PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP
KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI
PESANTREN KEBON JAMBU
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister
Pendidikan (M.Pd.)
Program Studi : Pendidikan
Agama Islam
Oleh :
MUHAMAD IRPAN
NIM :14166310049
PROGRAM
PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2020 M/ 1441 H
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang unggul baik di lembaga formal maupun nonformal. Salah satu yang sangat menarik dari beberapa istilah pendidikan yang muncul belakangan adalah pendidikan literasi, pendidikan literasi diharapkan mampu menjawab persoalan yang muncul akibat rendahnya minat baca peserta didik. Survei UNESCO pada 2012 menyebutkan Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.[1]
Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate
Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State
Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat
ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59)
dan di atas Bostwana (61). Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan
menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu:
perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem
pendidikan, dan ketersediaan komputer.[2] Padahal, dari
segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada
di atas negara-negara Eropa.[3]
Hasil riset berbeda
juga ditunjukan Proggramme for
International Student Assesment
(PISA) tentang literasi matematika, membaca, dan sains, skor literasi membaca
di awal mengikuti tes PISA 371 dan mengalami peningkatan 382 (tahun 2003), 393 (tahun
2006), dan 402 (tahun 2009), kemudian terus mengalami penurunan 396 (tahun
2012), 397 (tahun 2015) dan titik terendah 371 (tahun 2018), sedangkan menurut
PISA kemampuan baca negara-negara yang tergabung dalam Organisation for
Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018 berada dirata-rata
angka 487, peringkat pertama diraih China (skor 555), kemudian diikuti
Singapura (549), dan Makau (525).[4]
Pendidikan literasi menjadi penting karena
kemampuan literasi menjadi salah satu kecakapan yang harus dikuasi untuk
menghadapi abad XXI. Sebagaimana laporan yang dikeluarkan oleh Forum Ekonomi
Dunia World Economic Forum (WEF) pada 2015 mengenai keterampilan yang
harus dimiliki untuk menghadapi abad XXI. Keterampilan itu mencakup literasi,
kompetensi, dan karakter.[5]
Menurut WEF, tidak hanya pendidikan
literasi namun karakter dan kompetensi juga dingaggap penting. Salah satu aspek
kompetensi abad XXI menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud),
Muhajir Effendy khususnya di era industri revolusi 4.0 adalah berpikir kritis (critical
thinking).[6]
Menurut Larsson (2017) Berpikir kritis dapat diartikan sebagai upaya seseorang
untuk memeriksa kebenaran dari suatu informasi menggunakan ketersediaan bukti,
logika, dan kesadaran akan bias.[7]
Mengingat kondisi sosial yang semakin kompleks dan kemajuan teknologi
informasi, mendorong derasnya pertukaran informasi yang belum terverifikasi.
Tidak terverifikasinya pertukaran informasi berdampak terhadap munculnya
berbagai persoalan. Menurut Al-Walidah (2017) ketidak mampuan masyarakat untuk
mengkritisi kebenaran informasi yang diperoleh berdampak terhadap problematika
sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu contohnya, pada tahun
2018 masyarakat sempat ditimpa kekhawatiran dan resah oleh adanya informasi
palsu yang menyebar luas tentang kebangkitan PKI yang sebenarnya
bukanlah isu baru, tapi isu ini menjadi makin viral di tahun 2018, seiring
dengan dinamika politik Indonesia. Beberapa kejadian seolah dikaitkan dengan
kebangkitan PKI. Pada awal 2018 terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai
atau tokoh agama. Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.[8]
Kondisi ini menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Agar
masyarakat dapat objektif menerima informasi yang diperoleh, kritisisme menjadi
penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran data
begitu saja, selain itu ia memberi ruang untuk memeriksa dan menolak kebohongan
yang mungkin berada di dalamnya.
Seseorang tidak memiliki
keterampilan literasi dan critical thinking ini sejak lahir, melainkan
keterampilan ini diperoleh dari proses latihan, belajar, atau pengalaman. Penyiapan
sumber daya manusia yang menguasai keterampilan abad XXI terutama literasi dan critical
thinking akan efektif jika ditempuh melalui jalur pendidikan. Perubahan
kurikulum telah dilakukan oleh pemerintah, pada jenjang sekolah menengah ke
bawah telah diterapkan kurikulum 2013 dengan berbagai perbaikannya, kurikulum
2013 sesungguhnya telah mengakomodasi keterampilan abad XXI, baik dilihat dari
standar isi, standar proses, maupun standar penilaian. Pada standar proses,
terbukti menurut Anik Twin (2018) literasi dalam pendekatan scientific
approach tersirat dalam skenario pembelajaran, skenario pembelajaran yang
diharapkan berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir kritis (critical
thinking) dan penilaian hasil belajar berbasis HOTS (Higher
Order Thinking Skills).[9] Sejatinya pendidikan literasi dan critical thinking dapat ditemukan penerapannya
dihampir semua bidang pendidikan tanpa terkecuali pendidikan di pondok pesantren.
Pendidikan di pondok pesantren yang sumber utama pembelajarannya adalah kitab
kuning[10] mempunyai
metode pembelajaran khas dalam mengkaji kitab kuning. Metode pembelajaran yang
berjalan di pesantren sampai saat ini adalah metode sorogan,[11]
metode wetonan atau bandongan,[12]
dan metode musyawarah.[13]
Menurut Lailatul Fitriyah dkk (2019)
metode sorogan, pesetra didik hanya dilatih untuk membaca sebuah kitab yang ia
maknai dengan tujuan untuk membenarkan bacaannya, pada metode bandongan,
peserta didik hanya dilatih untuk menyimak apa yang guru bacakan sambil memberi
makna, sedangkan metode musyawarah, tidak
hanya melatih peserta didik membaca dan menyimak, akan tetapi diperlukan argumentasi atas
pendapat yang disampaikan.[14]
Argumentasi yang dibangun diperoleh dari literasi membaca dan berfikir kritis,
dalam hal ini membaca teks kitab kuning. Kemampuan membaca teks yang baik
memungkinkan untuk membaca beragam referensi kitab kuning yang menjadi rujukan
dalam musyawarah.
Hal senada juga dinyatakan oleh Hafidz Muftisany (2016) menurutnya,
metode sorogan dan bandongan pada
intiya sama-sama memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat dalam pengajaran
kitab kuning. Namun, kedua metode tersebut dianggap tidak cukup efektif untuk
mengembangkan nalar kritis peserta didik karena sedikitnya kesempatan yang
diberikan untuk mempertanyakan kebenaran materi yang dipelajarinya.[15]
Berbeda dengan metode musyawarah, menurut Rakhmawati (2016) metode
musyawarah melatih para santri lebih aktif pada pendalaman kajian dan pemecahan
solusi atas permasalahan yang terjadi, sebagai suatu tanggapan para santri
menjawab dengan merujuk pada referensi kitab kuning pesantren.[16]
Sedangkan menurut Dhofier, dalam
musyawarah para santri harus belajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari
pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing
kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[17] Sementara
untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, tentunya dibutuhkan adanya
kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning sebagai
rujukan pembahasan masalah.
Berbagai pendapat diatas menjadi
alasan bahwa metode musyawarah ini layak untuk diteliti lebih lanjut terkait
baigamana perannya dalam membentuk peserta didik yang literat dan mampu
berfikir kritis (critical thinking). Pembelajaran kitab kuning yang
notabennya menggunakan metode musyawarah dianggap memiliki kualitas yang baik.
Terbuktik menurut Dhofier, santri yang telah menyelesaikan kelas musyawarah di
pesantren Tebuireng akhirnya menjadi ulama besar yang dapat mengembangkan
pesantren-pesantren besar. Namun pada saat itu santri yang dapat mengikuti
musyawarah sangat sedikit karena seleksinya sangat ketat.[18]
Diantara santri yang menjadi ulama besar setelah menyelesaikan kelas musyawarah
yaitu kyai Manaf Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo Kediri, KH Jazuli
pendiri pesantren Ploso Kediri, dan kyai Zuber pendiri Pesantren Resosari di
Salatiga.[19]
Dan masing-masing memiliki santri lebih dari 1.000 orang yang datang dari
daerah jauh.[20]
Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy adalah
salah satu dari pesantren yang masih kental dengan metode musyawarahnya. Metode
musyawarah yang diterapkan di pesantren tersebut sebenarnya sudah menjadi
tradisi yang mengakar sejak asal pendiriannya, pelaksanaan musyawarah di Pesantren
Kebon Jambu memiliki beberapa sistematika pelaksanaan hingga pada
perkembangannya mengalami berbagai modifikasi agar bernilai maksimal. Adapun
musyawarah yang berjalan sampai saat ini adalah musyawarah harian, mingguan,
bulanan, tahunan dan musyawarah sewilayah tiga Cirebon.[21]
Berdasarkan latar belakang diatas
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang seberapa besar
pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu?
B.
Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
1.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang
masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
a.
Pendidikan
literasi diharapkan mampu menjawab persoalan yang muncul akibat rendahnya minat
baca peserta didik.
b.
Berfikir
kritis (critical thinking) menjadi penting karena akan menghalangi
ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja.
c.
Literasi
dan critical thinking menjadi salah satu kecakapan yang harus dikuasi
untuk menghadapi abad XXI.
2.
Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis mencoba
mengetahui kualitas dari pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Adapun batasan masalah
pada penelitian ini adalah kajian kitab kuning berbasis musyawarah.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
diatas, penelitian ini secara umum ingin mengungkap pengaruh metode musyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan
literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.
Adapun secara terperinci penelitian
ini ingin memfokuskan pada hal-hal sebagai berikut:
1.
Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
keterampilan literasi sanri ?
2.
Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan critical thinking santri
?
3.
Apakah
keterampilan literasi kitab kuning berpengaruh pada keterampilan critical
thinking santri ?
D.
Tujuan Penelitian
Signifikansi
masalah yang dirumuskan di atas memiliki tujuan sebagai berikut:
1.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam
meningkatan keterampilan literasi sanri.
2.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam
meningkatkan keterampilan critical thinking santri.
3.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi kitab kuning terhadap
keterampilan critical thinking santri.
E.
Kegunaan Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, diantaranya:
1.
Hasil
dari penelitian ini dapat menjadi landasan dalam penerapan atau pengembangan
metode pembelajaran secara lebih lanjut.
2.
Sebagai
sumbangan karya ilmiah untuk memperkaya khasanah keilmuan khususnya di bidang
pendidikan.
3.
Informasi
yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memotivasi peneliti lain
untuk mengungkapkan sisi lain yang belum diterangkan dalam penelitian ini.
F.
Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung penelitian ini maka
penulis menampilkan acuan penelitian yang relevan diantaranya adalah :
Rani Rakhmawati.[22]
Jurnal. ”Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok
Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo-
Jawa Timur”. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup
pendidikan pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dengan penyajian
pelestarian kitab kuning. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan syawir
adalah sebagai suatu usaha untuk menjaga, melestarikan khazanah ke-ilmuan
pesantren yang khas dengan cirinya kitab kuning sekaligus menjadi suatu bekal
yang mewadahi da’wah, syiar agama di tengah-tengah perkembangan zaman, meski ada juga beberapa santri kurang bersemangat ketika mengikuti kegiatan syawir karena tingkat pemahaman terhadap kitab
kuning masih belum maksimal.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.
Dalam penelitian ini, Penulis akan membahas seberapa besar pengaruh metode
musyawarah dalam melestarikan khazanah keilmuan pesantren yang sudah di
modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu, sehingga dapat meningkatkan kualitas
literasi, dan critical thinking santri di Pesantren Kebon Jambu.
Fathur Rohman.[23]
Jurnal.”Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di
Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang”. Jurnal ini, memberikan gambaran
pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah fiqih dengan kegiatan musyawarah di
Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Dari hasil penelitian
ini, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan musyawarah merupakan bentuk pembelajaran
berbasis masalah fiqih dalam gaya pesantren. Dari segi prinsip, karakteristik,
serta tahapan pembelajaran dalam kegiatan musyawarah telah sesuai dengan konsep
pembelajaran berbasis masalah. Penelitian yang ditulis Fathur
Rohman tersebut, menjelaskan model musyawarah
telah memenuhi prinsip dan karakteristik pembelajaran berbasis masalah. Maka,
tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa musyawarah merupakan model
pembelajaran fiqih berbasis masalah ala pesantren.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini
akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah yang sudah di
modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu dalam
meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren
Kebon Jambu.
Zaenuddin.[24]”Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan
Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning”. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah Studi
multi situs dengan kasus yang ada di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dan
Hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung. Dari hasil penelitian yang ditulis Zaenuddin tersebut, hanya menjelaskan implenentasi metode
diskusi atau musyawarah dan bandungan dalam meningkatkan kualitas santri dalam
membaca kitab kuning.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini
akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking
santri Pesantren Kebon Jambu.
Mohammad
Sholeh.[25]“Kajian
Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban
Jawa Timur”. Penelitian ini pada dasarnya untuk mendeskripsikan strategi dan
metode musyawarah sebagai salah satu model dalam kajian kitab turath di
Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
proses kajian kitab turath dengan menggunakan model musyawarah atau
diskusi telah mempu membentuk tipologi berpikir santri, mulai dari kemampuan
berpikir kritis, analitis, logis dan kreatif meski ada juga beberapa santri
yang terkadang bersikap acuh tak acuh ketika mengikuti kegiatan musyawarah
karena tingkat pemahaman terhadap kitab turath masih belum maksimal.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu
Pesantren Babakan Ciwaringin. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh metode
musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking
santri Pesantren Kebon Jambu.
Merujuk kepada beberapa hasil
penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitaian yang dilakukan penulis
memiliki perbedaan dengan penelitan-penelitian sebelumnya, walaupun secara umum
sama-sama membahas tentang tema metode
Musyawarah di Pondok Pesantren, akan tetapi dari masing-masing penelitian yang disajikan
di atas memiliki kontribusi yang berbeda sesuai dengan fokus penelitian yang
dilakukan. Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah tentang pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu
Al-Islamy Cirebon.
G.
Kerangka Pemikiran
Metode musyawarah sistem pengajaran
sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari
sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti
dalam suatu seminar lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab dan merupakan latihan
bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber
argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik. Kemampaun literasi adalah kemampuan
membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat
sebagai orang yang terpelajar. Kemapuan critical thinking adalah
kemampuan berargumentasi, kemampuan berargumen sendiri akan sangat berhubungan
dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa
semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat argumentasi yang dibuat.
Tabel 1.1
Skema kerangka berfikir
|
Metode
Musyawarah |
|
· Argumen yang baik · Referensi kitab yang dapat dipertanggung jawabkan · Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan · Menerima pendapat orang lain dengan saling menghormati |
|
Kemampuan
Literasi |
Kemampuan Critical
Thinking |
|
·
Mampu mengambil informasi. ·
Mampu membentuk pemahaman yang luas. ·
Mampu mengembangkan interpretasi. ·
Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks. ·
Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks. |
· Mampu merumuskan masalah · Mampu memberikan argumentasi · Mampu melakukan deduksi dan induksi · Mampu melakukan evaluasi · Mampu mengambil keputusan dan tindakan |
Untuk menyamakan persepsi dan
menghindari adanya perbedaan pemahaman beberapa istilah dalam penelitian ini,
perlu adanya definisi dan batasan istilah yang akan dipilih dan digunakan oleh
peneliti, sebagai berikut:
1.
Metode Musyawarah Kitab Kuning
a.
Definisi dan Indikataor Metode Musyawarah
Dhofier menyatakan bahwa musyawarah, sistem pengajaran sangat
berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri
kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti
dalam suatu seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab, biasanya hampir
seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab, dan merupakan latihan bagi para
siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi
dalam kitab-kitab Islam klasik.[26]
Seringkali, pimpinan pesantren beberapa
hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan sejumlah pertanyaan (masail
diniyyah) bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari
siding dijadwal mingguan. Hari-hari sebelum acara diskusi, peserta musyawarah
biasanya menyelenggarakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah seorang
juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan masalah yang disiapkan oleh Kyainya.
Diskusi dalam kelas musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat
diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[27]
Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang
dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa
digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[28]
Adapun indikator metode musyawarah sebagai berikut:[29]
a. Toleransi dalam menghadapi pendapat orang
lain.
b. Keberanian dalam mengungkapkan pendapat
atau ide.
c. Berpikir secara sistematis, argumentatif,
objektif, rasional dan kritis.
d. Mengembangkan wawasan secara lebih
komprehensif.
e. Kritis terhadap sesuatu pernyataan dan
kesadaran membangun alternatifnya.
b.
Kitab kuning
Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau
sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah),
mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu
nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial
dan kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. [30]
2.
Definisi dan Indikataor Kemampuan Literasi
Menurut Jean E Spencer dalam
The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan
menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang
terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[31]
Adapun indikator literasi adalah sebagai berikut: [32]
1. Kemampuan mengambil informasi.
2. Kemampuan membentuk pemahaman yang luas.
3. Kemampuan mengembangkan interpretasi.
4. Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi
isi teks.
5. Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi
bentuk teks.
3.
Kemampuan Critical Thinking
a.
Definisi dan Indikataor Critical Thinking
Menurut Chaffee berfikir kritis
adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan
sebuah usaha yang dilakukan secara terorganisasi yang memahami dunia dengan
hati-hati, melalui kegiatan menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang
lain untuk memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu.
Sejalan dengan pengertian ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan bahwa
berfikir kritis senantiasa ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar, yakni analisis,
evaluasi, dan argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan kata-kata kunci
sebuah informasi dan merekonstruksi informasi tersebut, agar mampu menangkap
makna secara utuh dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi berarti menilai
kekuatan informasi atas dasar baik atau kurang baiknya argumen yang mendukung
kesimpulan dalam informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti yang disajikan
atas klaim yang disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau tanggapan yang
diberika oleh seseorang pengkritik atas informasi yang diperolehnya.[33] Adapun
indikator critical thinking adalah sebagai berikut: [34]
1.
Memformulasikan
pertanyaan yang mengarahkan investigasi.
2.
Argumen
sesuai dengan kebutuhan.
3.
Menunjukkan
persamaan dan perbedaan.
4.
Mendeduksi
secara logis.
5.
Menginterpretasi
secara tepat.
6.
