.   

2

2

2

2

2

1

2

1

2

2

18

20.   

2

2

1

1

2

2

3

2

2

1

18

21.   

3

2

2

2

2

3

2

3

3

2

24

22.   

2

2

1

2

1

1

2

1

2

2

16

23.   

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

24.   

3

3

2

2

3

3

2

2

3

2

25

25.   

3

2

1

2

3

3

3

2

1

1

21

26.   

3

3

2

3

2

3

3

2

2

2

25

27.   

2

3

2

3

3

2

2

3

3

2

25

28.   

3

2

2

3

2

2

2

3

2

2

23

29.   

1

3

3

1

2

2

2

2

2

2

20

30.   

3

3

2

1

2

1

3

1

2

1

19

 

 

 

BB

 

 

erda

 

 

berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.    Dari soal angket nomor 1 yang selalu bertanya dengan menyertakan deskripsi masalah dan merumuskan masalah terlebih dahulu sebanyak sebanyak 16 orang responden, sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan  2 orang menjawab tidak pernah.

2.    Dari soal angket nomor 2 yang selalu mendebat atau berargumentasi  setiap kali ada kelompok lain yang tidak sependapat sebanyak 13 orang responden, sebanyak 14 responden menjawab kadang-kadang, dan  3 orang menjawab tidak pernah.

3.    Dari soal angket nomor 3 yang selalu melakukan deduksi sebanyak 8 orang responden, sebanyak 17 responden menjawab kadang-kadang, dan  5 orang menjawab tidak pernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu melakukan induksi sebanyak 6 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan  4 orang menjawab tidak pernah.

5.    Dari soal angket nomor 5 yang selalu mengevaluasi pendapat sendiri atau kelompok sendiri sebanyak 8 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan  2 orang menjawab tidak pernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu mengevaluasi pendapat kelompok lain sebanyak 10 orang responden, sebanyak 13 responden menjawab kadang-kadang, dan  7 orang menjawab tidak pernah.

7.    Dari soal angket nomor 7 yang selalu mengambil keputusan dan tindakan sebagai solusi terhadap perbedaan pendapat sebanyak 11 orang responden, sebanyak 16 responden menjawab kadang-kadang, dan  3 orang menjawab tidak pernah.

8.    Dari soal angket nomor 8 yang selalu berkontribusi memberikan argumentasi pada kelompok sebanyak 7 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan 3 orang menjawab tidak pernah.

9.    Dari soal angket nomor 9 yang selalu meninjau kembali pendapat teman atau kelompok lain terhadap permasalahan yang dibahas sebanyak 10 orang responden, sebanyak 18 responden menjawab kadang-kadang, dan  2 orang menjawab tidak pernah.

10.                         Dari sola angket nomor 10 yang selalu berargumentasi  meski referensinya sama dengan kelompok lain tapi berbeda dalam interpretasi atau argumentasinya sebanyak 5 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan  5 orang menjawab tidak pernah.

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang

Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

No. Res.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

30

 

 

30

A

2.       

9

14

 

23

B

3.       

 

12

4

16

C

4.       

6

8

4

18

C

5.       

15

10

 

25

B

6.       

12

8

2

22

B

7.       

21

6

 

27

A

8.       

 

20

 

20

B

9.       

15

8

1

24

B

10.   

6

14

1

21

B

11.   

 

20

 

20

B

12.   

12

12

 

24

B

13.   

 

10

5

15

C

14.   

9

14

 

23

B

15.   

12

12

 

24

B

16.   

15

8

1

24

B

17.   

12

10

1

23

B

18.   

12

12

 

24

B

19.   

 

16

2

18

C

20.   

3

12

3

18

C

21.   

12

12

 

24

B

22.   

 

12

4

16

C

23.   

 

20

 

20

B

24.   

15

10

 

25

B

25.   

12

6

3

21

B

26.   

15

10

 

25

B

27.   

15

10

 

25

B

28.   

9

14

 

23

B

29.   

6

12

2

20

B

30.   