Menganalisis
data.
7.
Membuat
generalisasi.
8.
Menarik
kesimpulan.
9.
Mengevaluasi
berdasarkan fakta.
10.
Memberikan
alternatif lain.
11.
Menentukan
jalan keluar.
12.
Memilih
kemungkinan yang akan dilaksanakan.
b.
Santri
Menurut Nurcholish Majid, dalam Yasmadi, asal usul perkataan
santri ada dua pendapat. Pertama berasal dari bahasa Sansakerta yaitu kata sastri
yang artinya melek hurup. Kedua, kata santri berasal dari bahasa Jawa,
yaitu Cantrik yang artinya seseorang yang selalu mengikuti seorang guru
kemana guru itu pergi menetap.[35]
Berdasarkan indikator di atas, ketika
beberapa indikator dari metode musyawarah kitab kuning tidak sesuai dengan
indikator dari kemampuan literasi dan critical thinking maka disini ada masalah yang perlu dilakukan
penelitian agar dapat mengetahui
pengaruh terhadap kemampuan literasi dan critical thinking. Maka untuk menjawab itu semua diperlukan adanya
penelitian yang mendalam. Maka hal itu yang mendorong peneliti untuk mengetahui
pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatkan kemampaun literasi
dan critical
thinking santri.
H.
Hipotesis
Adapun hipotesis positif dugaan atau jawaban sementara pada
penelitian ini dapat penulis kemukakan bahwa:
1.
Terdapat
pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu
2.
Terdapat
pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu
3.
Terdapat
pengaruh positif kemampuan literasi santri terhadap kemampuan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu
Adapun hipotesis positif atau dugaan
sementara dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka
terdapat korelasi
2.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu, maka terdapat korelasi
3.
Jika
kemampuan literasi santri memberikikan pengaruh terhadap kemampuan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi
Maka hal tersebut di atas ada Pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking, maka hipotesisnya
diterima.
Adapun hipotesis negatif yang dapat
peneliti kemukakan adalah sebagai berikut:
1.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka
tidak terdapat korelasi
2.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu, maka tidak terdapat korelasi
3.
Jika
kemampuan literasi santri tidak memberikikan pengaruh terhadap kemampuan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi
Maka hal tersebut di atas tidak ada Pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking, maka hipotesisnya
ditolak.
Dalam penelitian ini hipotesis statistiknya adalah:
1.
Hipotesis
(Ha) : ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)
2.
Hipotesis
(Ho) : tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X)
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical
thinking (Y2)
I. Sistematika
Penulisan
Untuk memberikan gambaran pembahasan
yang sistematis, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan dalam beberapa
bab dan sub bab.
Bab Pertama, berisi pendahuluan.
Dalam pendahuluan ini dikemukakan latar belakang masalah, identifikasi dan
batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,
penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis, dan sistematika penulisan.
Bab kedua, kajian pustaka, bab ini
menguarikan teori-teori tentang Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking.
Bab ketiga, akan diurai tentang
metodologi penelitian, secara umum bab ini terdiri dari tempat dan waktu
penelitian, profil pondok pesantren, metodologi penelitian, populasi dan
sampel, intrumen penelitian, uji instrument, teknik analisis data dan uji
hipotesis.
Bab keempat, akan dibahas tentang temuan
dan pembahasan penelitian Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking di pesantren kebon jambu.
Bab kelima, merupakan penutup
yang berisi kesimpulan dan Implikasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING
A.
Teori Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Terhadap
Keterampilan Literasi Dan Critical Thinking
Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok
berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran
kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif merupakan
istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik
kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa. Sebagai mana yang dinyatakan
oleh Slavin bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model
pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
secara kolaboratif[36]
yang anggotanya empat orang atau lebih dengan struktur kelompok heterogen.[37]
Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivistik
Piaget dan Vigotsky. Menurut sudut pandang teori konstruktivistik Piaget lebih menekankan kepada kondisi
individu, belajar yang baik yaitu ketika siswa aktif mencari informasi yang
mereka perlukan dan sekaligus mencari pemecahan masalahnya sendiri.[38] Sedangkan menurut Vigotsky yakni bahwa fase
mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama
antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap pada individu
tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk
kooperatif.[39]
Dengan demikian pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas
kelompok-kelompok siswa. Pernyataan Piaget dan Vigotsky tersebut sesuai apa
yang dinyatakan oleh Dhofier bahwa dalam musyawarah para siswa harus
mempelajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari pemecahan masalah yang
telah dipertanyakan beberapa hari
sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar
argumentasi yang mereka pakai.[40] Menurut
Lailatul Fitriyah dkk (2019) pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok
belajar atau bisa disebut dengan musyawarah tersebut yang kemudian melatih
keterampilan peserta didik mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Latihan menyimak terjadi ketika peserta didik mendengarkan apa yang
disampaikan oleh teman musyawarah yang lain, latihan berbicara terjadi ketika
peserta didik menyampaikan argumentasinya dan latihan menulis terjadi ketika
menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.[41]
Sementara untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, tentunya
dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks
kitab kuning yang menjadi rujukan pembahasan masalah.
Pembelajaran menggunakan metode musyawarah guru diharapkan
membentuk kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua
anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaranya
sendiri dan teman-teman satu kelompoknya. Masing-masing anggota kelompok
bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu
anggota untuk mempelajarinya juga. Pembelajaran kooperatif mempunyai pendekatan
pembelajaran diantaranya, STAD (Student Teams Achievement Divisions),
kelas jigsaw, belajar bersama, investigasi kelompok, dan penulisan kooperatif.[42]
Pendekatan pembelajaran kooperatif pada metode musyawarah yang
dipakai adalah belajar bersama, pendekatan belajar bersama diciptakan oleh David
dan Roger Johnson (1994) pendekatan ini mengandung empat komponen: (1)
interaksi tatap muka; (2) interdepedensi positif; (3) akuntabilitas individual;
dan (4) pengembangan keahlian kelompok interpersonal. Jadi selain aspek
prestasi seperti digagas Slavin, pendekatan pembejaran kooperatif Johnson ini
juga difokuskan pada perkembangan sosial emosional dan interaksi kelompok.
Dalam belajar bersama, murid bekerja dalam kelompok heterogen terdiri dari
empat sampai lima anggota untuk menyelesaikan tugas yang menekankan pada
diskusi dan team building.[43]
B.
Metode Musyawarah Kitab Kuning
1.
Pengertian Metode Musyawarah Kitab Kuning
Secara etimologi, istilah metode
berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku
kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos”
yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk
mencapai tujuan. Dalam bahasa arab metode disebut dengan Thariqat,
Sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui
untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.[44]
Pendidikan di pondok pesantren mempunyai
metode pembelajaran dalam mengkaji kitab kuning,[45] salah
satunya adalah metode musyawarah. Metode musyawarah merupakan suatu istilah khas atau lokal bagi masyarakat pesantren
dalam menyebut metode pembelajaran khas pengajian kitab kuning hingga saat ini.
Musyawarah digunakan sebagai metode pembelajaran kitab kuning dengan variasi
khusus bernuansa modern dalam keilmuan Islam. Mudaimullah mengatakan
bahwa metode musyawarah adalah sebuah sistem belajar yang bersifat dialogis emansipatoris,
yakni sistem yang menuntut anak didik menjadi subyek dalam belajar dan terlibat
aktif serta bebas dalam berpikir, menganalisis, menyampaikan pendapat,
berargumentasi dan berpolemik.[46]
Metode musyawarah atau dalam bahasa lain bahtsul
masa’il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode
diskusi atau seminar, sebagai mana yang dikatakan oleh Dhofier bahwa musyawarah, sistem pengajaran sangat berbeda dari
sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab
yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu
seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya-jawab, biasanya hampir seluruhnya
diselenggarakan dalam bahasa Arab, dan merupakan latihan bagi para siswa untuk
menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam
kitab-kitab Islam klasik.[47]
Seringkali, pimpinan pesantren beberapa
hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan sejumlah pertanyaan (masail
diniyyah) bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari
siding dijadwal mingguan. Hari-hari sebelum acara diskusi, peserta musyawarah
biasanya menyelenggarakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah seorang
juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan masalah yang disiapkan oleh kyainya.
Diskusi dalam kelas musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat
diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[48]
Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang
dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa
digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[49]
2.
Komponen Metode Musyawarah Kitab Kuning
Pada
setiap musyawarah yang dilakukan oleh para santri tidak bisa dilepaskan dari
dari lima komponen utama. Masing-masing komponen bekerja sama dalam
mensukseskan jalannya kegiatan musyawarah. Komponen-komponen tersebut adalah:[50]
a. Moderator
Moderator
adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin jalannya kegiatan musyawarah. Seorang
moderator diharuskan orang yang benar-benar memiliki kecakapan berdiskusi
sekaligus mempunyai ilmu yang cukup terhadap persoalan yang dibahas. Sebab
tugas moderator tidak hanya sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi
juga harus bisa memahami, mengkordinir
dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah
dipahami oleh peserta musyawarah.
b. Notulen
Notulen
adalah seseorang yang bertugas menulis semua hasil musyawarah dan ta’bir
yang dipakai oleh para peserta dan musahih. Hasil catatan dari notulen
selanjutnya diarsip untuk keperluan dokumentasi.
c.
Peserta
Peserta
adalah orang-orang yang terlibat dalam musyawarah. Sebelum pelaksanaan musyawarah
para peserta telah disodori persoalan yang akan dibahas dalam musyawarah
beberapa hari sebelumnya. Karena itu, dalam pelaksanaan musyawarah para peserta
biasanya membawa sebanyak mungkin referensi untuk dijadikan sumber argumentasi.
d.
Perumus
Perumus adalah seseorang yang
bertugas merangkum berbagai jawaban dan argumentasi yang telah disampaikan
dalam musyawarah. Perumus bertugas meredaksikan keputusan musyawarah dalam
redaksi yang sederhana sehingga dapat difahami oleh semua pihak. Perumus juga
berkewajiban memilih argumentasi yang sangat relevan dari sekian ta’bir/dalil
yang dikemukakan peserta.
e.
Pentashih
Pentashih
adalah seseorang yang diposisikan sebagai pengarah. Posisi pentashih dalam
musyawarah sangat strategis, sebab
mereka menjadi pihak yang mempunyai otoritas memutuskan hasil kajian dalam
musyawarah. Karena strategisnya posisi pentashih, maka mereka yang menduduki
posisi ini dipersyaratkan memiliki keilmuan yang mumpuni dan diatas rata-rata.
Biasanya posisi ini diduduki oleh para kyai, para ustadz dan santri senior,
bergantung level musyawarah yang diselenggarakan.
3.
Metodologi Pegambilan Keputusan Metode Musyawarah
Sistem pengambilan keputusan dalam
musyawarah dibuat dalam kerangka bermazhab kepada salah satu mazhab empat yang
disepakati dan mengutamakan bermazhab secara qauli (mengikuti
pendapat-pendapat yang sudah jadi) dalam lingkup mazhab tertentu. Oleh karena
itu, prosedur pengambian jawaban masalah dalam musyawarah disusun dalam urutan
sebagai
berikut:[51]
a. Keputusan musyawarah bersumber dari
kitab-kitab Madhahib al-Arba'ah. Diluar Madhahib al-Arba’ah.
tidak boleh dipakai sebab madzhab-madzhab diluar itu belum pernah dibukukan,
namun untuk permasalahan-permasalahan yang bisa ditemukan syarat dan rukunnya
boleh diikuti meskipun diluar Madhahib al-Arba’ah.
b. Dalam kasus tidak ada satu qaul/wajah/pendapat
sama sekali yang memberikan penyelesaian, maka dilakukan ilhaq al-masa’il
binaza’iriha. Namun untuk orang-orang yang sudah mencapai derajat faqih
(ahli bidang fikih) diperbolehkan menggunakan metode ilhaq dengan syarat
masalah-masalah yang diilhaqkan bukan masalah-masalah yang termasuk
kategori sulit (membutuhkan pemikiran yang panjang untuk menemukan titik
persamaannya). Begitu pula seorang faqih
diperbolehkan memakai kaidah-kaidah mazhab yang bersifat umum.
c. Tidak boleh menggunakan ta'bir berupa ayat-ayat al-Qur'an atau hadis yang
masih mentah, tanpa interpretrasi dari para ulama yang memenuhi kriteria
mufassir. Jika memakai ta'bir dari al-Qur'an atau hadis, maka harus
disertai penjelasan dari para ulama mengenai ayat-ayat atau hadis tersebut.
d. Jika memakai mazhab diluar Syafi'i supaya
dijelaskan syarat dan rukun yang berkaitan dengan masalah tersebut menurut
mazhab yang bersangkutan. Karena termasuk salah satu persyaratan taqlid.
Yaitu harus mengetahui syarat, rukun, dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan
dengan mazhab yang diikuti.
e. Menurut ulama fikih sosial dan juga
keputusan Nahdlatul Ulama, qaul da’if sebaiknya dipakai pegangan untuk
memutuskan masalah-masalah yang sudah berlaku di masyarakat. Karena keputusan musyarawah
bukan termasuk fatwa namun hanya sekedar irshad (memberi petunjuk).
Dengan catatan qaul tersebut tidak sangat lemah.
f. Teks-teks ahli fikih mengenai suatu
permasalahan yang zahirnya terjadi takhalluf (perbedaan) dan tanafi’
(saling menafikan), jka masih mungkin dijami'-kan (dicarikan titik temu)
maka wajib menjami'-kannya.
g. Menurut qaul mu'tamad,
pendapat-pendapat yang masih mutlak (tanpa ada qayyid) harus dipahami
menurut kemutlakannya, meskipun ada sebagian ulama yang menentangnya.
h. Dalam kasus ketika jawaban dicukupi oleh ‘ibarah
kitab dan disana hanya terdapat satu wajah (pendapat ulama mazhab) maka
dipakailah qaul/wajah tersebut sebagaimana diterangkan dalam ‘ibarah
tersebut.
Prosedur pemilihan qaul/wajah dilakukan
sebagai berikut:
a. Ketika dijumpai beberapa qaul/wajah
dalam satu masalah yang sama, maka diusahakan memilih salah satu pendapat.
b. Pemilihan salah satu pendapat dilakukan
dengan cara mengambil pendapat yang lebih maslahah (baik) atau yang
lebih kuat.
4.
Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning
Untuk melakukan pembelajaran dengan
menggunakan metode musyawarah, kiyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[52]
a. Peserta musyawarah adalah para santri
yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.
b. Peserta musyawarah tidak memiliki
perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk
mengurangi kegagalan dalam musyawarah.
c. Topik atau persoalan (materi) yang
dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kiyai atau ustaz pada
pertemuan sebelumnya.
d. Pada beberapa pesantren yang memiliki
santri tingkat tinggi, musyawarah dapat dilakukan secara terjadwal sebagai
latihan untuk para santri.
Kegiatan musyawarah diawali dengan
penyajian masalah oleh nara sumber yang menguasai persoalan yang diangkat.
Setelah nara sumber menyajikan masalah yang sebenarnya, moderator
mempersilahkan peserta untuk membahas dan memberikan pendapatnya disertai
dengan argumen-argumennya masing-masing, dimana setiap pendapat harus
dilengkapi dengan argumen dari pendapat lain. Argumen yang diutarakan diambil dari
kitab-kitab kuning yang mereka pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan
akhir dan akan dirumuskan oleh tim perumus atau musohih untuk kemudian disahkan
oleh majlis tashih (majlis pengesahan).[53]
e.
Indikator Metode Musyawarah
Indikator pencapaian metode musyawarah
kitab kuning antara lain sebagai berikut:[54]
f. Toleransi dalam menghadapi pendapat orang
lain.
g. Keberanian dalam mengungkapkan pendapat
atau ide.
h. Berpikir secara sistematis, argumentatif,
objektif, rasional dan kritis.
i. Mengembangkan wawasan secara lebih
komprehensif.
j. Mengasah daya kritik terhadap sesuatu
pernyataan dan kesadaran membangun alternatifnya.
C.
Literasi
1.
Pengertian Literasi
Literasi yang dalam bahasa Inggrisnya
literacy berasal dari bahasa Latin yaitu litera (huruf) yang pengertiannya melibatkan pengertian sistem-sistem tulisan
konvensi-konvensi yang menyertainya, literasi juga sering diartikan sebagai
keaksaraan.[55]
Jika dilihat dari makna harfiah, menurut Adibah dkk (2018) literasi berarti
kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Seringkali orang yang bisa
membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak bisa membaca
dan menulis disebut iliterat atau buta aksara.[56]
Sedangkan menurut Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana
bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang
untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan
menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[57]
Selain itu, Kern berpendapat
bahwa secara sempit literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca
dan menulis yang juga berkaitan dengan pembiasaan dalam membaca dan
mengapresiasikan sastra (literatur) serta melakukan penilaian terhadapnya, akan
tetapi literasi secara luas berkaitan dengan kemampuan berpikir dan belajar seumur
hidup untuk bertahan dalam lingkungan sosial dan budayanya.
Sementara McKenn dan Robinson
menjelaskan bahwa literasi dalam membaca adalah medium bagi individu untuk
dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya sehingga berhubungan erat dengan
kemampuan menulis dalam lingkungan sosial, terutama di tempat kerja dan
lingkungan tempat tinggal.
Sedangkan, Kirsch juga
mengemukakan bahwa literasi pada dasarnya adalah kemampuan “using printed
and written information fo function in society, to achieve one’s goals, and to
develop ones’s knowledge and potential.” Pengertian ini merupakan
pengembangan dari definisi The National Literacy Act di Amerika Serikat
tahun 1991 yang menerangkan bahwa literasi sebagai “an individual’s ability
to read, write, and speak in English and compute and solve problems at levels
of proficiency necessary to function on the job and in society, to achieve
one’s goals, and to develop one’s knowledge and potential.”[58]
Pada perkembangannya, menurut Yunus
Abidin dkk (2018) literasi dimaknai sebagai suatu kemampuan menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis.[59] Sedangkan
menurut Evelyn Williams English, literasi diartikan sebagai kemampuan membaca,
menulis, dan memecahkan masalah.[60]
Dalam konsep literasi, membaca diartikan sebagai usaha untuk memahami,
menggunakan, merefleksi, dan melibatkan berbagai jenis teks untuk mencapai
tujuan .[61]
Dalam hal ini, membaca bertujuan mengembangkan pengetahuan dan potensi
seseorang, serta untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Berdasarkan definisi
ini, membaca diartikan sebagai kegiatan membangun makna, menggunakan informasi
dari bacaan secara langsung dalam kehidupan dan mengaitkan informasi dari teks
dengan pengalaman pembaca.
Jadi literasi merupakan peristiwa
sosial yang melibatkan keterampilan tertentu, yang diperlukan untuk menyimpan
serta mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan. Karena literasi merupakan
peristiwa sosial, maka tradisi literasi bisa diamati dari aktifitas pribadi
seseorang, oleh karenanya ketika berbicara tradisi literasi juga berkaitan erat
dengan pendidikan, kecendekiawanan dan status sosial seseorang.[62]
Beberapa abad yang lampau, literasi
secara umum memang hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis
melalui aksara, literasi dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi lisan dan
tulisan semata. Ini membuktikan bahwa kompetensi apa yang dibutuhkan bagi insan
untuk hidup dan berbudaya pada masanya. Dengan demikian, peradaban atau
kehidupan dimasa lalu memang mengutamakan dan membutuhkan kompetensi membaca
dan menulis, karena merupakan simbol pendidikan dasar atau umum pada masa
tersebut, dan selajutnya dapat mencapai predikat sebagai masyarakat yang
berperadaban.[63]
2.
Jenis-Jenis Literasi
Menurut Ibnu Adji Setyawan[64]
istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap
merujuk pada kemampuan atau kompetensi dasar literasi yakni kemampuan membaca
serta menulis. Intinya, hal yang paling penting dari istilah literasi adalah
bebas buta aksara supaya bisa memahami semua konsep secara fungsional,
sedangkan cara untuk mendapatkan kemampuan literasi ini adalah dengan melalui
pendidikan. Sejauh ini, terdapat 9 macam literasi, antara lain :
1.
Literasi
Kesehatan merupakan kemampuan untuk memperoleh, mengolah serta memahami
informasi dasar mengenai kesehatan serta layananlayanan apa saja yang
diperlukan di dalam membuat keputusan kesehatan yang tepat.
2.
Literasi
Finansial yakni kemampuan di dalam membuat penilaian terhadap informasi serta
keputusan yang efektif pada penggunaan dan juga pengelolaan uang, dimana
kemampuan yang dimaksud mencakup berbagai hal yang ada kaitannya dengan bidang
keuangan.
3.
Literasi
Digital merupakan kemampuan dasar secara teknis untuk menjalankan komputer
serta internet, yang ditambah dengan memahami serta mampu berpikir kritis dan
juga melakukan evaluasi pada media digital dan bisa merancang konten
komunikasi.
4.
Literasi
Data merupakan kemampuan untuk mendapatkan informasi dari data, lebih tepatnya
kemampuan untuk memahami kompleksitas analisis data.
5.
Literasi
Kritikal merupakan suatu pendekatan instruksional yang menganjurkan untuk
adopsi perspektif secara kritis terhadap teks, atau dengan kata lain, jenis
literasi yang satu ini bisa kita pahami sebagai kemampuan untuk mendorong para
pembaca supaya bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang
menjadi dasar argumentasi teks.
6.
Literasi
Visual adalah kemampuan untuk menafsirkan, menciptakan dan menegosiasikan makna
dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual bisa juga kita
artikan sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis
menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar.
7.
Literasi
Teknologi adalah kemampuan seseorang untuk bekerja secara independen maupun
bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jaab dan tepat
dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian
mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi.
8.
Literasi
Statistik adalah kemampuan untuk memahami statistik. Pemahaman mengenai ini
memang diperlukan oleh masyarakat supaya bisa memahami materi-materi yang
dipublikasikan oleh media.
9.
Literasi
Informasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang di dalam mengenali
kapankah suatu informasi diperlukan dan kemampuan untuk menemukan serta
mengevaluasi, kemudian menggunakannya secara efektif dan mampu
mengkomunikasikan informasi yang dimaksud dalam berbagai format yang jelas dan
mudah dipahami.
Sedangkan menurut Ferguson,[65]
literasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1.
Literasi Dasar (Basic Literacy), literasi jenis
ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara,
membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk
mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting)
berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating),
mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta
menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan
kesimpulan pribadi.
2.
Literasi Perpustakaan (Library Literacy), lebih lanjut,
setelah memiliki kemampuan dasar maka literasi perpustakaan untuk
mengoptimalkan literasi perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang
keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada
dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara
membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan
periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi
pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan
katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi
ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau
mengatasi masalah.
3.
Literasi
Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang
berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi),
media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara
gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat bahwa media lebih sebagai hiburan
semata. Belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan
informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah
pengetahuan.
4.
Literasi
Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi
seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta
etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami
teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam
praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang
di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan
mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan
membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan
pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
5.
Literasi
Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi
teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan
memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat.
Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam
bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik.
Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu
disaring berdasarkan etika dan kepatutan.
Sesuai uraian di atas kiranya dapat
ditarik benang merahnya bahwa jenis-jenis literasi pada dasarnya mencakup
aspek-aspek perkembangan baik terkait dengan teknologi, informasi, elektronik,
kesehatan, dan lain sebagainya. Semuanya bermuara pada bagaimana mengembangkan
potensi individu untuk lebih tertarik dalam proses pembiasaan, pengembangan,
dan pembelajaran.
3.
Tingkatan Literasi
Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki
tingkatan-tingkatan yang menanjak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan
literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya.
Wells (1987) menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu: performative,
functional, informational, dan epistemic. Orang yang tingkat
literasinya berada pada tingkat performative, ia mampu membaca dan
menulis, serta berbicara dengansimbol-simbol yang digunakan (bahasa). Pada
tingkat functional orang diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku manual. Pada tingkat informational
orang diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasa. Sementara pada
tingkat epistemic orang dapat mentransformasikan pengetahuan dalam
bahasa.[66]
Dengan demikian tingkatan literasi dimulai dari tingkatan paling
bawah yaitu performative, functional, informational, dan epistemic.
4.
Prinsip
dan Tujuan Literasi
Kern dalam buku
mutu pendidikan yang dikutip oleh Hayat & Yusuf (2010) mengatakan bahwa
terdapat tujuh prinsip pendidikan berbasis literasi, yaitu:[67]
1. Literasi
berhubungan dengan kegiatan interpretasi.
Kegiatan berbahasa pada dasarnya adalah
kegiatan interpretasi terhadap realita yang dihadapi dan realita itu
ditafsirkan ke dalam penggunaan bahasa. Ketika membaca, sebenarnya kita sedang
menginterpretasikan tulisan yang kita baca. Dalam hal ini, latihan menggunakan
bahasa adalah latihan untuk mendorong siswa melakukan kegiatan interpretasi.
Berbagai bentuk latihan dapat dirancang agar siswa dapat menggunakan bahasanya
secara imajinatif, baik dengan cara menceritakan kembali apa yang sudah
dibacanya maupun dengan menerka kalimat-kalimat yang sudah dihilangkan sebagian.
2. Literasi
berarti juga kolaborasi.
Kolaborasi atau kerja sama dalam kegiatan belajar bahasa adalah tahap penting
dalam proses belajar bahasa. Bekerja berpasangan dengan teman atau bahkan
dengan gurunya sendiri harus didorong agar siswa memperoleh kepercayaan diri
sebelum dapat menggunakan bahasanya secara mandiri. Berbagai bentuk kerja sama
ini dapat diciptakan dalam keempat keterampilan bahasa yaitu menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Dalam bekerja sama ini siswa didorong untuk
berhati-hati menggunakan bahasanya, bergantung dengan siapa ia berkolaborasi.
Ini adalah bagian dari latihan penggunaan bahasa.
3. Literasi
juga menggunakan konvensi.
Konvensi adalah kebiasaan-kebiasaan yang ada
dalam budaya dan tercermin dalam berbagai aspek bahasa yang dipelajari. Belajar
bahasa juga berarti belajar menyesuaikan diri pada konvensi-konvensi baru yang
ada di dalam bahasa tersebut, termasuk struktur teks, misalnya surat undangan
resepsi dalam bahasa Inggris cenderung lebih sederhana dan to the point tanpa banyak basa basi. Termasuk dalam konvensi ini
adalah penggunaan tanda baca atau punctuation
yang merupakan indikator penting dalam kemampuan menulis.
4. Literasi
melibatkan pengetahuan budaya.
Penerapan konvensi yang benar tersebut lebih
banyak didasarkan pada pengetahuan budaya. Penggunaan bahasa tanpa mengindahkan
nilai-nilai budaya dapat menyebabkan salah pengertian atau bahkan
ketersinggungan. Termasuk dalam pengetahuan budaya ini adalah bahasa tubuh atau
bahasa isyarat (gestures) dalam
pergaulan sehari-hari yang sering kali bertolak belakang maksud dalam berbagai
budaya.
5. Literasi
juga menggunakan konvensi.
Konvensi adalah kebiasaan-kebiasaan yang ada
dalam budaya dan tercermin dalam berbagai aspek bahasa yang dipelajari. Belajar
bahasa juga berarti belajar menyesuaikan diri pada konvensi-konvensi baru yang
ada di dalam bahasa tersebut, termasuk struktur teks, misalnya surat undangan
resepsi dalam bahasa Inggris cenderung lebih sederhana dan to the point tanpa banyak basa basi. Termasuk dalam konvensi ini
adalah penggunaan tanda baca atau punctuation
yang merupakan indikator penting dalam kemampuan menulis.
6. Literasi
melibatkan pengetahuan budaya.
Penerapan konvensi yang benar tersebut lebih
banyak didasarkan pada pengetahuan budaya. Penggunaan bahasa tanpa mengindahkan
nilai-nilai budaya dapat menyebabkan salah pengertian atau bahkan
ketersinggungan. Termasuk dalam pengetahuan budaya ini adalah bahasa tubuh atau
bahasa isyarat (gestures) dalam
pergaulan sehari-hari yang sering kali bertolak belakang maksud dalam berbagai
budaya.
7. Literasi
adalah kemampuan untuk memecahkan masalah.
Kegiatan belajar mengajar dalam pendekatan ini
disarankan melibatkan proses berpikir untuk memecahkan masalah. Setiap orang
yang melakukan suatu tindak bahasa, misalnya berbicara, pada dasarnya ia sedang
memecahkan masalah tentang topik yang harus dibicarakan, cara mengungkapkannya
dan cara memilih kosakata sesuai dengan target audiences-nya. Dalam kegiatan membaca pun kita pada dasarnya
dipaksa untuk menemukan hubungan antarmakna dalam upaya memahami gagasan atau
pendapat penulisnya.
8.
Literasi adalah kegiatan refleksi.
Refleksi adalah kegiatan menilai penggunaan
bahasa dirinya sendiri dan penggunaan bahasa orang lain yang menjadi lawan
bicaranya. Secara tidak sadar, ketika kita bercakap-cakap dengan orang lain,
kita memperhatikan cara lawan bicara kira menggunakan bahasanya dan melakukan
penilaian. Apabila peggunaan bahasa itu baik, biasanya kita juga ikut
menggunakannya, baik ungkapan, kalimat, frasa maupun kosakatanya.
9. Literasi
adalah kemampuan menggunakan bahasa lisan dan tulis untuk menciptakan wacana.
Seseorang dikatakan telah memiliki tingkat
literasi yang baik apabila ia dapat meningkatkan kemampuan lisan (oracy) menuju ke arah kemampuan
menangani teks tertulis (literacy).
Tingkat literasi ini juga berhubungan dengan keterampilan hidup (life skills) yaitu kemampuan untuk
menggunakan orasi dan literasinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengisi
formulir di sekolah, mengisi formulir pengiriman uang di bank, membuat lamaran
kerja, menulis undangan pesta ulang tahun dan sebagainya.
Adapun tujuan dari literasi itu sendiri
menurut The United Nations (2012)[68]
yaitu:
1.
Membuat
kemajuan yang signifikan diantara memenuhi kebutuhan belajar dari remaja dan
dewasa, meningkatkan tingkat melek huruf sebesar 50% dan mencapai kesetaraan gender.
2.
Memungkinkan
semua peserta didik untuk mencapai tingkat penguasaan
dalam membaca dan keterampilan hidup.
3. Menciptakan lingkungan literasi yang berkelanjutan dan diperluas.
4. Meningkatkan kualitas hidup.
5.
Keterampilan Literasi
Menurut National Center for Education Statistics (NCES, 2017)[69] terdapat tujuh kunci dasar dalam literasi, yaitu:
a. Text
search skills Searching text efficiently (keterampilan mencari teks. Mencari teks secara efisien).
b. Basic reading Decoding and recognizing word
fluently (dasar-dasar membaca. Menemukan dan
mengucapkan dengan lancar).
c. Language skills Understanding the structure and
meaning of senteces as well as the relationship among senteces. (Keterampilan bahasa. Memahami struktur dan maksud kalimat yang
berhubungan dengan kalimat lainnya).
d. Inferential skills Drawing appropriate text based
inferences. (Keterampilan inferense. Menggambar teks yang sesuai berdasarka inferense).
e. Application skills Applying newly searched, inferred,
or computed information to accomplish a variety af goals. (Keterampilan aplikasi. Menerapkan hal baru dengan teliti,
disimpulkan, atau informasi dihitung untuk menyelesaikan berbagai tujuan).
f. Computation
identification skills Identifying
the calculations required to solve quantitative problems. (Keterampilan mengidentifikasi perhitungan. Mengidentifikasi
perhitungan- perhitungan yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan
kuantitatif).
g. Computation
performance skills Performing any
required calculation (by hand or with a calculator). (Keterampilan keahlian perhitungan. Keahlian melakukan perhitungan
yang diperlukan dengan tangan atau menggunakan mesin kalkulator).
6. Asas
Dasar Penilaian Literasi
Asas dasar penilaian literasi
matematika, literasi sains, literasi membaca, maupun literasi menulis menurut
Yunus Abidin dkk (2018) adalah:[70]
a. Berfikir kritis
Konsep berfikir kritis sebenarnya
bukanlah konsep baru. Dewey telah memperkenalkan konsep berfikir reflektif
sebagai padanan konsep berfikir kritis. Dalam pandangannya, berfikir kritis
merupakan pertimbangan aktif, terus-menerus, dan teliti terhadap sebuah
keyakinan atau pengetahuan yang diterima, berdasarkan alasan yang mendukungnya
dan kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.
b. Berfikir kreatif
Keterampilan berpikir kedua
yang menjadi standar penilaian literasi adalah keterampilan berpikir kreatif.
Secara umum, berpikir kreatif senantiasa dihubungkan dengan keterampilan
berpikir kritis dan pemecahan masalah. Hal ini dipahami karena berpikir kritis
juga memiliki hasil akhir berupa argumen kuat atas sebuah informasi yang
bersifat multiperspektif. Dalam konteks ini, argumen yang unik, kuat, dan baru
menjadi argumen yang berfungsi menambah khazanah ilmu pengetahuan. Letak
kreatif dalam hal ini adalah pada domain unik dan baru. Dengan alasan, sebuah
pemikiran yang unik dan baru diyakini mengandung kadar kreativitas di dalamnya.
Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah, pemecahan masalah yang dilakukan
dengan cara-cara nontradisional dan nonkonvensional dianggap sebagai pemecahan
masalah yang baik. Dalam konteks ini, pemecahan masalah tersebut dapat pula
dikatakan sebagai solusi yang mengandung kadar kreativitas.
c. Berpikir pemecahan masalah
Keterampilan yang ketiga dalam penilaian literasi adalah keterampilan
berpikir pemecahan masalah. Dewasa ini, kompetensi pemecahan masalah merupakan
tujuan utama proses pendidikan berbagai negara di dunia. Hal ini sejalan dengan
keyakinan bahwa pemerolehan dan peningkatan kompetensi pemecahan masalah
menjadi dasar bagi siswa untuk belajar di masa depan, berpartisipasi secara
efektif dalam masyarakat, serta untuk melakukan berbagai kegiatan pribadinya.
Dalam hal ini, siswa harus mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari ke
dalam situasi baru yang akan dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk
saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa kekuatan pemecahan masalah yang dimiliki siswa menjadi hal
utama yang akan bermanfaat baginya, dalam menghadapi tantangan dalam hidup
dimasa depan.
7. Indikator
Literasi
Ditinjau dari aspeknya, indikator
literasi mengukur lima aspek sebagai berikut.
6.
Kemampuan mengambil informasi.
7.
Kemampuan membentuk pemahaman yang luas.
8.
Kemampuan mengembangkan interpretasi.
9.
Kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.
10. Kemampuan merefleksikan äan mengevaluasi
bentuk teks.
Kemampuan mengambil informasi yakni kemampuan mengambil informasi yang
disajikan terpisah dalam teks. Kemampaun membentuk pemahaman yang luas dan
mengembangkan interpretasi menghendaki pembaca untuk secara fokus membangun
hubungan antar informasi dalam teks. Tugas ini mengharuskan pembaca untuk
membentuk pemahaman yang luas, sekaligus mengembangkan interpretasi. Pada
dasarnya, kemampuan ini adalah kemampuan pembaca untuk mengintegrasikan dan
menginterpretasikan berbagai informasi dalam sebuah teks. Kemampuan merefleksi
dan mengevaluasi isi teks, serta merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks,
dikelompokkan bersama ke dalam kategori aspek merefleksi dan mengevaluasi.
Keduanya membutuhkan pembaca untuk menarik pengetahuan di luar teks dan
mengaitkannya dengan apa yang sedang dibaca. Merefleksikan dan mengevaluasi isi
teks senantiasa berkenaan dengan substansi nosional teks, serta merefleksi dan
mengevaluasi bentuk teks berkenaan dengan struktur dan fitur formal sebuah
teks.
D. Berfikir Kritis (Critical
Thinking)
1.