9

6

4

19

C

 

Dari data diatas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

i = interval

Xt = nilai tertinggi

Xr = nilai terendah

Ki = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[126]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, nilai tertinggi 30 dan nilai terendah 15 dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:

Jadi jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, dan rendah sebagai berikut:

a.       Untuk kategori tinggi mendapat nilai 26-30

b.          Untuk kategori sedang mendapat nilai 20-25

c.          Untuk kategori rendah mendapat nilai 15-19

Kemudian dicari prosentase kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dengan rumus:

1.      Untuk  kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang tinggi, antara skor 26-30 sebanyak 2 santri:

2.        Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang sedang, antara skor 25-20 sebanyak 21 santri:

3.        Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang rendah, antara skor 19-15 sebanyak 7 santri:

Untuk lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

                                                                        Tabel 4.9

Hasil Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang

 kemampuan santri pada keterampilan critical thinking

No.

Keterampilan Critical Thinking

Interval

Frekuensi

Prosentase

10.   

Tinggi

30-26

2

6,67%

11.   

Sedang

25-20

21

70%

12.   

Rendah

19-15

7

23,33%

 

Jumlah

30

100%

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 21 jawaban responden dari 30 santri sebagai responden. Kareana nilai rata-rata jawaban responden berada pada interval 20-25, hal ini menunjukan bahwa kemampuan santri pada keterampilan critical thinking. Yaitu 70%.

B.     Pembahasan

1.    Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen

a.       Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning

Pengujian validitas dan reliabilitas Instrumen angket kuesioner pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning menggunakan aplikasi SPSS for windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.10

Uji Validitas Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah

Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Item_7

Skor_Total

Item_1

Pearson Correlation

1

.213

.000

.387*

.289

.110

.000

.478**

Sig. (2-tailed)

 

.258

1.000

.035

.122

.561

1.000

.007

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.213

1

.230

.083

.123

.283

-.086

.415*

Sig. (2-tailed)

.258

 

.221

.665

.517

.130

.651

.023

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.000

.230

1

.195

.089

.148

.318

.460*

Sig. (2-tailed)

1.000

.221

 

.301

.640

.436

.087

.011

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.387*

.083

.195

1

.366*

.295

.454*

.731**

Sig. (2-tailed)

.035

.665

.301

 

.047

.113

.012

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.289

.123

.089

.366*

1

.383*

.466**

.672**

Sig. (2-tailed)

.122

.517

.640

.047

 

.037

.010

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.110

.283

.148

.295

.383*

1

.228

.641**

Sig. (2-tailed)

.561

.130

.436

.113

.037

 

.226

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_7

Pearson Correlation

.000

-.086

.318

.454*

.466**

.228

1

.605**

Sig. (2-tailed)

1.000

.651

.087

.012

.010

.226

 

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Skor_Total

Pearson Correlation

.478**

.415*

.460*

.731**

.672**

.641**

.605**

1

Sig. (2-tailed)

.007

.023

.011

.000

.000

.000

.000

 

N

30

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Tabel 4.11

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

 

No Item

r hitung

r tabel

Keterangan

1.       

0,473

0,361

VALID

2.       

0,415

0,361

VALID

3.       

0,460

0,361

VALID

4.       

0,731

0,361

VALID

5.       

0,672

0,361

VALID

6.       

0,641

0,361

VALID

7.       

0,605

0,361

VALID

 

Ketetapan:

1.    Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.    Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-7 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

 

Tabel 4.12

Uji Reliabel Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.669

7

 

 

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

13.70

4.079

.285

.658

Item_2

13.97

4.240

.226

.671

Item_3

13.73

4.133

.269

.661

Item_4

13.90

3.128

.526

.583

Item_5

13.43

3.633

.516

.598

Item_6

13.73

3.444

.411

.626

Item_7

13.73

3.720

.414

.624

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketetapan:

1.    Apabila nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan “RELIABLE”

2.    Apabila nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,669, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut semua reliable.

 

 

b.      Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen kemampuan santri pada keterampilan literasi

Tabel 4.13

Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Skor_total

Item_1

Pearson Correlation

1

.076

.251

.281

.101

.372*

.540**

Sig. (2-tailed)

 

.691

.182

.132

.596

.043

.002

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.076

1

.455*

.418*

.244

.271

.662**

Sig. (2-tailed)

.691

 

.011

.022

.194

.148

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.251

.455*

1

.613**

.509**

.056

.778**

Sig. (2-tailed)

.182

.011

 

.000

.004

.769

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.281

.418*

.613**

1

.249

.319

.764**

Sig. (2-tailed)

.132

.022

.000

 

.185

.086

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.101

.244

.509**

.249

1

-.079

.517**

Sig. (2-tailed)

.596

.194

.004

.185

 

.678

.003

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.372*

.271

.056

.319

-.079

1

.514**

Sig. (2-tailed)

.043

.148

.769

.086

.678

 

.004

N

30

30

30

30

30

30

30

Skor_total

Pearson Correlation

.540**

.662**

.778**

.764**

.517**

.514**

1

Sig. (2-tailed)

.002

.000

.000

.000

.003

.004

 

N

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

 

Tabel 4.14

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

No Item

r hitung

r tabel

Keterangan

1.       

0,540

0,361

VALID

2.       

0,662

0,361

VALID

3.       

0,778

0,361

VALID

4.       

0,764

0,361

VALID

5.       

0,517

0,361

VALID

6.       

0,514

0,361

VALID

 

Ketetapan:

1.         Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.         Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-6 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

Tabel 4.15

Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.700

6

 

 

 

 

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

11.53

4.120

.327

.691

Item_2

11.73

3.720

.463

.649

Item_3

11.80

3.200

.598

.596

Item_4

11.67

3.540

.623

.599

Item_5

12.03

4.240

.319

.691

Item_6

11.73

4.133

.274

.709

 

Ketetapan:

1.    Apabila nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan ”RELIABLE”

2.    Apabila nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,700, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.

c.       Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen kemampuan santri pada keterampilan critical thinking

Tabel 4.16

Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Item_7

Item_8

Item_9

Item_10

Skor_Total

Item_1

Pearson Correlation

1

.360

.050

.194

.247

.332

.366*

.301

.401*

.000

.591**

Sig. (2-tailed)

 

.051

.794

.304

.188

.073

.047

.106

.028

1.000

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.360

1

.237

.030

.294

.344

.598**

.061

.388*

.267

.662**

Sig. (2-tailed)

.051

 

.208

.876

.115

.063

.000

.749

.034

.154

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.050

.237

1

.339

.044

.048

-.147

.055

.375*

.355

.425*

Sig. (2-tailed)

.794

.208

 

.066

.817

.801

.439

.774

.041

.054

.019

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.194

.030

.339

1

.266

.218

-.142

.386*

.047

.503**

.498**

Sig. (2-tailed)

.304

.876

.066

 

.155

.247

.455

.035

.804

.005

.005

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.247

.294

.044

.266

1

.499**

.334

.340

.166

.298

.630**

Sig. (2-tailed)

.188

.115

.817

.155

 

.005

.071

.066

.379

.110

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.332

.344

.048

.218

.499**

1

.227

.366*

.171

.077

.620**

Sig. (2-tailed)

.073

.063

.801

.247

.005

 

.227

.047

.365

.684

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_7

Pearson Correlation

.366*

.598**

-.147

-.142

.334

.227

1

-.101

.080

.092

.432*

Sig. (2-tailed)

.047

.000

.439

.455

.071

.227

 

.597

.674

.629

.017

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_8

Pearson Correlation

.301

.061

.055

.386*

.340

.366*

-.101

1

.304

.308

.529**

Sig. (2-tailed)

.106

.749

.774

.035

.066

.047

.597

 

.103

.097

.003

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_9

Pearson Correlation

.401*

.388*

.375*

.047

.166

.171

.080

.304

1

.302

.576**

Sig. (2-tailed)

.028

.034

.041

.804

.379

.365

.674

.103

 

.105

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_10

Pearson Correlation

.000

.267

.355

.503**

.298

.077

.092

.308

.302

1

.559**

Sig. (2-tailed)

1.000

.154

.054

.005

.110

.684

.629

.097

.105

 

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Skor_Total

Pearson Correlation

.591**

.662**

.425*

.498**

.630**

.620**

.432*

.529**

.576**

.559**

1

Sig. (2-tailed)

.001

.000

.019

.005

.000

.000

.017

.003

.001

.001

 

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Tabel 4.17

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

 

No Item

r hitung

r tabel

Keterangan

1.       