Pengertian Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Realitas bagi pemikir sekuensial abstrak adalah dunia teori
metafisis dan pemikiran abstrak. Mereka suka berpikir dalam konsep dan
menganalisis informasi. Proses berpikir
mereka logis, rasional dan intelektual.[71]
Aktivitas favorit pemikir sekuensial
abstrak adalah membaca,
dan jika suatu
proyek perlu diteliti, mereka
akan melakukannya dengan
mendalam. Mereka ingin mengetahui sebab-sebab
di balik akibat
dan memahami teori serta
konsep. Para pemikir sekuensial abstrak biasanya adalah filsuf-filsuf
besar dan ilmuwan.[72]
Tipe berpikir ini memiliki kesamaan ciri dengan berpikir kritis.
Yakni salah satu kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang yang berguna
untuk meningkatkan kemampuan bernalar secara mendalam ketika menghadapi suatu permasalahan. Berfikir kritis menurut John Deway,
berfikir kritis adalah pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti
mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja
dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang
rasional.[73]
Berdasarkan pengertian tersebut, dalam pandangan Dewey menjelaskan
bahwa kata kunci berfikir kritis terletak pada kata aktif. Artinya, berfikir
kritis merupakan proses aktif dalam memahami dan mengevaluasi sebuha informasi,
dan tidak begitu saja menerima semua informasi tersebut. Kata kunci kedua
terletak pada kata terus-menerus dan teliti, yakni berfikir kritis adalah
proses memikirkan sesuatu secara mendalam sebelum membuat sebuah kesimpulan
ataupan membauat kesimpulan akhir. Kata kunci berikutnya adalah alasan,
kesimpulan, dan kecenderungan, yang menandakan bahwa konsep ini berfikir kritis
adalah penalaran. Walaupan penalaran bukan satu-satunya aspek berfikir kritis,
keterampilan bernalar diyakini sebagai elemen utama bagi terbentuknya
keterampilan berfikir kritis.
Facione menyatakan bahwa mendefinisikan berfikir kritis sangat
mudah, yakni berfikir kritis adalah kemampuan memberikan jawaban yang bukan
bersifat hafalan. Berfikir kritis bukanlah mengingat kembali informasi yang
diperoleh secara sederhana, serta bukan pula keterampilan berfikir yang tidak
logis dan tidak rasional. Berfikir kritis adalah berfikir reaktif dan naluriah.
Seseorang tidak berfikir kritis cenderung langsung membuat kesimpulan atas
sebuah informasi yang sebenarnya belum jelas. Ia akan gagal mengenali bias
informasi tersebut dan cenderung tidak mempertimbangkan berbagai perspektif
yang mungkin ada. Seseorang yang kemampuan berfikir kritisnya rendah, akan
mengalami kesulitan dalam mengtasi
masalah atau tantangan. Hal ini kareana gagal untuk memahami dan mengatur
fakta-fakta penting dari sebuah situasi, merasa terganggu oleh informasi yang
tidak penting, kurang tekun dalam memecahkan masalah dan merancang solusi yang
bersifat samar-samar, serta tidak sesuai dengan situasi tertentu.[74]
Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang
aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan sebuah usaha yang dilakukan
secara terorganisasi yang memahami dunia dengan hati-hati, melalui kegiatan
menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang lain untuk memperjelas dan
meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu. Sejalan dengan pengertian
ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan bahwa berfikir kritis senantiasa
ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar, yakni analisis, evaluasi, dan
argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan kata-kata kunci sebuah informasi
dan merekonstruksi informasi tersebut, agar mampu menangkap makna secara utuh
dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi berarti menilai kekuatan informasi atas
dasar baik atau kurang baiknya argumen yang mendukung kesimpulan dalam
informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti yang disajikan atas klaim yang
disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau tanggapan yang diberika oleh
seseorang pengkritik atas informasi yang diperolehnya.[75]
Berdasarkan ketiga aktivitas berfikir kritis diatas, dapat
dikemukakan bahwa salah satu hal yang menjadi dasar kemampuan berfikir kritis
adalah kemampuan berargumentasi. Kemampuan berargumen sendiri akan sangat
berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat
diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat
argumentasi yang dibuat. Bertemali dengan konsep ini, Harrison (2009)
menyatakan bahwa argumen sangat berhubungan dengan kebenaran, kekuatan logika, dan
hal-hal yang menguatkannya. Kebenaran merupakan bagian dari pernyataan,
kekuatan logika merupakan bagian dari argumen (hubungan antara premis dan
kesimpulan), dan hal-hal yang menguatkan merupakan properti menyeluruh atas
semua argumen. Berdasarkan kenyataan ini, focus utama berfikir kritis pada
dasarnya berkenaan dengan bagaimana sebuah argumen dibunyikan. Oleh sebab itu,
keterampilan berfikir kritis lebih jauh sering dikaitkan dengan keterampilan
menginterpretasi, keterampilan memverifikasi, dan keterampilan
berlogika/bernalar.
Lebih jauh tentang keterkaitan antara berpikir kritis dan kemampuan
berargumen, Rainbolt dan Dwyer menyatakan bahwa berpikir kritis adalah
keterampilan mengevaluasi argumen-argumen yang dibuat orang lain dengan benar,
serta membuat sendiri argumen-argumen yang baik dan benar. Berpikir kritis juga
dapat dikatakan sebagai keterampilan membuat keputusan berdasarkan alasan yang
baik dan benar. Keterampilan ini diperoleh melalui serangkaian proses
merefleksi, menganalisis, dan mengevaluasi secara efektif berbagai isu atau
masalah yang ditemukan dalam kehidupan. Melalui proses ini, akan diketahui
alasan-alasan yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai premis, serta akan
diperoleh keyakinan yang didukung alasan tersebut yang selanjutnya disebut
sebagai sebuah simpulan.
Bertemali dengan tiga aktivitas dasar berpikir kritis, berpikir
kritis dapat dipandang sebagai aktivitas berpikir secara analitis dan disengaja,
serta melibatkan pemikiran alamiah. Berpikir kritis mempakan upaya mengolah
pengetahuan untuk mengidentiükasi hubungan antara disiplin ilmu dalam rangka
mencari solusi potensial kreatif, untuk memecahkan masalah tertentu. Seseorang
pemikir kritis akan menggunakan kemampuan reflektifnya dalam mengambil
keputusan dan bijaksana dalam memecahkan masalah melalui kemampuanya menganalisis
situasi, mengevaluasi argumen, dan menarik kesimpulan yang tepat. Pemikir
kritis memiliki gairah untuk mencari kebenarm bahkan ketika kebenaran tersebut
bertentangan dengan keyakinan lama yang dipegangnya.
Selain sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman, berpikir
kritis juga dilandasi oleh sikap dan perilaku seseorang. Bertemali dengan kenyataan
ini‚ pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki sikap dan perilaku adil,
berpikiran terbuka, analitis, reflektif, aktif, skeptis, dan bebas dari
Pengaruh pihak lain (merdeka). Dalam konteks ini, pemikir kritis harus siap
menerima kenyataan bahwa keyakinan yang dipegangnya selama ini bisa saja harus
diubah dengan keyakinan baru. Pemikir kritis bukanlah seseorang yang mendebat
segala sesuatu, melainkan hanya mengkritisi hal atau informasi yang tingkat
kebenaran bukti dan faktanya rendah. Pemikir kritis adalah orang merdeka yang
menyampaikan segala pandangannya dengan hanya berdasar pada pengetahuan dan
pengalamannya, dan bukan berdasarkan atas pengaruh orang lain. Sejalan dengan
kenyataan ini, berpikir kritis seyogianya tidaklah dilekati nilai rasa negatif,
melainkan harus dimaknai dan nilai secara positif. Berpikir kritis adalah keterampilan
mengevaluasi pengetahuan untuk secara kreatif mengembangkan pengetahuan baru
sehingga keterampilan ini juga sering dipadankan dengan istilah keterampilan
berpikir kritis-kreatif.
Lebih jauh, berpikir kritis adalah kemampuan untuk mempertimbangkan
berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, memproses informasi ini
secara kreatif dan logis, menantang dan mengevaluasi kebenaran informasi
tersebut, menganalisis dan membuat kesimpulan akhir Yang dianggap dapat
dipertahankan dan dibenarkan. Dalam tataran lain, berfikir kritis juga dapat
diartikan sebagai keterampilan menganalisis situasi berdasarkan fakta atau
peristiwa untuk membuat sebuah keputusan atau kesimpulan dengan mempertimbangkan
faktor empati, sejarah, dan budaya. Berpikir kritis juga dapat dikatakan
sebagai upaya memahami sebuah subjek, memikirkan kebenaran subjek tersebut,
mengapresiasi subjek tersebut. memahami keunggulan dan kelemahannya, serta
mengembangkan satu sudut pandang atas subjek tersebut.
Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, The Partnership for
21st Century Skills (Trilling dan Fadel, 2012) mengidentifikasi empat
bidang keterampilan berpikir kritis, yakni (a) penalaran secara efektif, (b)
penggunaan sistem berpikir‚ (C) pembuatan penilaian dan keputusan, serta (d)
pemecahan masalah. Proses berpikir ini mengharuskan seseorang untuk meneliti
berbagai sumber informasi dan mengidentifikasi informasi kunci yang relevan
Pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,
memiliki dedikasi yang baik dalam memahami keinginannya untuk mendapatkan
informasi atau bukti yang dapat dipercaya, dan memiliki kemampuan menilai
tujuan secara reflektif berdasarkan pertimbangan atas bukti tertentu. Untuk
membuat keputusan dan mengevaluasi dampak dari tindakan yang dipilihnya,
pemikir kritis menggunakan beberapa proses berpikir sekaligus.[76]
2.
Langkah-Langkah Dalam Berfikir Kritis
Sebagai
sebuah keterampilan atau kecakapan, berpikir kritis tidak bisa diperoleh dalam
waktu singkat tanpa latihan atau pembiasaan. Karena berpikir kritis adalah
sikap (attitude), kebiasaan (habit), keterampilan (skills),
dan komitmen untuk terus mempertanyakan sesuatu, satu-satunya jalan untuk
memiliki sikap demikian adalah dengan melatih diri dan terus mengembangkannya.
Beberapa tahapan atau langkah di bawah ini diusulkan sebagai upaya untuk
mengembangkan kemampuan bersiap kritis. Sekali lagi, langkah-langkah ini jangan
sekadar dihafal tanpa mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.[77]
Dalam
mengembangkan berpikir kritis, langkah-langkah berikut perlu dilakukan.
1)
Mengenali
masalah. Pengenalan terhadap masalah merupakan langkah pertama untuk
menunjukkan berpikir kritis. Jangan pernah menanggapi sesuatu, kalau Anda tidak
pernah mengenal apa masalah utamanya. Seperti seorang dokter yang tidak mungkin
mendiagnosa suatu penyakit tanpa mengenal dan mengerti gejala-gejala penyakit
yang diderita pasien, demikian juga seorang yang berpikir kritis harus
mengidentiükasi persoalan lebih dulu sebelum menarik kesimpulan atasnya.
2)
Menemukan
cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah. Setelah berhasil
mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah mencari cara memecahkan
masalah tersebut. Pengetahuan yang lebih luas dan usaha kreatif untuk
mencarinya adalah sesuatu yang penting untuk mendukung berpikir kritis.
3)
Mengumpulkan
dan menyusun informasi yang diperlukan untuk penyelesaian masalah. Seperti
pengetahuan yang luas diperlukan dalam mengatasi masalah, demikian halnya
informasi yang penting yang terkait dengan persoalan perlu dikumpulkan. Informasi
yang cukup membuat seseorang mampu menilai sesuatu secara tepat dan akurat.
4)
Mengenal
asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. Artinya, seorang berpikir
kritis perlu mengetahui maksud atau gagasan-gagasan di balik sesuatu yang tidak
dinyatakan oleh orang lain. Di sini dituntut kemampuan analisis yang tajam.
5)
Menggunakan
bahasa yang tepat, jelas, dan khas dalam membicarakan suatu persoalan atau
suatu hal yang diterimanya. Istilah-istilah yang gunakan dalam menanggapi
persoalan haruslah berkaitan dengan topik yang dibahas. Jangan menggunakan
istilah yang sama sekali tidak terkait dengan pembahasan. Penggunaan istilah
demikian akan mengaburkan persoalan dan menambah masalah baru.
6)
Mengevaluasi
data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan.
7)
Mencermati
adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan.
8)
Menarik
kesimpulan-kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan sedang dibicarakan.
3.
Kemampuan Dasar Berfikir Kritis
Satu hal penting yang sangat ditekankan dalam berpikir kritis dan
ini tampak terutama dalam pemikiran Edward Glaser maupun Richard W. Paul di
atas adalah bahwa berpikir kritis menuntut dipenuhinya beberapa kemampuan
dasar. Kemampuan-kemampuan dasar itu dapat diuraikan secara singkat di bawah
ini.
1)
Kemampuan
untuk menentukan dan mengambil posisi yang tepat dalam mendiskusikan atau
menyoal sebuah isu. Artinya, kita harus menentukan posisi yang tepat terhadap
sebuah permasalahan yang kita hadapi. Dengan kata lain, kita tidak boleh berada
dalam posisi yang tidak jelas. Kita harus menempatkan diri pada tempat yang
jelas. Jangan membiarkan diri bimbang dalam menentukan posisi.
2)
Pemikiran
yang kita berikan harus relevan dengan topik yang sedang dibicarakan.
3)
Argumen
yang kita sampaikan harus rasional. Dengan kata lain klaim harus bisa
dipertanggung jawabkan secara rasional.
4)
Dengan
alasan-alasan yang jelas, memutuskan untuk menerima atau menolak sebuah ke putusan
atas klaim yang dibuat oleh orang lain.
5)
Keputusan
tersebut harus datang dari dalam diri sendiri, dan bukan karena dipengaruhi
oleh faktor-faktor luar.
4.
Komponen Berpikir Kritis
Brookfield
mendefinisikan lima aspek dan empat komponen berpikir kritis. Menurutnya,
berpikir kritis terdiri dari aspek-aspek, yaitu berpikir kritis adalah
aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis adalah proses bukan
hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya,
berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir
kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir
kritis, yaitu:[78]
1)
Identifikasi
dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis.
2)
Menarik
pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis.
3)
Pemikir
kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif.
4)
Mengimajinasikan
dan menggali alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.
5.
Karakteristik Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis, yang
dapat membantu seorang individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh
sebab itu kemampuan berpikir kritis ini mempunyai karakteristik tertentu yang
dapat dilakukan dan dipahami oleh masing-masing individu. Seifert dan Hoffnung
menyebutkan beberapa komponen berpikir kritis, yaitu:[79]
1)
Basic
operations of reasoning. Untuk
berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan,
menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkahlangkah
logis lainnya secara mental.
2)
Domain-specific
knowledge. Dalam menghadapi suatu problem,
seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu
konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan
siapa yang memiliki konflik tersebut.
3)
Metakognitive
knowledge. Pemikiran kritis yang efektif
mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar
memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan
mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi
tersebut.
Sedangkan menurut Beyer Karakteristik berpikir kritis, dijelaskan
secara lengkap sebagai berikut:[80]
1)
Watak
(Dispositions), seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis
mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek
terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian,
mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika
terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.
2)
Kriteria
(Criteria), dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau
patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk
diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa
sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan
menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan
fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari
logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.
3)
Argumen
(Argument), argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan,
penilaian, dan menyusun argumen.
4)
Pertimbangan
atau pemikiran (Reasoning), yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan
dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji
hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
5)
Sudut
pandang (Point of view), sudut pandang adalah cara memandang atau
menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang
berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut
pandang yang berbeda.
6)
Prosedur
penerapan kriteria (Procedures for applying criteria), prosedur
penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut
akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil,
dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.
6.
Indikator Berpikir Kritis (Critical Thinking)
Menurut Ennis dalam Costa, yang
dikutif oleh Mohammad Soleh terdapat 12 indikator berpikir kritis yang
terangkum dalam 5 kelompok keterampilan berpikir, yaitu memberikan penjelasan
sederhana (elementary clarification), membangun keterampilan dasar (basic
support), menyimpulkan (interfence), membuat penjelasan lebih lanjut (advance
clarification), serta strategi dan
taktik (strategy and tactics).[81]
Jika dijabarkan, kedua belas
indikator tersebut adalah: 1) Merumuskan masalah; 2) Menganalisi argumen; 3)
Menanyakan dan menjawab pertanyaan; 4) Menilai kredibilitas sumber informasi;
5) Melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi; 6) Membuat deduksi
dan menilai deduksi; 7) Membuat induksi dan menilai induksi; 8) Mengevaluasi;
9) Mendefinisikan dan menilai definisi; 10) Mengidentifikasi asumsi; 11)
Memutuskan dan melaksanakan; dan 12) Berinteraksi dengan orang lain.
Kuswana menjelaskan bahwa berpikir
kritis merupakan analisis situasi masalah melalui evaluasi potensi, pemecahan
masalah, dan sintesis informasi untuk menentukan keputusan.[82]
Filsaine dan Kusnawa membuat indikator berpikir kritis menurut Ennis dalam
bentuk tabel sebagai berikut:[83]
Tabel 2.1.
Indikator Berpikir Kritis Ennis
|
Kompetensi Berpikir Kritis |
Indikator-Indikator |
|
|
Merumuskan masalah |
1.
|
Memformulasikan pertanyaan yang mengarahkan investigasi. |
|
Memberikan argumentasi |
2.
|
Argumen sesuai dengan kebutuhan. |
|
3.
|
Menunjukkan persamaan dan perbedaan. |
|
|
Melakukan deduksi |
4.
|
Mendeduksi secara logis. |
|
5.
|
Menginterpretasi secara tepat. |
|
|
Melakukan induksi |
6.
|
Menganalisis data. |
|
7.
|
Membuat generalisasi. |
|
|
8.
|
Menarik kesimpulan. |
|
|
Melakukan evaluasi |
9.
|
Mengevaluasi berdasarkan fakta. |
|
10.
|
Memberikan alternatif lain. |
|
|
Mengambil
keputusan dan tindakan |
11.
|
Menentukan jalan keluar. |
|
12.
|
Memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan. |
|
Sumber: (Filsaime, 2008: 81)
E. Kitab
Kuning
1.