0,591

0,361

VALID

2.       

0,662

0,361

VALID

3.       

0,425

0,361

VALID

4.       

0,498

0,361

VALID

5.       

0,630

0,361

VALID

6.       

0,620

0,361

VALID

7.       

0,432

0,361

VALID

8.       

0,529

0,361

VALID

9.       

0,576

0,361

VALID

10.   

0,559

0,361

VALID

 

Ketetapan:

1.    Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.    Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-10 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

 

Tabel 4.18

Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.745

10

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

19.43

9.840

.453

.718

Item_2

19.57

9.426

.532

.705

Item_3

19.80

10.510

.251

.748

Item_4

19.83

10.351

.355

.732

Item_5

19.73

9.789

.509

.710

Item_6

19.80

9.338

.455

.718

Item_7

19.63

10.516

.265

.745

Item_8

19.77

10.254

.395

.727

Item_9

19.63

10.033

.447

.719

Item_10

19.90

10.093

.425

.722

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketetapan:

1.    Apabila nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan “RELIABLE”

2.    Apabila nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,745, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.

 

 

2.    Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis

a.       Analisis regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi

Analisis regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi menggunakan aplikasi SPSS for windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:

Tabel.4.19

Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah

Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Terhadap Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

 

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Metode Musyawarahb

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

b. All requested variables entered.

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.432a

.186

.157

2.09279

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

28.066

1

28.066

6.408

.017b

Residual

122.634

28

4.380

 

 

Total

150.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

Secara umum rumus persamaan regresi sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi tersebut  dapat berpedoman pada output yang berada pada tabel Coefficients berikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

1.    Penjelasan

a = angka konstan dari Unstandardized Coefficients. Dalam kasus ini nilainya sebesar  6.946. angka ini merupakan angka konstan yang mempunyai arti jika menggunakan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) maka nilai konsisten kemampauan santri pada keterampilan literasi  (Y1) adalah sebesar  6.946.

b = angka koefisien regresi. Nilainya sebesar  0,446. Angka ini mengandunga arti bahwa setiap  penambahan 1% tingkat metode musyawarah dalam pembejaran kitab kuning (X), maka  kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1) akan meningkat sebesar  0,446.

Karena nilai koefisien regresi bernilai positif , maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa  metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) berpengaruh positif terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).  Sehingga persamaan regresinya adalah  Y1= 6.946 + 0,446 X

2.    Uji Hipotesis

Uji hipotesis atau uji pengaruh berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:

1.    H0 = Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).

2.    Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).

 

Sementara itu, untuk memastikan apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel X berpengaruh terhadap variabel Y1) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.

1.    Uji  hipotesis membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan 0,05

Adapun yang menjadi dasar pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi (Sig.) hasil output SPSS adalah:

Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).

Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

Berdasarkan autput di atas diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1)”

2.    Uji hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

Pengujian hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t adalah:

Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1)

Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1)

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Kemampuan Literasi

 

 

 

 

 

Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 2,531. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:

Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025

Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2 =28

Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048

Karena nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y)“.

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.432a

.186

.157

2.09279

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square atau R2 terdapat pada output SPSS bagian model summary. Dari output diatas diketahui nilai R square sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dengan total pengaruh sebesar 18,6% . pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan literasi.

b.      Analisis regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilancritical thinking

Tabel.4.20

Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Terhadap Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Metode Musyawarahb

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. All requested variables entered.