Pengertian Kitab Kuning
Kitab kuning Secara
lughawi (etimologi) diartikan sebagai kitab yang berwarna kuning, karena
kertas-kertas yang dipergunakan berwarna kuning atau karena terlalu lamanya
kitab tersebut disimpan atau dipergunakan sehingga berwarna kuning. Biasanya
kualitas kertasnya rendah dan kadang-kadang lembarannya pun lepas tak terjilid
sehingga mudah diambil bagian-bagian yang diperlukan tanpa harus membawa kitab
secara utuh. Sedangkan secara istilahi (Terminologi) kitab kuning diartikan
sebagai kitab yang berisi ilmu-ilmu keislaman, khususnya ilmu fiqih yang
ditulis dan dicetak dengan huruf Arab dalam bahasa Arab atau Melayu/Jawa/Sunda
dan sebagainya tanpa memakai harakat atau syakal (tanda baca/baris) sehingga
disebut juga “Kitab Gundul”.[84]
Kitab tersebut ditulis
oleh penulisnya dalam waktu sejarah yang sangat jauh dari kehadirannya
sekarang, dan karena itu, orang sering menyebutnya sebagai “kitab kuno”.
Pengajaran kitab-kitab ini, meskipun berjenjang sesuai dengan berat ringannya
pembahasan, materi yang diajarkan kadang-kadang berulang-ulang, tetapi pada
jenjang yang lebih berat terjadi pendalaman dan perluasan wawasan santri.
Misalnya, dalam ilmu fikih, santri yang telah mempelajari kitib tipis mulai
dari pokok bahasan taharah, akan memulai pokok bahasan itu ketika mempelajari
kitab yang lebih tinggi.[85]
Perjenjangan
berdasarkan kitab yang dipelajari santri, dalam pelaksanaanya tidaklah menjadi
suatu kemutlakan. Suatu pesantren dapat saja memberikan tambahan atau melakukan
inovasi atau mengajarkan kitab-kitab yang lebih popular dan efektif.[86]
Jumlah teks klasik
(kitab kuning) yang diterima pesantren sebagai ortodoks (al-kutub
al-mu’tabaroh) pada prinsipnya terbatas. Ilmu yang terkandung dalam kitan
klasik tersebut dianggap sesuatu yang sudah bulat dan tidak dapat ditambah,
hanya bisa diperjelas dan dirumuskan kembali. Meskipun terdapat karya-karya
baru, namun kandungannya tidak berubah.[87]
2.
Sejarah Perkembangan Kitab Kuning
Sangatlah
mungkin sejauh bukti-bukti historis yang tersedia dikatakan bahwa kitab kuning
menjadi text book, reference, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren,
seperti yang kita kenal sekarang, adalah baru dimulai pada abad ke-18 M.
bahkan, cukup realistis juga memperkirakan pengajaran kitab kuning secara
massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-19 M, ketika
sejumlah ulama Nusantara, khususnya jawa, kembali dari program belajarnya di
Mekkah.[88]
Namun,
realitas ini tidak berarti bahwa kitab kuning, sebagai produk intelektual,
belum ada pada masa-masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat,
paling tidak sejak abad ke-16 M. Sejumlah kitab kuning, baik dengan menggunakan
bahasa Arab, Melayu, maupun Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan
kajian mengenai Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak
keilmuan yang dicermainkan kitab kuning bagaimanapun juga tidak bisa dilepaskan
dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang kira-kira sejak lima abad
sebelum pembakuan kitab kuning di pesantren-pesantren.[89]
Hal
ini diperkuat dengan pernyataan Martin Van Bruinessen bahwa lembaga pesantren
belum ada sebelum abad ke-18 tidak berarti bahwa kitab kuning tidak dipelajari
sebelumnya. Kitab-kitab klasik berbahasa Arab jelas sudah dikenal dan
dipelajari pada abad ke-16. Beberapak kitab pada zaman itu sudah diterjamahkan
ke dalam bahasa Jawa dan Melayu sementara beberapa pengarang Indonesia telah
menulis kitab-kitab dalam bahasa tersbut dengan gaya dan isi yang serupa dengan
kitab ortodoks. Sekitar tahun 1600, sejumlah naskah Indonesia berbahasa Melayu,
Jawa dan Arab dibawa ke Eropa. Mereka memberi gambaran berharga, meskipun belum
sempurna, tentang tradisi keilmuan Islam di Nusantara saat itu.[90]
Kitab-kitab
yang merupakan penopang utama tradisi keilmuan Islam ditulis pada abad ke-10
sampai dengan abad ke-15 M. Beberapa karya penting ditulis sebelum periode
tersebut, dan beberapa karya baru dengan corak yang sama terus ditulis, tetapi
sejak akhir abad ke-15, pemikiran Islam tidak mengalami kemajuan yang berarti.
Pola pemikiran dalam ilmu-ilmu keislaman tetap sama.[91]
Menurut Taufik Abdullah yang dikutip oleh Affanfi Mochtar[92]
pada abad ke-16 M. ajaran-ajaran Islam mulai merambat dalam kehidupan masyarakt
luas, mulai tingkat atas di pemerintahan hingga lapisan masyarakat kecil. Sejak
itulah kitab kuning mulai masuk dan menjadi teks resmi yang dijadikan pegangan
dalam hidup beragama dan bermasyarkat. Penulisan-penulisan kitab kuning juga
mulai dilakukan oleh ulama Nusantara, sepertia di Aceh pada tahun 1603 M.
Bukhari al-Jauhari sudah menulis kitab Tajus-Salathin yang berisikan
teori-teori mengatur negara. Kitab inilah yang diyakini oleh taufik Abdullah
yang memiliki peran dalam merumuskannya ortodoks kraton di Nusantara.
Kemudian,
abad ke-12 H. atau abad ke-17 M. hingga abad ke-13 H./19 M. adalah masa
keemasan Islam di Nusantara dengan lahirnya ilmuwan muslim dan ratusan kitab
kuning karya anak bangsa. Sebut saja Syekh Nawawi Banten yang karya-karyanya
mewarnai dinamika intelektual Islam di Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Karya
ulama yang dijuluki Ulama al-Hijaz oleh ulama di dua kota suci Makkah dan Madinah ini diperkirakan memiliki
karya kitab kuning sebanyak 11.155 buah. Sekitar 50-an di antaranya digunakan
dalam kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia dan Malaysia, seperti kitab Ats-Tsimar
al-Yani’ah Syarh Riyadhil-Badi’ah dan Uqudul-Lujain yang membahas
relasi suami istri.[93]
3.
Materi Ajar Kitab Kuning
Kitab-kitab kuning yang diajarkan sebagai
materi pembelajaran di pesantren secara sederhana dapat dikelompokkan kedalam
delapan bidang ilmu, yaitu nahwu (syntax) dan sharaf (morfologi),
fikih, ushul fikih, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, dan cabang-cabang
lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang
sangat pendek sampai teks yang terdiri dari berjilid-jilid tebal mengenai
hadits, tafsir, fiqh, usul fiqh dan tasawuf. Kesemuanya dapat pula digolongkan
ke dalam tiga kelompok tingkatan, yaitu: 1. Kitab dasar, 2. Kitab tingkat
menengah, dan 3. Kitab tingkat tinggi.[94]
Pembelajaran biasanya berlangsung mengikuti pola pengajaran tuntas kitab yang
dijadikan rujukan utama suatu pondok pesantren sesuai dengan keahlian kiainya.[95]
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Kebon Jambu
Al-Islamy yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon
Provinsi Jawa Barat. Adapun waktu yang digunakan untuk penelitian ini yaitu
terhitung dari tanggal 20 September sampai 20 Desember 2019. Adapun jadwal penelitian
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Waktu Penelitian
|
No |
Nama Kegiatan |
September 2019 |
Oktober 2019 |
November 2019 |
Desember 2019 |
||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1.
|
Persiapan |
|
|
X |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Studi pustaka |
|
|
|
X |
X |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Observasi |
|
|
|
|
|
X |
X |
X |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Analisis data |
|
|
|
|
|
|
|
|
X |
X |
X |
|
|
|
|
|
|
5.
|
Penyusunan
laporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
X |
X |
X |
X |
|
B.
Profil Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy
1.
Sejarah Singkat Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy
Pondok Kebon Jambu
Al-Islamy didirikan oleh KH. Muhammad dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada tanggal
07 November 1993[96] di bawah naungan Yayasan
Tunas Pertiwi. terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.[97]
Pengambilan nama “Kebon Jambu” dilatar belakangi upaya mengabadikan aspek sejarahan
geografisnya, di mana dahulunya adalah belantara kebun yang diisi pepohonan
jambu biji oleh KH. Amrin Hannan bapak dari Nyai Hj. Masriyah Amva sekitar
tahun 1980-an.[98]
Sedangkan sebutan
Al-Islamy bukanlah suatu sebutan yang tanpa sejarah. Mulanya nama pondok ini
hanyalah Kebon Jambu. Pada masa awal berdiri, Pondok Kebon Jambu menerima
kiriman bantuan buku-buku dan kitab-kitab untuk pembuatan perpustakaan dari
suatu lembaga pemerintah di Jakarta. Pada waktu itu team pengirim bantuan
buku-buku dan kitab-kitab yang bertugas mencari alamat kebingungan, setelah
berkeliling mencari-cari pondok yang bernama Pondok Al-Islamy di desa Babakan
kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon ternyata tidak ditemukan. Akhirnya
mereka berinisiatif untuk mendatangi balai desa Babakan dan menanyakan langsung
kepada aparat desa, ternyata aparat desa pun tidak mengetahui nama pondok
Al-Islamy (karena memang tidak ada). Setelah itu, ada dari salah satu aparat
yang menanyakan, siapa nama pengasuhnya, disebutkanlah nama KH. Muhammad, maka
jadi jelaslah, alamat yang mungkin dimaksud pengirim tersebut adalah Pondok
Kebon Jambu (karena hanya ada satu nama pengasuh KH. Muhammad pada masa itu).
Setelah kejadian itu, Pondok Kebon Jambu diberi tambahan nama menjadi Pondok
Kebon Jambu Al-Islamy. Ini dilakukan agar laporan pengiriman buku-buku dan
kitab-kitab telah sampai pada alamat yang dituju, yaitu Pondok Al-Islamy alias
Pondok Kebon Jambu Al-Islamy yang diasuh oleh KH. Muhammad.[99]
Sama seperti pondok
pesantren lainnya, Pondok Kebon Jambu mengajarkan kitab-kitab klasik atau yang
biasa disebut dengan kitab kuning sebagai kurikulumnya, dengan menggunakan
metode pengajaran klasikal khas pesantren seperti bandungan, sorogan, dan
musyawarah. Pondok Kebon Jambu termasuk dalam
kategori pesanten khalaf dimana pondok pesantren
dengan pendekatan modern, melalui satuan pendidikan madrasah, maupun pendidikan
Formal, ataupun yang lainnya, tetapi tetap mempertahankan pendekatan klasikal
khas pesantren. Pembelajaran pada pondok pesantren khalaf juga dilakukan secara
berjenjang dan berkesinambungan, dengan satuan program yang didasarkan pada
satuan waktu, seperti catur wulan, semester, tahun ataupun kelas dan
seterusnya.[100] Hal
tersebut terbukti bahwa di Pondok Kebon
Jambu terdapat madrasah yang dulu dikenal
dengan Madrasah Tahsinul Akhlaq Assalafiyah (MTAS), sekarang berganti nama
menjadi Madrasah Tahsinul Akhlaq Kebon Jambu (MTAKJ).[101]
Dan juga terdapat sekolah formal seperti SMPTP, MATP dan Ma’had Aly Kebon
Jambu.[102] Tidak hanya itu Pondok Kebon Jambu juga
menerapkan sistem pengajaran kitab kuning
di luar pendidkan Madrasah dan pendidkan formal berupa jenjang kelas dari mulai
tingkat persiapan lalu naik ke tingkat 1 (fasholatan) hingga tingkat 6 (fathul
mu’in). Kenaikan tingkatan ini dilakukan setiap tahunnya dengan seleksi dan ujian semester setiap enam bulan
sekali yang dilakuan sangat ketat.[103]
2.
Musyawarah di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy
Sebuah model pembelajaran akan berjalan dengan
maksimal apabila didukung oleh sistem yang baik. Karenanya, di Pondok Kebon
Jambu dibentuk suatu lembaga khusus untuk mengakomodir kegiatan musyawarah yaitu
Majelis
Musyawaroh (MAJROH).
Lembaga ini sebagai manifestasi program kerja Departemen Musyawarah Pondok
Kebon Jambu. Dalam program kerjanya departemen ini bertugas (1) Meningkatkan
kualitas musyawarah, (2) Mengadakan musyawarah shughro satu bulan sekali
setiap selasa wage, dan musyawarah kubro satu tahun dua kali se-wilayah
Pesantren Babakan Ciwaringin, dan musyawarah yang biasa disebut dengan Bahtsul Masail se-wilayah III Ciayumajakuning ataupun Se-Jawa
Barat (jangka panjang pra-akhirussanah) (3) Membukukan hasil musyawarah serta mengumumkan pada publik
dan (4) Meningkatkan pemantauan musyawarah kitab kuning.
Dalam kinerjanya, lembaga ini akan bersinergi
dengan pengurus madrasa, Pendidikan Pondok Kebon Jambu dan organisasi santri di
semua tingkatan. Dimana masing-masing antara pengurus madrasah, pengurus
pendidikan Pondok dan organisasi santri juga memiliki semacam seksi khusus yang
menangani musyawarah dengan program kerja yang hampir sama dengan Majelis
Musyawaroh.
Di
Pondok Kebon Jambu, musyawarah menjadi
salah satu forum diskusi yang sering dilakukan oleh para santri, dengan
eksistensi memecahkan sebuah masalah baik itu yang sudah terungkap dalam ta’bir-ta’bir kitab salaf atau masalah-masalah kekinian yang belum terdeteksi hukumnya.
Sebetulnya metode musyawarah ini, diselenggarakan hampir oleh seluruh pondok pesantren
Babakan. Ada yang menjadi program harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan,
tergantung dari jadwal yang dibuat oleh pengurus pondok setempat. Karena
musyawarah sebagai wadah diskusi yan paling efektif di pondok pesantren. Dengan
adanya musyawarah santri bisa
lebih berkembang dalam pemikiran dan pengetahuanya untuk memahami
masalah–masalah agama yang di hadapi masyarakat yang bersifat modern. Seperti
yang biasa diketahui, banyak permasalahan kontemporer yang belum terbahas
secara mendetail di dalam al- Quran
dan al-Hadist, ijma, ataupun qiyas sehingga dengan adanya Musyawarah
permasalahan–permasalahan tersebut bisa terjawab secara mendetail dalam musyawarah kitab kuning.
Musyawarah kitab kuning
di Pondok Kebon Jambu sangat digemari oleh para santri dibandingkan dengan
metode sorogan atau bandungan, karena didalam musyawarah antara santri satu
dengan yang lain bisa saling beradu argumentasi tentang masalah yang di bahas,
dan saling menguatkan pendapatnya masing-masing yang tentunya mempunyai dasar
untuk mempertahankan argumentasinya, dengan cara ini santri bisa berfikir
kritis dan menambah kemampuan literasi keilmuan baik dalam hal kecerdasan
intelektual maupun emosionalnya.
Sementara
itu santri/kiai menggunkan forum musyawarah
bertujuan untuk membahas masalah-masalah waqiiyah yang dicarikan
dalilnya didalam kitab-kitab fiqih yang populer disebut dengan kutubul
mu’tabaroh ‘ala madzahibul arba’ah. Dan didalam kitab tersebut terdapat
banyak perbedaan pendapat (khilafiyyah)
antara pendapat yang satu dengan yang lain, ada yang membolehkan, ada yang
memakruhkan, bahkan ada yang mengharamkan, oleh karena itu perlu dibahas
bersama santri dengan santri yang lain (musyawirin).
Mana pendapat yang lebih kuat dan mana pendapat yang lemah, dengan adanya
pembahasan ini para santri bisa saling mufakat dan membuahkan hasil keputusan
yang memuaskan.
Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy kegiatan musyawarah sudah ada sejak awal berdirinya. Seirin perkembangannya, kegiatan musyawarah pun semakin di perbaharui, dengan tujuan untuk melestarikan warisan
khazanah keilmuan Islam dan menumbuhkan
gairah belajar para santri dalam
mempelajari kitab kuning. Musyawarah ini juga diharapkan para santri mampu untuk
menganalisa masalah dengan sudut pandang fikih dan mampu memberikan solusi yang
sesuai dengan kemaslahatan umum yang lebih kompleks.[104]
3. Majelis Musyawaroh (MAJROH)
Kegiatan
MAJROH merupakan rutinitas Pondok Kebon Jambu Al-Islamy
Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan merupakan hasil rapat panitia Majroh
1440-1441 H. Peserta
Majlis Musyawaroh adalah seluruh tingkat empat, lima, enam tingkatan yang
berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok Jambu Putri, Ma’had aly, Pondok
Melati dan Pondok Assanusi Putra.
Kegiatan MAJROH diawali dengan penyajian
masalah oleh nara sumber yang menguasai persoalan yang diangkat. Setelah nara
sumber menyajikan masalah yang sebenarnya, moderator mempersilahkan peserta
untuk membahas dan memberikan pendapatnya disertai dengan argumen-argumennya
masing-masing, dimana setiap pendapat harus dilengkapi dengan argumen dari
pendapat lain. Argumen yang diutarakan diambil dari kitab-kitab kuning yang
mereka pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan akhir dan akan
dirumuskan oleh tim perumus atau musohih untuk kemudian disahkan oleh majlis
tashih (majlis pengesahan).[105]
4. Komponen
Majlis Musyawarah Pesantren Kebon Jambu
Pada setiap musyawarah yang dilakukan
oleh para santri tidak bisa dilepaskan dari dari lima komponen utama.
Masing-masing komponen bekerja sama dalam mensukseskan jalannya kegiatan musyawarah.
Komponen-komponen tersebut adalah:[106]
a. Moderator
Moderator
adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin jalannya kegiatan musyawarah. Seorang
moderator diharuskan orang yang benar-benar memiliki kecakapan berdiskusi
sekaligus mempunyai ilmu yang cukup terhadap persoalan yang dibahas. Sebab
tugas moderator tidak hanya sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi
juga harus bisa memahami, mengkordinir
dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah
dipahami oleh peserta musyawarah.
b. Notulen
Notulen
adalah seseorang yang bertugas menulis semua hasil musyawarah dan ta’bir
yang dipakai oleh para peserta dan musahih. Hasil catatan dari notulen
selanjutnya diarsip untuk keperluan dokumentasi.
c.
Peserta
Peserta
adalah orang-orang yang terlibat dalam musyawarah. Sebelum pelaksanaan musyawarah
para peserta telah disodori persoalan yang akan dibahas dalam musyawarah
beberapa hari sebelumnya. Karena itu, dalam pelaksanaan musyawarah para peserta
biasanya membawa sebanyak mungkin referensi untuk dijadikan sumber argumentasi.
d.
Perumus
Perumus adalah seseorang yang bertugas
merangkum berbagai jawaban dan argumentasi yang telah disampaikan dalam musyawarah.
Perumus bertugas meredaksikan keputusan musyawarah dalam redaksi yang sederhana
sehingga dapat difahami oleh semua pihak. Perumus juga berkewajiban memilih
argumentasi yang sangat relevan dari sekian ta’bir/dalil yang
dikemukakan peserta.
e.
Pentashih
Pentashih
adalah seseorang yang diposisikan sebagai pengarah. Posisi pentashih dalam
musyawarah sangat strategis, sebab
mereka menjadi pihak yang mempunyai otoritas memutuskan hasil kajian dalam
musyawarah. Karena strategisnya posisi pentashih, maka mereka yang menduduki
posisi ini dipersyaratkan memiliki keilmuan yang mumpuni dan diatas rata-rata.
Biasanya posisi ini diduduki oleh para kyai, para ustadz dan santri senior,
bergantung level musyawarah yang diselenggarakan.
5.
Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning
Untuk melakukan pembelajaran dengan
menggunakan metode musyawarah, kiyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[107]
a. Peserta musyawarah adalah para santri
yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.
b. Peserta musyawarah tidak memiliki
perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk
mengurangi kegagalan dalam musyawarah.
c. Topik atau persoalan (materi) yang
dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kiyai atau ustaz pada
pertemuan sebelumnya.
d. Musyawarah dapat dilakukan secara
terjadwal sebagai latihan untuk para santri.
C.
Metode Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat korelasional dalam rangka
mengetahui hubungan setiap variabel penelitian dengan menggunakan teknik
analisis regresi.[108]Penelitian
kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan
angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan hasilnya.[109]
Skema
untuk mengetahui Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking
di Pesantren Kebon Jambu:[110]
r 1 Y1 X r 2 Y2
Gambar
3.1 Skema Paradigma Penelitian
keterangan:
X = Metode Musyawarah Kitab Kuning
Y1 = Keterampilan Literasi
Y2 = Keterampilan Critical Thinking
r1,
r2 = Korelasi Sederhana
Adapun
metode dalam penelitian ini, langkah pertama mengumpulkan data yang terkumpul
selama penelitian dianalisis guna menjawab permasalahan yang telah diajukan
sebelumnya. Angket yang dirancang dalam 22 pertanyaan untuk para santri tingkat
enam Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Jawaban setiap item instrumen menggunakan
skala likert yang ditentukan dengan sekor 1-3 dengan kategori yang telah
ditetapkan peneliti. Yaitu untuk pilihan (a) bobot nilai 3, pilihan (b) bobot
nilai 2, dan pilihan (c) bobot nilainya 1. Adapun sekor 3 menunjukan kategori
baik, sekor 2 menunjukan kategori cukup, sekor 1 menunjukan kategori kurang.[111]
Adapun tahapan menganalisis data yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah:
1.
Tahapan
analisis pendahuluan
Setelah semua
data yang dibutuhkan terkumpul, langkah berikutnya melakukan analisis terhadap semua data yang
terkumpul. Yaitu dengan cara memberikan angka sekor pada setiap jawaban per
item soal dari angket yang disebarkan kepada para responden (santri) kemudian
seluruh sekor dijumlahkan secara keseluruhan, lalu dianalisis secam statistik.
Dari hasil tersebut dibuat tiga kategori, yaitu tinggi (baik), sedang (cukup
baik) dan rendah (kurang baik).
2.
Tahapan
analisis uji hipotesis
Analisis korelasi untuk mengetahui pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2) yaitu
Analisis regresi sederhana.[112]Apabila
angka probabilitas hasil anlisa < 0,05 maka hipotesis (H0)
ditolak dan hipotesis kerja (Ha) diterima[113]
atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Dalam penelitian
ini terdapat satu variabel bebas (independent variabel) dan dua variabel terikat
(dependent variabel) yaitu: 1). Variabel bebasnya metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning. 2). Variabel terkikatnya kemampuan literasi dan critical
thinking santri.
Adapun
langkah-langkahnya dengan menggunakan SPSS
25 for windows adalah sebagai berikut:
1.
Buka
lembar kerja SPSS
2.
Buat
semua keterangan variabel dari variabel view
3.
Klik
data view dan masukan data
4.
Lalu
analisis dengan cara: klik Analize-Regression-Linier, kemudian akan
muncul dialog. Selanjutnya isilah kotak menu dependent dengan variabel terkait,
yaitu Y1 atauY2 dan kotak menu independent dengan variabel bebas, yaitu
variabel X
5.
Selanjutnya
ketik kotak menu Statistics. Pilih Estimates, Descriptives
dan Model Fit lalu klik Continue
6.
Kotak
menu Plots, berfungsi untuk menampilkan grafik pada analisis regresi.
Klik kotak menu Plots, kemudian klik Normal Probability Plot yang
terletak pada kotak menu Standardized Residual Plots. Selanjutnya klik Continue
7.
Setelah
klik Continue klik Ok, beberapa saat akan muncul hasilnya.[114]
D.
Instrumen Penelitian
1.
Angket
atau kuesioner
Kuesioner
adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi
dari responden dalam arti lapran tentang pribadinya atau hla-hal yang ia
ketahui.[115]
Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket tertutup, sehingga responden
cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan. Tujuan kuesioner
disini digunakan sebagai metode pokok dalam memperoleh informasi tentang Pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu
Al-Islami Cirebon.
Skala pengukuran yang digunakan
dalam angket ini menggunakan skala likert. Sekala likert berfungsi
untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang
tentang fenomena sosial.[116]
Dalam penelitiaan ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang
selanjutnya disebut variabel penelitian. Variabel yang akan diukur dijabarkan
menjadi indikator sebagai titik tolak untuk menyusun item instrument berupa
pertanyaan.
2.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.[117]
Dokumen dalam penelitian ini digunakan sebagai bukti telah melakukan penelitian
dilokasi tersebut (berupa poto) dan sebagai pendukung memperkuat data yang
diperoleh dengan cara mengambil hal yang berkaiatan dengan data penelitian yang
ada di Pesantren Kebon Jambu.
3.
Observasi
Observasi adalah suatu proses yang
kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan
psikologis. Dua diantara yang terpenting dalah proses-proses pengamatan dan
ingatan.[118]
Observasi dalam penelitian ini digunakan sebagai bahan tambahan memperkuat data
yang diperoleh melalui angket dengan mengumpulkan keterngan dari beberapa
responden atau santri yang ada di Pesantren Kebon Jambu.
E.
Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah
para santri tingkat atau kelas enam di Pesantren Kebon Jambu. Populasi adalah
keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagai wakil yang
diteliti.[119]
Populasi dalam penelitian ini sejumlah 30 orang.
2.
Sampel
Sampel adalah sebagiandari jumlah
dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan
peneliti tidak mungkin mempelajri semua yang ada pad populasi, misalnya karena
keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka penelitian dapat menggunakan sampel
yang diambil dari populasi itu.[120]
Berdasarkan hal itu, apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan
diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul representative (mewakili).
Dalam menentukan jumlah sampel
apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Selanjutnya kalau sebjeknya lebih besar bisa
diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Sehingga penelitiannya disebut
penelitian sampling.[121]
Pada penelitian ini diambil semuanya karena subjeknya kurang dari 100 sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi sebanyak 30 santri.
F.
Uji Instrumen
1.
Uji
Validitas
Uji validitas adalah suatau ukuran
yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument, uji
validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pertanyaan-pertanyaan pada
instrument yang harus di buang atau diganti, karena dinggap tidak relevan.
Untuk menguji kevalidan angket dalam penelitian ini menggunakan uji validitas
product moment dengan aplikasi SPSS for windows versi 25. Adapun dasar
pengambilan keputusan dalam uji ini, bisa dilakukan dengan cara:
Ø Membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel. Jika nilai r
hitung > r tabel, maka item soal angket tersebut dinyatakan valid dan jika
nilai r hitung < r tabel, maka item soal angket tersebut dinyatakan tidak
valid.
Ø Membandingkan nilai (sig.) dengan probabilitas 0,05. Jika nilai
(sig.) < 0,05 maka item soal angket tersebut valid dan Jika nilai (sig.)
> 0,05 maka item soal angket tersebut tidak valid
2.
Uji
Reliabilitas
Uji reliabilitas berguna untuk
menetapkan apakah instrumen yang digunakan lebih dari satu kali, paling tidak
oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata
lain, reliabilitas instrument mencirikan tingkat konsistensi. Karena instrumen
tes dalam penelitian ini menggunakan angket berbentuk soal pilihan ganda, checklist,
dan ratingscale. Untuk menjaga reabilitasnya tiap pilihan jawaban
memiliki bobot tertentu.
G.
Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data sebagai berikut:
1.
Mengumpulkan
angket yang disebarkan ke responden (30)
2.
Memeriksa
tiap item soal angket dari setiap variabel dan dimasukan ke tabel seperti
dibawah ini
Tabel 3.2
Contoh format tabel tabulasi angket variabel X
|
No.
Res |
Nama
Responden |
Jawaban
angket variabel |
Skor
Total |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
Buat
tabel daftar tentang distribusi frekuensi jawaban tentang metode musyawarah
kitab kuning
Tabel 3.3
Contoh format tabel distribusi frekwensi variabel X
|
No.
Res |
Alternatif
jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
A |
B |
C |
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
Dari
data di atas dapat dicari skor tertinggi
dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
I = interval
Xt = nilai tertinggi
Xr = nilai terendah
Ki = kelas interval (tinggi, sedang,
rendah)[122]
Maka berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui pada variabel metode musyawarah kitab kuning, nilai tertinggi ….. dan
nilai terendah …… dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai
berikut:
Jadi jelas bahwa pada variabel ini
dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, rendah sebagai berikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai …….
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai …….
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai …….
Kemudian dicari prosentase metode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:
1.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang tinggi, antara skor……sebanyak…..santri:
2.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang sedang, antara skor……sebanyak…..santri:
3.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang rendah, antara skor……sebanyak…..santri:
Untuk lebih jelasnya penulis
sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning
Tabel 3.4
Contoh format tabel hasil distribusi frekwensi
variabel X
|
No. |
Metode
musyawarah |
Interval |
Frekuensi |
Prosentase |
|
1.
|
Tinggi |
|
|
|
|
2.
|
Sedang |
|
|
|
|
3.
|
Rendah |
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
|
H.
Uji Hipotesis
Metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical
thinking (Y2). Dalam penelitian ini menggunakan bantuan komputerisasi
program SPSS for windows versi 25. Adapun langkah langkahnya sebagai
berikut:
1.
Buka
lembar kerja SPSS
2.
Buat
semua keterangan variabel dari variabel view
3.
Klik
data view dan masukan data
4.
Lalu
analisis dengan cara: klik Analize-Regression-Linier, kemudian akan
muncul dialog. Selanjutnya isilah kotak menu dependent dengan variabel
terkait, yaitu Y1 atau Y2 dan kotak menu independent dengan variabel
bebas, yaitu variabel X
5.
Selanjutnya
ketik kotak menu Statistics. Pilih Estimates, Descriptives
dan Model Fit lalu klik Continue
6.
Kotak
menu Plots, berfungsi untuk menampilkan grafik pada analisis regresi.
Klik kotak menu Plots, kemudian klik Normal Probability Plot yang
terletak pada kotak menu Standardized Residual Plots. Selanjutnya klik Continue
7.
Setelah
klik Continue klik Ok, beberapa saat akan muncul hasilnya.[123]
BAB IV
TEMUAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A.
Temuan Penelitian
1.
Instumen Variabel Pengaruh Metode Musyawarah Kitab Kuning
Data
nilai variabel pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning di
Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.
Tabel 4.1
Distribusi
Nilai Hasil Angket Metode Musyawarah
Dalam
Pembelajan Kitab Kuning
|
No.
Responden |
Nomor
Item Dan Skor |
Skor
Total |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
21 |
|
2.
|
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
17 |
|
3.
|
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
12 |
|
4.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
5.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
6.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
15 |
|
7.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
18 |
|
8.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
9.
|
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
2 |
3 |
14 |
|
10. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
11. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
12. |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
15 |
|
13. |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
12 |
|
14. |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
15. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
16. |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
17. |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
17 |
|
18. |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
17 |
|
19. |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
20. |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
21. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
17 |
|
22. |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
23. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
24. |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
16 |
|
25. |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
19 |
|
26. |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
27. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
17 |
|
28. |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
18 |
|
29. |
2 |
2 |
2 |
1 |
3 |
3 |
2 |
15 |
|
30. |
2 |
3 |
3 |
1 |
2 |
2 |
1 |
14 |
Berdasarkan data tabel di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.
Dari
soal angket nomor 1 yang selalu berargumentasi dengan menyertakan referensi
dalam musyawarah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 20 responsen menjawab
kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.
2.
Dari
soal angket nomor 2 yang selalu berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat
dan jelas dalam musyawarah sebanyak 4 orang responden, sebanyak 24 responden
menjawab kadang-kadang, dan 2 orang menjawab tidak pernah.
3.
Dari
soal angket nomor 3 yang selalu berpendapat dengan menyertakan dalil yang dapat
dipertanggung jawabkan dalam musyawarah sebanyak 19 orang responden, sebanyak
21 responden menjawab kadang-kadang, dan tidak ada seorangpun menjawab tidak
pernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu
menjelaskan referensi dalam musyawarah dengan menyertakan nama kitab,
nama pengarang, cetakan dan juga halaman
kitabnya sebanyak 9 orang responden, sebanyak16 responden menjawab
kadang-kadang, dan 5 orang menjawab tidak pernah.
5.
Dari
soal angket nomor 5 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman
atau kelompok lain yang tidak sependapat dalam musyawarah sebanyak 18 orang
responden, sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan tidak ada
seorangpun menjawab tidak pernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman
atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk
menjelaskanya kembali 12 orang responden, sebanyak 15 responden menjawab
kadang-kadang, dan 3 orang menjawab tidak pernah.
7.
Dari
soal angket nomor 7 yang selalu berpendapat semaksimal munkin dalam musyawarah
dengan cara mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di
kelas ataupun sekolah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 19 responden menjawab kadang-kadang, dan 1
orang menjawab tidak pernah.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang
Pengaruh
Metode Musyawarah Dalam Pembelajan Kitab
Kuning
|
No. Res. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
21 |
|
|
21 |
A |
|
2.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
3.
|
|
10 |
2 |
12 |
C |
|
4.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
5.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
6.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
7.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
8.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
9.
|
6 |
6 |
2 |
14 |
C |
|
10.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
11.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
12.
|
6 |
8 |
1 |
15 |
B |
|
13.
|
|
10 |
2 |
12 |
C |
|
14.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
15.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
16.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
17.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
18.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
19.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
20.
|
|
12 |
1 |
13 |
C |
|
21.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
22.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
23.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
24.
|
6 |
10 |
|
16 |
B |
|
25.
|
15 |
4 |
|
19 |
A |
|
26.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
27.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
28.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
29.
|
6 |
8 |
1 |
15 |
B |
|
30.
|
6 |
6 |
2 |
14 |
C |
Dari data di atas dapat dicari skor
tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
i
= interval
Xt
= nilai tertinggi
Xr
= nilai terendah
Ki
= kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[124]
Maka
berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning,
nilai tertinggi 21 dan nilai terendah 12 dalam hal ini dapat dihitung dengan
rumus diatas sebagai berikut:
Jadi
jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang dan
rendah sebagai berikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 19-21
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 15-18
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 14-12
Kemudian
dicari prosentase metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:
1.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang tinggi, antara skor 19-21 sebanyak 2 santri:
2.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang sedang, antara skor 15-18 sebanyak 19 santri:
3.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang rendah, antara skor 12-14 sebanyak 9 santri:
Untuk
lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi metode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning.
Tabel 4.3
Hasil Distribusi Frekuensi Pengaruh
Metode Musyawarah dalam pembelajan Kitab Kuning
|
No. |
Metode musyawarah |
Interval |
Frekuensi |
Prosentase |
|
4.
|
Tinggi |
19-21 |
2 |
6,67% |
|
5.
|
Sedang |
15-18 |
19 |
63,33% |
|
6.
|
Rendah |
12-14 |
9 |
30% |
|
|
Jumlah |
30 |
100% |
|
Distribusi
frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning, tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 19 jawaban responden dari 30 santri sebagai
responden. Kareana nilai rata-rata jawaban responden berada pada interval
15-18, hal ini menunjukan bahwa metode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning kategori
sedang, yaitu 63,33%.
2.
Instumen Variabel Keterampilan Literasi
Data
nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon
Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.
Tabel 4.4
Distribusi Nilai Hasil Angket Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
No. |
Nomor item dan skor |
Skor total |
|||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
2.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
3.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
15 |
|
4.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
16 |
|
5.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
6.
|
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
1 |
13 |
|
7.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
16 |
|
8.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
9.
|
2 |
1 |
2 |
2 |
1 |
2 |
10 |
|
10.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
14 |
|
11.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
12.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
15 |
|
13.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
14 |
|
14.
|
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
14 |
|
15.
|
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
16.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
12 |
|
17.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
16 |
|
18.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
15 |
|
19.
|
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
11 |
|
20.
|
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
10 |
|
21.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
22.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
13 |
|
23.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
12 |
|
24.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
25.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
15 |
|
26.
|
3 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
27.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
17 |
|
28.
|
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
10 |
|
29.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
14 |
|
30.
|
3 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
11 |
Berdasarkan data tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Dari
soal angket nomor 1 yang selalu mengambil informasi atau referensi dari
berbagai kitab kuning sebanyak 18 orang responden, sebanyak 1 responden
menjawab kadang-kadang, dan 11 orang menjawab tidak pernah.