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.659a

.434

.414

2.65437

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

 

 

 

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

151.420

1

151.420

21.491

.000b

Residual

197.280

28

7.046

 

 

Total

348.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Secara umum rumus persamaan regresi sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi tersebut dapat berpedoman pada output yang berada pada tabel coefficients berikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

1.    Penjelasan

a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus ini nilainya sebesar 5,283. Angka ini merupakan angka konstan yang mempunyai arti jika menggunakan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) maka nilai konsisten terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking  (Y2) adalah sebesar  5,283.

b = Angka koefisien regresi. Nilainya sebesar  1,036. Angka ini mengandunga arti bahwa setiap  penambahan 1% tingkat pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X), maka  terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2) akan meningkat sebesar  1,036.

Karena nilai koefisien regresi bernilai positif, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).  Sehingga persamaan regresinya adalah  Y2 = 5,283 + 1,036 X

 

 

 

2.    Uji Hipotesis

Uji hipotesis atau uji pengaruh berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:

Ø Ho = Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Sementara itu, untuk memastikan apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel X berpengaruh terhadap variabel Y2) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.

1.    Uji  hipotesis membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan 0,05

Adapun yang menjadi dasar pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi (Sig.) hasil output SPSS adalah:

Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan autput di atas diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000 lebih kecil dari < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)”

2.    Uji hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

Pengujian hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t adalah:

Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)

Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 4,636. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:

Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025

Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2 =28

Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048

Karena nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)“

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.659a

.434

.414

2.65437

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

 

 

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square atau R2 terdapat pada output SPSS bagian model summary. Dari output diatas diketahui nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dengan total pengaruh sebesar 43,4%. pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

c.       Analisis regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking

Tabel.4.20

Output SPSS Regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Kemampuan Literasib

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. All requested variables entered.

 

 

 

 

 

 

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.429a

.184

.155

3.18804

a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

 

 

 

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

64.120

1

64.120

6.309

.018b

Residual

284.580

28

10.164

 

 

Total

348.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Kemampuan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Secara umum rumus persamaan regresi sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi tersebut dapat berpedoman pada output yang berada pada tabel coefficients berikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Kemampuan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Kemampuan Critical Thinking

 

1.    Penjelasan

a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus ini nilainya sebesar 12,703. Angka ini merupakan angka konstan yang mempunyai arti jika keterampilan literasi meningkat (Y1) maka nilai konsisten keterampilan critical thinking  (Y2) adalah sebesar  12,703.

b = Angka koefisien regresi. Nilainya sebesar 0,652. Angka ini mengandunga arti bahwa setiap  penambahan 1% tingkat keterampilan literasi (Y1), maka  keterampilan critical thinking (Y2) akan meningkat sebesar 0 ,652.

Karena nilai koefisien regresi bernilai positif, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa peningkatan keterampilan literasi (Y1) berpengaruh positif terhadap keterampilan critical thinking (Y2).  Sehingga persamaan regresinya adalah  Y1 = 12.703 + 0,652 X

2.    Uji Hipotesis

Uji hipotesis atau uji pengaruh berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:

Ø H0 = Tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Ha = Ada pengaruh peningkatan keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Sementara itu, untuk memastikan apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel Y1 berpengaruh terhadap variabel Y2) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.

1.    Uji  hipotesis membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan 0,05

Adapun yang menjadi dasar pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi (Sig.) hasil output SPSS adalah:

Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh keterampilan  literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Kemampuan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan autput di atas diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,018 lebih kecil dari < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)”

2.    Uji hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

Pengujian hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t adalah:

Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)

Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Kemampuan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 2,512. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:

Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025

Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2 =28

Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048

Karena nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)“.

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.429a

.184

.155

3.18804

a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

 

 

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square atau R2 terdapat pada output SPSS bagian model summary. Dari output diatas diketahui nilai R square sebesar 0,184. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan literasi berpengaruh positif terhadap keterampilan critical thinking dengan total pengaruh sebesar 18,4%. pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi keterampilan literasi dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

 

 

 

3.    Hasil Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil analisis regresi diatas dapat diketahui bahwa:

1.    Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi apabila nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 atau jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi. Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilai R square sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

2.    Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking apabila nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 atau jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.000 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

3.    Keterampilan literasi mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap ketermpilan critical thinking santri apabila nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 atau Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.018 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan antara ketermpilan literasi terhadap ketermpilan critical thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilai R square sebesar 0,184. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islami dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.    Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi. Sedangkan besarnya pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi dalam analisis regresi, didapat nilai R square sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

2.    Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.000 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking. Sedangkan besarnya pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, didapat nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

3.    Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.018 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan ketermpilan literasi terhadap ketermpilan critical thinking. Sedangkan besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, didapat nilai R square sebesar 0,184. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

 

 

B.     Implikasi

1.    Besarnya pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi dalam analisis regresi didapat sebesar 18,6%. Pengaruh ini bermakna semakin tinggi metode musyawarah maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan literasi.

2.    Besarnya pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi didapat sebesar 43,4%. Pengaruh ini bermakna semakin tinggi metode musyawarah maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

3.    Besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi didapat sebesar 18,4%. Pengaruh ini bermakna semakin tinggi keterampilan literasi maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abd., Ghofur, Pendidikan Anak Pengungsi; Model Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang: UIN-Malang Press, 2009)

Adibah, Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 <http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/artikel1414143067.docx>

Adrian, Yudha, I. Nyoman S, and Sugeng Utaya, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26 <http://journal.um.ac.id>

Affandi, Mochtar, Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009)

Ahmad, Sulaiman, and Agustin Syakarofath Nandy, ‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi Islam’, Buletin Psikologi, 2018 <https://jurnal.ugm.ac.id>

Akhmad, Harits Tryan, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018 <https://news.okezone.com>

Alamul, Yakin, Wawancara Seputar Pendidikan Di Pondok Kebon Jambu, 2019

Amin, Haedari, and Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan Kompleksitas Global, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006)

Amri, Sofan, and IiF Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010)

Anik, Twin, Hubungan Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 <https://www.kompasiana.com>

Antoro, Billy, Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017) <http://repositori.kemdikbud.go.id>

Arief, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)

Burhanudin, Jajat, and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006)

Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003)

DePorter, Bobbi, and Mike Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, Cet XXVIII (Bandung: Mizan Pustaka, 2010)

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)

Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 <https://news.detik.com>

Donni, Yudha Prawira, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019) <https://perpustakaan.unimed.ac.id>

English, Evelyn Williams, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017)

Evita, Devega, Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 October 2017 <https://www.kominfo.go.id>

Fathin, Nur Azzah, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>

Ferguson, Brian, ‘Information Literacy’ <http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>

Filsaine, Dennis K., Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008)

FIP-UPI, Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007)

Hakim, Moh. Abdul, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014)

Harususilo, Yohanes Enggar, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019 <https://edukasi.kompas.com>

Hayat, Bahrul, and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)

———, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010)

Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010)

Jambu, Pondok Kebon, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019)

John w., Santrock, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015)

Kasdin, Sihotang, Febian Rima K., Benyamin Molan, Andre Ata Ujan, and Rodemeus Ristyantoro, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012)

Lailatul, Fitriyah, Marliana, and Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 <https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>

Majroh, Panitia, Proposal Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019)

Martin van, Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)

Masjaya, and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018) <https://journal.unnes.ac.id>

Mikhael, Gewati, Minat Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016 <https://edukasi.kompas.com>

Moh, Abdullah, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>

Mohammad, Sholeh, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>

Muftisany, Hafidz, Sorogan Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016) <https://www.republika.co.id>

Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 <https://journal.uny.ac.id>

Mundzier, Saputra, Perubahan Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009)

Nurcholis, Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010)

Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ <https://kebonjambu.org>

Prijosaksono, Aribowo, and Roy Sembel, Self Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2003)

Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005)

Rakhmawati, Rani, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>

RI, Kementerian Agama, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003)

Rohman, Fathur, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200 <http://ejournal.radenintan.ac.id>

Romdhoni, Ali, Al-Qur’an Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013)

Semarang, Universitas Negeri, Konferensi Bahasa Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017)

Setyawan, Ibnu Aji, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018 <https://gurudigital.id>

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018)

———, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017)

Sugiyono, and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017)

Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014)

Surya, Hendra, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011)

UNESCO, Plurality of Literacy and Its Implications for Policies and Programmes (Paris: United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, 2004) <https://unesdoc.unesco.org>

Wowo Sunaryo, Kuswana, Taksonimi Kognitif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)

Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat Press, 2005)

Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018)

Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018) <http://repo.iain-tulungagung.ac.id>

Zamakhsyari, Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1]Devega Evita, Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 October 2017 <https://www.kominfo.go.id>. Hal 1. Diakses tanggal 1 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.