2.
Dari
soal angket nomor 2 yang selalu lebih dahulu menganalisis pendapat yang
terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 responden
menjawab kadang-kadang, dan 2 orang menjawab tidak pernah.
3.
Dari
sola angket nomor 3 yang selalu lebih dahulu mengevaluasi pendapat yang
terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 13 responden
menjawab kadang-kadang, dan 4 orang menjawab tidak pernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu lebih dahulu menganalisis bentuk teks yang
terdapat didalam kitab sebanyak 14 orang responden, sebanyak 15 responden
menjawab kadang-kadang, dan 1 orang menjawab tidak pernah.
5.
Dari
soal angket nomor 5 yang selalu mendapatkan pemahaman baru dari hasil mencarai
referensi yang tidak didapat dalam kelas pengajian sorogan atau bandungan
sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan
tidak ada seorangpun menjawab tidak pernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mencarai
referensi terbaik sebagai rujukan sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15
responden menjawab kadang-kadang, dan 2
orang menjawab tidak pernah.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Jawaban Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
No. Res. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
18 |
|
|
18 |
A |
|
2.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
3.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
4.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
5.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
6.
|
6 |
6 |
1 |
13 |
B |
|
7.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
8.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
9.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
10.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
11.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
12.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
13.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
14.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
15.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
16.
|
6 |
4 |
2 |
12 |
C |
|
17.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
18.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
19.
|
3 |
6 |
2 |
11 |
C |
|
20.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
21.
|
18 |
|
|
18 |
A |
|
22.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
23.
|
|
12 |
|
12 |
C |
|
24.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
25.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
26.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
27.
|
15 |
2 |
|
17 |
A |
|
28.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
29.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
30.
|
3 |
6 |
2 |
11 |
C |
Dari data diatas dapat dicari skor
tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
i
= interval
Xt
= nilai tertinggi
Xr
= nilai terendah
Ki
= kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[125]
Maka
berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi, nilai tertinggi 18 dan nilai terendah 10
dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:
Jadi
jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, dan
rendah sebagai berikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 16-18
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 13-15
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 10-12
Kemudian
dicari prosentase kemampuan santri pada keterampilan literasi dengan rumus:
1.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan literasi
yang tinggi, antara skor 16-18 sebanyak 10 santri:
2.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan literasi yang
sedang, antara skor 13-15 sebanyak 13 santri:
3.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan literasi yang
rendah, antara skor 10-12 sebanyak 7 santri:
Untuk
lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemampuan santri pada keterampilan literasi.
Tabel 4.6
Hasil Distribusi Frekuensi Tentang Kemampuan Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
No. |
Keterampilan Literasi |
Interval |
Frekuensi |
Prosentase |
|
7.
|
Tinggi |
16-18 |
10 |
33,33% |
|
8.
|
Sedang |
13-15 |
13 |
43,33% |
|
9.
|
Rendah |
10-12 |
7 |
23,34% |
|
|
Jumlah |
30 |
100% |
|
Distribusi frekuensi diatas
menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan literasi,
tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 13 jawaban responden dari 30 santri sebagai
responden. Kareana nilai rata-rata jawaban responden berada pada interval
13-15, hal ini menunjukan bahwa kemampuan santri pada keterampilan literasi
kategori sedang, yaitu 43,33%.
3.
Instumen Variabel Keterampilan Critical Thinking
Data
nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di
Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.
Tabel 4.7
Distribusi
Nilai Hasil Angket Kemampuan Santri
Pada
Keterampilan Critical Thinking
|
No.
Responden |
Nomor item dan skor |
Skor
total |
|||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
30 |
|
2.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
23 |
|
3.
|
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
16 |
|
4.
|
2 |
1 |
3 |
3 |
2 |
1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
18 |
|
5.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
25 |
|
6.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
3 |
1 |
22 |
|
7.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
27 |
|
8.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
9.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
3 |
3 |
3 |
24 |
|
10.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
21 |
|
11.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
12.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
24 |
|
13.
|
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
14.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
23 |
|
15.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
24 |
|
16.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
1 |
3 |
2 |
3 |
2 |
24 |
|
17.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
23 |
|
18.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
24 |
|
19.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
18 |
|
20.
|
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
1 |
18 |
|
21.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
24 |
|
22.
|
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
16 |
|
23.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
24.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
25 |
|
25.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
1 |
1 |
21 |
|
26.
|
3 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
25 |
|
27.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
25 |
|
28.
|
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
23 |
|
29.
|
1 |
3 |
3 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
30.
|
3 |
3 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
1 |
2 |
1 |
19 |
BB
erda
berdasarkan data
tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Dari
soal angket nomor 1 yang selalu bertanya dengan menyertakan deskripsi masalah
dan merumuskan masalah terlebih dahulu sebanyak sebanyak 16 orang responden,
sebanyak 12 responden menjawab kadang-kadang, dan 2 orang menjawab tidak pernah.
2.
Dari
soal angket nomor 2 yang selalu mendebat atau berargumentasi setiap kali ada kelompok lain yang tidak
sependapat sebanyak 13 orang responden, sebanyak 14 responden menjawab
kadang-kadang, dan 3 orang menjawab tidak
pernah.
3.
Dari
soal angket nomor 3 yang selalu melakukan deduksi sebanyak 8 orang responden,
sebanyak 17 responden menjawab kadang-kadang, dan 5 orang menjawab tidak pernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu melakukan induksi sebanyak 6 orang responden,
sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan 4 orang menjawab tidak pernah.
5.
Dari
soal angket nomor 5 yang selalu mengevaluasi pendapat sendiri atau kelompok
sendiri sebanyak 8 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab
kadang-kadang, dan 2 orang menjawab
tidak pernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu mengevaluasi pendapat kelompok lain sebanyak 10
orang responden, sebanyak 13 responden menjawab kadang-kadang, dan 7 orang menjawab tidak pernah.
7.
Dari
soal angket nomor 7 yang selalu mengambil keputusan dan tindakan sebagai solusi
terhadap perbedaan pendapat sebanyak 11 orang responden, sebanyak 16 responden
menjawab kadang-kadang, dan 3 orang
menjawab tidak pernah.
8.
Dari
soal angket nomor 8 yang selalu berkontribusi memberikan argumentasi pada
kelompok sebanyak 7 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab
kadang-kadang, dan 3 orang menjawab tidak pernah.
9.
Dari
soal angket nomor 9 yang selalu meninjau kembali pendapat teman atau kelompok
lain terhadap permasalahan yang dibahas sebanyak 10 orang responden, sebanyak
18 responden menjawab kadang-kadang, dan
2 orang menjawab tidak pernah.
10.
Dari sola angket nomor 10 yang selalu
berargumentasi meski referensinya sama
dengan kelompok lain tapi berbeda dalam interpretasi atau argumentasinya sebanyak
5 orang responden, sebanyak 20 responden menjawab kadang-kadang, dan 5 orang menjawab tidak pernah.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang
Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical
Thinking
|
No. Res. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
30 |
|
|
30 |
A |
|
2.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
3.
|
|
12 |
4 |
16 |
C |
|
4.
|
6 |
8 |
4 |
18 |
C |
|
5.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
6.
|
12 |
8 |
2 |
22 |
B |
|
7.
|
21 |
6 |
|
27 |
A |
|
8.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
9.
|
15 |
8 |
1 |
24 |
B |
|
10.
|
6 |
14 |
1 |
21 |
B |
|
11.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
12.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
13.
|
|
10 |
5 |
15 |
C |
|
14.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
15.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
16.
|
15 |
8 |
1 |
24 |
B |
|
17.
|
12 |
10 |
1 |
23 |
B |
|
18.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
19.
|
|
16 |
2 |
18 |
C |
|
20.
|
3 |
12 |
3 |
18 |
C |
|
21.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
22.
|
|
12 |
4 |
16 |
C |
|
23.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
24.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
25.
|
12 |
6 |
3 |
21 |
B |
|
26.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
27.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
28.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
29.
|
6 |
12 |
2 |
20 |
B |
|
30.
|
9 |
6 |
4 |
19 |
C |
Dari data diatas dapat dicari skor
tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
i = interval
Xt = nilai
tertinggi
Xr = nilai
terendah
Ki = kelas
interval (tinggi, sedang, rendah)[126]
Maka
berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, nilai tertinggi 30 dan nilai terendah 15
dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus diatas sebagai berikut:
Jadi
jelas bahwa pada variabel ini dapat dikategorikan variasi tinggi, sedang, dan
rendah sebagai berikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 26-30
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 20-25
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 15-19
Kemudian
dicari prosentase kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dengan
rumus:
1.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking yang tinggi, antara skor 26-30 sebanyak 2 santri:
2.
Untuk
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang sedang, antara
skor 25-20 sebanyak 21 santri:
3.
Untuk
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang rendah, antara
skor 19-15 sebanyak 7 santri:
Untuk
lebih jelasnya penulis sampaikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.
Tabel
4.9
Hasil Distribusi Frekuensi Jawaban Tentang
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking
|
No. |
Keterampilan Critical Thinking |
Interval |
Frekuensi |
Prosentase |
|
10. |
Tinggi |
30-26 |
2 |
6,67% |
|
11. |
Sedang |
25-20 |
21 |
70% |
|
12. |
Rendah |
19-15 |
7 |
23,33% |
|
|
Jumlah |
30 |
100% |
|
Distribusi frekuensi diatas
menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking, tertinggi pada kategori sedang, yaitu sebanyak 21 jawaban
responden dari 30 santri sebagai responden. Kareana nilai rata-rata jawaban
responden berada pada interval 20-25, hal ini menunjukan bahwa kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking. Yaitu 70%.
B.
Pembahasan
1.
Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen
a.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning
Pengujian
validitas dan reliabilitas Instrumen angket kuesioner pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning menggunakan aplikasi SPSS for
windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4.10
Uji Validitas Korelasi Pengaruh
Metode Musyawarah
Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
|
Correlations |
|||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Item_7 |
Skor_Total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.213 |
.000 |
.387* |
.289 |
.110 |
.000 |
.478** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.258 |
1.000 |
.035 |
.122 |
.561 |
1.000 |
.007 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.213 |
1 |
.230 |
.083 |
.123 |
.283 |
-.086 |
.415* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.258 |
|
.221 |
.665 |
.517 |
.130 |
.651 |
.023 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.000 |
.230 |
1 |
.195 |
.089 |
.148 |
.318 |
.460* |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.221 |
|
.301 |
.640 |
.436 |
.087 |
.011 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.387* |
.083 |
.195 |
1 |
.366* |
.295 |
.454* |
.731** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.035 |
.665 |
.301 |
|
.047 |
.113 |
.012 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.289 |
.123 |
.089 |
.366* |
1 |
.383* |
.466** |
.672** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.122 |
.517 |
.640 |
.047 |
|
.037 |
.010 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.110 |
.283 |
.148 |
.295 |
.383* |
1 |
.228 |
.641** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.561 |
.130 |
.436 |
.113 |
.037 |
|
.226 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_7 |
Pearson
Correlation |
.000 |
-.086 |
.318 |
.454* |
.466** |
.228 |
1 |
.605** |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.651 |
.087 |
.012 |
.010 |
.226 |
|
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_Total |
Pearson
Correlation |
.478** |
.415* |
.460* |
.731** |
.672** |
.641** |
.605** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.007 |
.023 |
.011 |
.000 |
.000 |
.000 |
.000 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
|||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
|||||||||
Tabel 4.11
Perbandingan r Hitung Dan r Tabel
|
No Item |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
1.
|
0,473 |
0,361 |
VALID |
|
2.
|
0,415 |
0,361 |
VALID |
|
3.
|
0,460 |
0,361 |
VALID |
|
4.
|
0,731 |
0,361 |
VALID |
|
5.
|
0,672 |
0,361 |
VALID |
|
6.
|
0,641 |
0,361 |
VALID |
|
7.
|
0,605 |
0,361 |
VALID |
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapat nilai
skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r
tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r
tabel 0.361. berdasarkan hasil analisis
didapat nilai korelasi untuk semua item 1-7 lebih besar dari 0.361. maka dapat
disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan
semua item soal valid).
Tabel 4.12
Uji Reliabel
Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
|
Reliability
Statistics |
|
|
Cronbach's
Alpha |
N
of Items |
|
.669 |
7 |
|
Item-Total
Statistics |
||||
|
|
Scale
Mean if Item Deleted |
Scale
Variance if Item Deleted |
Corrected
Item-Total Correlation |
Cronbach's
Alpha if Item Deleted |
|
Item_1 |
13.70 |
4.079 |
.285 |
.658 |
|
Item_2 |
13.97 |
4.240 |
.226 |
.671 |
|
Item_3 |
13.73 |
4.133 |
.269 |
.661 |
|
Item_4 |
13.90 |
3.128 |
.526 |
.583 |
|
Item_5 |
13.43 |
3.633 |
.516 |
.598 |
|
Item_6 |
13.73 |
3.444 |
.411 |
.626 |
|
Item_7 |
13.73 |
3.720 |
.414 |
.624 |
Ketetapan:
1.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan “RELIABLE”
2.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,669, sedangkan r tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30
sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian
tersebut semua reliable.
b.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen kemampuan santri pada keterampilan
literasi
Tabel 4.13
Uji Validitas Korelasi Kemampuan
Santri Pada Keterampilan Literasi
|
Correlations |
||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Skor_total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.076 |
.251 |
.281 |
.101 |
.372* |
.540** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.691 |
.182 |
.132 |
.596 |
.043 |
.002 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.076 |
1 |
.455* |
.418* |
.244 |
.271 |
.662** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.691 |
|
.011 |
.022 |
.194 |
.148 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.251 |
.455* |
1 |
.613** |
.509** |
.056 |
.778** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.182 |
.011 |
|
.000 |
.004 |
.769 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.281 |
.418* |
.613** |
1 |
.249 |
.319 |
.764** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.132 |
.022 |
.000 |
|
.185 |
.086 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.101 |
.244 |
.509** |
.249 |
1 |
-.079 |
.517** |
|
Sig. (2-tailed) |
.596 |
.194 |
.004 |
.185 |
|
.678 |
.003 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.372* |
.271 |
.056 |
.319 |
-.079 |
1 |
.514** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.043 |
.148 |
.769 |
.086 |
.678 |
|
.004 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_total |
Pearson
Correlation |
.540** |
.662** |
.778** |
.764** |
.517** |
.514** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.002 |
.000 |
.000 |
.000 |
.003 |
.004 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
||||||||
Tabel 4.14
Perbandingan r Hitung
Dan r Tabel
|
No Item |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
1.
|
0,540 |
0,361 |
VALID |
|
2.
|
0,662 |
0,361 |
VALID |
|
3.
|
0,778 |
0,361 |
VALID |
|
4.
|
0,764 |
0,361 |
VALID |
|
5.
|
0,517 |
0,361 |
VALID |
|
6.
|
0,514 |
0,361 |
VALID |
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil
analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian
dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n =
30, maka didapat r tabel 0.361.
berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-6 lebih
besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi
signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).
Tabel 4.15
Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri Pada Keterampilan
Literasi
|
Reliability
Statistics |
|
|
Cronbach's
Alpha |
N
of Items |
|
.700 |
6 |
|
Item-Total Statistics |
||||
|
|
Scale Mean if Item Deleted |
Scale Variance if Item Deleted |
Corrected Item-Total Correlation |
Cronbach's Alpha if Item Deleted |
|
Item_1 |
11.53 |
4.120 |
.327 |
.691 |
|
Item_2 |
11.73 |
3.720 |
.463 |
.649 |
|
Item_3 |
11.80 |
3.200 |
.598 |
.596 |
|
Item_4 |
11.67 |
3.540 |
.623 |
.599 |
|
Item_5 |
12.03 |
4.240 |
.319 |
.691 |
|
Item_6 |
11.73 |
4.133 |
.274 |
.709 |
Ketetapan:
1.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan ”RELIABLE”
2.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,700, sedangkan r tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30
sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian
tersebut semua reliable.
c.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking
Tabel 4.16
Uji Validitas Korelasi Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Critical Thinking
|
Correlations |
||||||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Item_7 |
Item_8 |
Item_9 |
Item_10 |
Skor_Total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.360 |
.050 |
.194 |
.247 |
.332 |
.366* |
.301 |
.401* |
.000 |
.591** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.051 |
.794 |
.304 |
.188 |
.073 |
.047 |
.106 |
.028 |
1.000 |
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.360 |
1 |
.237 |
.030 |
.294 |
.344 |
.598** |
.061 |
.388* |
.267 |
.662** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.051 |
|
.208 |
.876 |
.115 |
.063 |
.000 |
.749 |
.034 |
.154 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.050 |
.237 |
1 |
.339 |
.044 |
.048 |
-.147 |
.055 |
.375* |
.355 |
.425* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.794 |
.208 |
|
.066 |
.817 |
.801 |
.439 |
.774 |
.041 |
.054 |
.019 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.194 |
.030 |
.339 |
1 |
.266 |
.218 |
-.142 |
.386* |
.047 |
.503** |
.498** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.304 |
.876 |
.066 |
|
.155 |
.247 |
.455 |
.035 |
.804 |
.005 |
.005 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.247 |
.294 |
.044 |
.266 |
1 |
.499** |
.334 |
.340 |
.166 |
.298 |
.630** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.188 |
.115 |
.817 |
.155 |
|
.005 |
.071 |
.066 |
.379 |
.110 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.332 |
.344 |
.048 |
.218 |
.499** |
1 |
.227 |
.366* |
.171 |
.077 |
.620** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.073 |
.063 |
.801 |
.247 |
.005 |
|
.227 |
.047 |
.365 |
.684 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_7 |
Pearson
Correlation |
.366* |
.598** |
-.147 |
-.142 |
.334 |
.227 |
1 |
-.101 |
.080 |
.092 |
.432* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.047 |
.000 |
.439 |
.455 |
.071 |
.227 |
|
.597 |
.674 |
.629 |
.017 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_8 |
Pearson
Correlation |
.301 |
.061 |
.055 |
.386* |
.340 |
.366* |
-.101 |
1 |
.304 |
.308 |
.529** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.106 |
.749 |
.774 |
.035 |
.066 |
.047 |
.597 |
|
.103 |
.097 |
.003 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_9 |
Pearson
Correlation |
.401* |
.388* |
.375* |
.047 |
.166 |
.171 |
.080 |
.304 |
1 |
.302 |
.576** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.028 |
.034 |
.041 |
.804 |
.379 |
.365 |
.674 |
.103 |
|
.105 |
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_10 |
Pearson
Correlation |
.000 |
.267 |
.355 |
.503** |
.298 |
.077 |
.092 |
.308 |
.302 |
1 |
.559** |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.154 |
.054 |
.005 |
.110 |
.684 |
.629 |
.097 |
.105 |
|
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_Total |
Pearson
Correlation |
.591** |
.662** |
.425* |
.498** |
.630** |
.620** |
.432* |
.529** |
.576** |
.559** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.001 |
.000 |
.019 |
.005 |
.000 |
.000 |
.017 |
.003 |
.001 |
.001 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
||||||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
||||||||||||
Tabel 4.17
Perbandingan r Hitung Dan r Tabel
|
No Item |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
1.
|
0,591 |
0,361 |
VALID |
|
2.
|
0,662 |
0,361 |
VALID |
|
3.
|
0,425 |
0,361 |
VALID |
|
4.
|
0,498 |
0,361 |
VALID |
|
5.
|
0,630 |
0,361 |
VALID |
|
6.
|
0,620 |
0,361 |
VALID |
|
7.
|
0,432 |
0,361 |
VALID |
|
8.
|
0,529 |
0,361 |
VALID |
|
9.
|
0,576 |
0,361 |
VALID |
|
10. |
0,559 |
0,361 |
VALID |
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapat nilai
skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r
tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r
tabel 0.361. berdasarkan hasil analisis
didapat nilai korelasi untuk semua item 1-10 lebih besar dari 0.361. maka dapat
disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan
semua item soal valid).