[2]Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 <https://journal.uny.ac.id>. Hal 203. Diunduh tanggal 1 Desember 2019 pukul 15:00 WIB.

[3]Gewati Mikhael, Minat Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses tanggal 6 Desember 2019 pukul 20:00 WIB.

[4]Yohanes Enggar Harususilo, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses tanggal 2 Desember 2019 pukul 17:00 WIB.

[5]Billy Antoro, Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017) <http://repositori.kemdikbud.go.id>. Hal 5. Diunduh tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[6]Harits Tryan Akhmad, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018 <https://news.okezone.com>. Hal 1. Diakses tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[7]Sulaiman Ahmad and Agustin Syakarofath Nandy, ‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi Islam’, Buletin Psikologi, 2018 <https://jurnal.ugm.ac.id>. Hal 5. Diunduh tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[8]Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 <https://news.detik.com>. Hal 2. Diakses tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[9]Twin Anik, Hubungan Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 <https://www.kompasiana.com>. Hal 1. Diakses tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[10]Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. Bruinessen Martin van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012).V. Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Haedari Amin and Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan Kompleksitas Global, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006). 149.

[11]Sorogan yakni suatu sistem pengajaran dengan cara santri mengajukan diri kepada guru dengan membacakan kitab yang ia maknai, dengan tujuan menashihkan bacaannya. Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015). 54.

[12]Metode wetonan atau bandongan yakni sebuah metode pengajian dimana seorang kiai atau ustaz membacakan dan menjabarkan isi kandungan kitab sementara murid atau santri mendengarkan dengan seksama dan memberi makna (maknani atau ngesahi).Madjid Nurcholis, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010). 23.

[13]Metode musyawarah yakni suatu sistem pengajaran dengan cara mendiskusikan materi pelajaran yang akan atau sudah diberikan oleh sang guru, dengan cara berkelompok. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.

[14]Fitriyah Lailatul, Marliana, and Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 <https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>. Hal 24-25. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 22:34 WIB.

[15]Hafidz Muftisany, Sorogan Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016) <https://www.republika.co.id>. Hal 1. Diakses tanggal 26 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[16]Rani Rakhmawati, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Hal 352. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.

[17]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.

[18]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 174-175.

[19]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 98.

[20]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai.142.

[21]Yakin Alamul, Wawancara Seputar Pendidikan Di Pondok Kebon Jambu, 2019. Tanggal 22 Januari 2019 Pukul 22:00 WIB.

[22]Rakhmawati.Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.

[23]Fathur Rohman, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200 <http://ejournal.radenintan.ac.id>. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 21:00 WIB.

[24]Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018) <http://repo.iain-tulungagung.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 20:54 WIB.

[25]Sholeh Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[26]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[27]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[28]Tim pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007). 455.

[29]Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005). 159.

[30]Martin van. Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat. V.

[31]Ali Romdhoni, Al-Qur’an Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013). 88-89.

[32]Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018). Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 257.

[33]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[34]Dennis K. Filsaine, Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008).

[35]Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat Press, 2005). 61.

[36]Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010). 15.

[37]Santrock John w., Psikologi Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015). Psikologi Pendidikan. 397.

[38]Adrian and others, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26 <http://journal.um.ac.id>. Hal 222. Tanggal 19 Agustus 2019 pukul 00:59 WIB.

[39]Sofan Amri and IiF Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010). 67.

[40] Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[41]Lailatul, Marliana, and Suryani. Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. 25.

[42]John w., Psikologi Pendidikan. 398.

[43]John w., Psikologi Pendidikan 399.

[44]Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). 40.

[45]Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. Martin van. V. Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Amin and Dkk. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis dan Tantangan Kompleksitas Global. 149.

[46]Mohammad. Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur. 15.

[47]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[48]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[49]FIP-UPI. Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang. 455.

[50]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. 42-44.

[51]Mohammad. Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur.  66-68.

[52]Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.

[53]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). 85.

[54]Qomar. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi. 159.

[55]Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017). 3.

[56]Adibah, Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 <http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/artikel1414143067.docx>. Hal 5. Diunduh tanggal 26 Januari 2020 pukul 15:06 WIB.

[57]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 88-89.

[58]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011). 25.

[59]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis. 1.

[60]Evelyn Williams English, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017). 15.

[61]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis. 165.

[62]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 90.

[63]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 27.

[64]Ibnu Aji Setyawan, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018 <https://gurudigital.id>. Hal 1. Diakses tanggal 02 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB.

[65]Brian Ferguson, ‘Information Literacy’ <http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>. Hal 10-14. Diunduh tanggal 22 November 2019 pukul 14:30 WIB.

[66]Masjaya and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018) <https://journal.unnes.ac.id>. hal 571. Diunduh tanggal 14 April 2019 pukul 15:00 WIB.

[67]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010). 31-33.

[68]UNESCO, Plurality of Literacy and Its Implications for Policies and Programmes (Paris: United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, 2004) <https://unesdoc.unesco.org>. Hal 6. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.

[69]Yudha Prawira Donni, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019) <https://perpustakaan.unimed.ac.id>. hal 10. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[70]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 226-232.

[71]Bobbi DePorter and Mike Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, Cet XXVIII (Bandung: Mizan Pustaka, 2010). 134-135.

[72]Aribowo Prijosaksono and Roy Sembel, Self Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2003). 118.

[73]Sihotang Kasdin and others, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012). 3.

[74]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[75]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[76]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 228-230.

[77]Kasdin and others. Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis. 7-8.

[78]Hendra Surya, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011). 130.

[79]Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010). 154-155.

[80]Surya. Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar. 130.

[81]Mohammad. Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir. 136.

[82]Kuswana Wowo Sunaryo, Taksonimi Kognitif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012). 196.

[83]Filsaine. Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif. 81.

[84]Ghofur Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang: UIN-Malang Press, 2009). 28.

[85]Saputra Mundzier, Perubahan Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009). 63.

[86]Mundzier. Perubahan Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat. 63.

[87]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 85.

[88]Mochtar Affandi, Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009). 37.

[89]Affandi. Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren. 38.

[90]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 96.

[91]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 99.

[92]Affandi. Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren. 42.

[93]Abdullah Moh, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>. Hal 56. Diunduh tanggal 20 November 2019 pukul 22:00 WIB.

[94]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 87.

[95]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 86.

[96]Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019). 12. Bisa dilihat juga tanggal berdiri pondok kebon jambu pada Tesis  Moh. Abdul Hakim, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014). 90.

[97]Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ <https://kebonjambu.org>. Hal 1. Tanggal 19 September 2019 pukul 21:22 WIB. 

[98]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 91.

[99]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 92.

[100]Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003). 30.

[101]Pondok Kebon Jambu. Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 43.

[102]Pondok Kebon Jambu. Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 30-31.

[103]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 94.

[104]Panitia Majroh, Proposal Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019). 1-2.

[105]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). 85.

[106]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. 42-44.

[107]Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.

[108]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017). 45.

[109]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014). 12.

[110]Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018). 66.

[111] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif. Metode Penelitian Kuantitatif. 152-153.

[112] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif. Metode Penelitian Kuantitatif. 66.

[113] Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. 68.

[114] Sugiyono and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017). 292-295.

[115] Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 128.

[116] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016). 134.

[117]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. 236.

[118] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif. 223.

[119] Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 108.

[120] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan. 56.

[121] Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 115-117.

[122] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[123]Sugiyono and Susanto. Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL. 292-295.

[124] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[125] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[126] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

Komentar

Postingan populer dari blog ini