Tabel 4.18
Uji Reliabel Korelasi Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Critical Thinking
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
|
.745 |
10 |
|
Item-Total Statistics |
||||
|
|
Scale Mean if Item Deleted |
Scale Variance if Item
Deleted |
Corrected Item-Total Correlation |
Cronbach's Alpha if Item
Deleted |
|
Item_1 |
19.43 |
9.840 |
.453 |
.718 |
|
Item_2 |
19.57 |
9.426 |
.532 |
.705 |
|
Item_3 |
19.80 |
10.510 |
.251 |
.748 |
|
Item_4 |
19.83 |
10.351 |
.355 |
.732 |
|
Item_5 |
19.73 |
9.789 |
.509 |
.710 |
|
Item_6 |
19.80 |
9.338 |
.455 |
.718 |
|
Item_7 |
19.63 |
10.516 |
.265 |
.745 |
|
Item_8 |
19.77 |
10.254 |
.395 |
.727 |
|
Item_9 |
19.63 |
10.033 |
.447 |
.719 |
|
Item_10 |
19.90 |
10.093 |
.425 |
.722 |
Ketetapan:
1.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha > r tabel maka kuesioner dinyatakan “RELIABLE”
2.
Apabila
nilai Cronbach's Alpha < r tabel maka kuesioner dinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil
analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,745,
sedangkan r tabel pada signifikansi 5%
dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen
penelitian tersebut semua reliable.
2.
Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis
a.
Analisis
regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi
Analisis
regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi menggunakan aplikasi SPSS for
windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:
Tabel.4.19
Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah
Dalam Pembelajaran Kitab Kuning Terhadap Kemampuan Santri Pada
Keterampilan Literasi
|
Variables Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables Entered |
Variables Removed |
Method |
|
1 |
Metode Musyawarahb |
. |
Enter |
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
|||
|
b. All requested variables entered. |
|||
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.432a |
.186 |
.157 |
2.09279 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
28.066 |
1 |
28.066 |
6.408 |
.017b |
|
Residual |
122.634 |
28 |
4.380 |
|
|
|
|
Total |
150.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
|
b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
Secara umum rumus persamaan regresi
sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi
tersebut dapat berpedoman pada output
yang berada pada tabel Coefficients berikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
1.
Penjelasan
a = angka konstan dari Unstandardized Coefficients. Dalam kasus
ini nilainya sebesar 6.946. angka ini
merupakan angka konstan yang mempunyai arti jika menggunakan metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) maka nilai konsisten kemampauan santri pada keterampilan
literasi (Y1) adalah sebesar 6.946.
b =
angka koefisien regresi. Nilainya sebesar
0,446. Angka ini mengandunga arti bahwa setiap penambahan 1% tingkat metode musyawarah dalam
pembejaran kitab kuning (X), maka kemampauan
santri pada keterampilan literasi (Y1) akan meningkat sebesar 0,446.
Karena nilai koefisien regresi
bernilai positif , maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning (X) berpengaruh positif terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi
(Y1). Sehingga persamaan regresinya
adalah Y1= 6.946 + 0,446 X
2.
Uji
Hipotesis
Uji hipotesis atau uji pengaruh
berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau
tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:
1.
H0 =
Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X)
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).
2.
Ha =
Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan
santri pada keterampilan literasi (Y1).
Sementara itu, untuk memastikan
apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel X
berpengaruh terhadap variabel Y1) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara
membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan
cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.
1.
Uji hipotesis membandingkan nilai signifikansi
(Sig.) dengan 0,05
Adapun yang menjadi dasar
pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi
(Sig.) hasil output SPSS adalah:
Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas
0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).
Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari
probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh metode musyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada
keterampilan literasi (Y1).
Adapun hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
Berdasarkan autput di atas
diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari <
probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,
yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1)”
2.
Uji
hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
Pengujian hipotesis ini sering
disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t
adalah:
Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri
pada keterampilan literasi (Y1)
Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri
pada keterampilan literasi (Y1)
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std.
Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode
Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kemampuan Literasi |
||||||
Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar
2,531. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t
tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:
Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025
Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2
=28
Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka
didapat nilai t tabel sebesar 2,048
Karena nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel
2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
(X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y)“.
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.432a |
.186 |
.157 |
2.09279 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai
R Square atau R2 terdapat pada output
SPSS bagian model summary. Dari output diatas diketahui nilai R
square sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan
literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dengan
total pengaruh sebesar 18,6% . pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh
terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan literasi.
b.
Analisis
regresi Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilancritical thinking
Tabel.4.20
Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab
Kuning Terhadap Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical
Thinking
|
Variables Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables Entered |
Variables Removed |
Method |
|
1 |
Metode Musyawarahb |
. |
Enter |
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
|||
|
b. All requested variables entered. |
|||
|
Model
Summary |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.659a |
.434 |
.414 |
2.65437 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
151.420 |
1 |
151.420 |
21.491 |
.000b |
|
Residual |
197.280 |
28 |
7.046 |
|
|
|
|
Total |
348.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
|
b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
Secara umum rumus persamaan regresi
sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi
tersebut dapat berpedoman pada output yang berada pada tabel coefficients
berikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
1.
Penjelasan
a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus
ini nilainya sebesar 5,283. Angka ini merupakan
angka konstan yang mempunyai arti jika menggunakan metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) maka nilai konsisten terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking (Y2)
adalah sebesar 5,283.
b = Angka
koefisien regresi. Nilainya sebesar 1,036.
Angka ini mengandunga arti bahwa setiap
penambahan 1% tingkat pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning (X), maka terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2) akan meningkat
sebesar 1,036.
Karena nilai koefisien regresi
bernilai positif, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode musyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning (X) berpengaruh positif terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking (Y2). Sehingga persamaan regresinya adalah Y2 = 5,283 + 1,036 X
2.
Uji
Hipotesis
Uji hipotesis atau uji pengaruh
berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau
tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:
Ø Ho = Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).
Ø Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
(X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).
Sementara itu, untuk memastikan
apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel X
berpengaruh terhadap variabel Y2) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara
membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan
cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.
1.
Uji hipotesis membandingkan nilai signifikansi
(Sig.) dengan 0,05
Adapun yang menjadi dasar
pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi
(Sig.) hasil output SPSS adalah:
Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas
0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2).
Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari
probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh metode musyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan
critical thinking (Y2).
Adapun hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
Berdasarkan autput di atas
diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000 lebih kecil
dari < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha
diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2)”
2.
Uji
hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
Pengujian
hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan
keputusan dalam uji t adalah:
Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking (Y2)
Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking (Y2)
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 4,636.
karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel.
Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:
Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025
Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2
=28
Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada
distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048
Karena nilai t hitung sebesar 4,636 lebih
besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan
Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2)“
|
Model
Summary |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.659a |
.434 |
.414 |
2.65437 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat
berpedoman pada nilai R Square atau
R2 terdapat pada output SPSS bagian model summary. Dari output
diatas diketahui nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6%
keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang
tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking dengan total pengaruh sebesar 43,4%. pengaruh positif ini bermakna
semakin tinggi metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan
berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking.
c.
Analisis
regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical
thinking
Tabel.4.20
Output SPSS Regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical
thinking
|
Variables
Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables
Entered |
Variables
Removed |
Method |
|
1 |
Kemampuan Literasib |
. |
Enter |
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
|||
|
b. All requested variables entered. |
|||
|
Model
Summary |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.429a |
.184 |
.155 |
3.18804 |
|
a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
64.120 |
1 |
64.120 |
6.309 |
.018b |
|
Residual |
284.580 |
28 |
10.164 |
|
|
|
|
Total |
348.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
|
b. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Kemampuan Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical
Thinking |
||||||
Secara umum rumus persamaan regresi
sederhana adalah Y = a + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi
tersebut dapat berpedoman pada output yang berada pada tabel coefficients
berikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Kemampuan Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a. Dependent Variable: Kemampuan Critical
Thinking |
||||||
1.
Penjelasan
a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus
ini nilainya sebesar 12,703. Angka ini merupakan
angka konstan yang mempunyai arti jika keterampilan literasi meningkat (Y1)
maka nilai konsisten keterampilan critical thinking (Y2) adalah sebesar 12,703.
b = Angka
koefisien regresi. Nilainya sebesar 0,652. Angka ini mengandunga arti bahwa
setiap penambahan 1% tingkat
keterampilan literasi (Y1), maka
keterampilan critical thinking (Y2) akan meningkat sebesar 0 ,652.
Karena nilai koefisien regresi
bernilai positif, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa peningkatan
keterampilan literasi (Y1) berpengaruh positif terhadap keterampilan critical
thinking (Y2). Sehingga persamaan
regresinya adalah Y1 = 12.703 + 0,652 X
2.
Uji
Hipotesis
Uji hipotesis atau uji pengaruh
berfungsi untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau
tidak. Adapun hipotesisnya sebagai berikut:
Ø H0 = Tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan
critical thinking (Y2).
Ø Ha = Ada pengaruh peningkatan keterampilan literasi (Y1) terhadap
keterampilan critical thinking (Y2).
Sementara itu, untuk memastikan
apakah koefisien regresi tersebut signifikan atau tidak (dalam arti variabel Y1
berpengaruh terhadap variabel Y2) dapat melakukan uji hipotesis ini dengan cara
membandingkan nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05 atau dengan
cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel.
1.
Uji hipotesis membandingkan nilai signifikansi
(Sig.) dengan 0,05
Adapun yang menjadi dasar
pengambilan keputus dalam analisis regresi dengan melihat nilai signifikansi
(Sig.) hasil output SPSS adalah:
Ø Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas
0,05 mengandung arti bahwa ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan
critical thinking (Y2).
Ø Sebaliknya, Jika nilai signifikansi (Sig.) lebih besar > dari
probabilitas 0,05 mengandung arti bahwa tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical
thinking (Y2).
Adapun hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Kemampuan Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan autput di atas
diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,018 lebih
kecil dari < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak
dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1)
terhadap keterampilan critical thinking
(Y2)”
2.
Uji
hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
Pengujian
hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan
keputusan dalam uji t adalah:
Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh
keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)
Ø Jika nilai t hitung lebih kecil < dari t tabel maka tidak ada
pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking
(Y2)
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Kemampuan Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 2,512.
karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel.
Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:
Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025
Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2
=28
Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka
didapat nilai t tabel sebesar 2,048
Karena nilai t hitung sebesar 2,512 lebih
besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan
Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1)
terhadap keterampilan critical thinking (Y2)“.
|
Model
Summary |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.429a |
.184 |
.155 |
3.18804 |
|
a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan
literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi,
dapat berpedoman pada nilai R Square
atau R2 terdapat pada output SPSS bagian model summary. Dari output
diatas diketahui nilai R square sebesar 0,184. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh
keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking adalah
sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi
oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa keterampilan literasi berpengaruh positif terhadap keterampilan
critical thinking dengan total pengaruh sebesar 18,4%. pengaruh positif
ini bermakna semakin tinggi keterampilan literasi dalam pembelajaran kitab
kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada
keterampilan critical thinking.
3.
Hasil Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis regresi
diatas dapat diketahui bahwa:
1.
Metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi apabila nilai signifikansi
(Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 atau jika nilai t hitung lebih
besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha
diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui
nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05
dan nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada
pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi. Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai
R Square. Adapun nilai R square
sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh
variabel yang lain yang tidak diteliti.
2.
Metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking apabila nilai
signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari probabilitas 0,05 atau jika nilai t
hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak
dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25
diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.000 lebih kecil dari <
probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t
tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.
Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking
dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R
Square. Adapun nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini
mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking
adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking
dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
3.
Keterampilan
literasi mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap ketermpilan critical
thinking santri apabila nilai signifikansi (Sig.) lebih kecil < dari
probabilitas 0,05 atau Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput
SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar
0.018 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,512
lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan antara ketermpilan
literasi terhadap ketermpilan critical thinking. Untuk mengetahui
besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical
thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilai R square sebesar
0,184. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh keterampilan literasi terhadap
keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6%
keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang
tidak diteliti.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di Pondok Pesantren Kebon Jambu
Al-Islami dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Berdasarkan
autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi
(Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung
sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi. Sedangkan besarnya pengaruh metode musyawarah terhadap
keterampilan literasi dalam analisis regresi, didapat nilai R square
sebesar 0,186. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh metode musyawarah
terhadap keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4%
keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
2.
Berdasarkan
autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi
(Sig.) sebesar 0.000 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung
sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan critical thinking. Sedangkan besarnya pengaruh metode
musyawarah terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis
regresi, didapat nilai R square sebesar 0,434. Nilai ini mengandung arti
bahwa pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking
adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi
oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
3.
Berdasarkan
autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi
(Sig.) sebesar 0.018 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung
sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan ketermpilan
literasi terhadap ketermpilan critical thinking. Sedangkan besarnya
pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking
dalam analisis regresi, didapat nilai R square sebesar 0,184. Nilai ini
mengandung arti bahwa pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical
thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical
thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.
B.
Implikasi
1.
Besarnya
pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi dalam analisis
regresi didapat sebesar 18,6%. Pengaruh ini bermakna semakin tinggi metode
musyawarah maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada
keterampilan literasi.
2.
Besarnya
pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking dalam
analisis regresi didapat sebesar 43,4%. Pengaruh ini bermakna semakin tinggi
metode musyawarah maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking.
3.
Besarnya
pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking
dalam analisis regresi didapat sebesar 18,4%. Pengaruh ini bermakna semakin
tinggi keterampilan literasi maka akan berpengaruh terhadap peningkatan
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.
DAFTAR
PUSTAKA
Abd., Ghofur, Pendidikan Anak Pengungsi; Model
Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang:
UIN-Malang Press, 2009)
Adibah, Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan
Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP
Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 <http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/artikel1414143067.docx>
Adrian, Yudha, I. Nyoman S, and Sugeng Utaya,
‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah
Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26
<http://journal.um.ac.id>
Affandi, Mochtar, Kitab Kuning Dan Tradisi
Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009)
Ahmad, Sulaiman, and Agustin Syakarofath Nandy,
‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi
Islam’, Buletin Psikologi, 2018 <https://jurnal.ugm.ac.id>
Akhmad, Harits Tryan, Mendikbud Siapkan 5
Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018
<https://news.okezone.com>
Alamul, Yakin, Wawancara Seputar Pendidikan Di
Pondok Kebon Jambu, 2019
Amin, Haedari, and Dkk, Masa Depan Pesantren
Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan Kompleksitas Global, Cetakan 2
(Jakarta: IRD PRESS, 2006)
Amri, Sofan, and IiF Khoiru Ahmadi, Proses
Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan
Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010)
Anik, Twin, Hubungan Budaya Literasi Dan
Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018
<https://www.kompasiana.com>
Antoro, Billy, Gerakan Literasi Sekolah, Dari
Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)
<http://repositori.kemdikbud.go.id>
Arief, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi
Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Burhanudin, Jajat, and Dira Afriyanti, Mencetak
Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006)
Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta:
Deperteman Agama RI, 2003)
DePorter, Bobbi, and Mike Hernacki, Quantum
Learning Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, Cet XXVIII (Bandung:
Mizan Pustaka, 2010)
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)
Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling
Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 <https://news.detik.com>
Donni, Yudha Prawira, Pengembangan Koleksi Dan
Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan,
2019) <https://perpustakaan.unimed.ac.id>
English, Evelyn Williams, Pendidikan Literasi
(Bandung: Nuansa Cendekia, 2017)
Evita, Devega, Teknologi Masyarakat Indonesia:
Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 October 2017
<https://www.kominfo.go.id>
Fathin, Nur Azzah, ‘Peningkatan Berfikir Kritis
Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>
Ferguson, Brian, ‘Information Literacy’
<http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>
Filsaine, Dennis K., Menguak Rahasia Berfikir
Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008)
FIP-UPI, Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu
Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT
IMTIMA, 2007)
Hakim, Moh. Abdul, ‘Pemikiran Keagamaan KH.
Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin
Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon,
2014)
Harususilo, Yohanes Enggar, Skor PISA Terbaru
Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019
<https://edukasi.kompas.com>
Hayat, Bahrul, and Suhendra Yusuf, Mutu
Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)
———, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara,
2010)
Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas
Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010)
Jambu, Pondok Kebon, Buku Panduan: Masa Ta’aruf
Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019)
John w., Santrock, Psikologi Pendidikan
(Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015)
Kasdin, Sihotang, Febian Rima K., Benyamin Molan,
Andre Ata Ujan, and Rodemeus Ristyantoro, Critical Thinking Membangun
Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012)
Lailatul, Fitriyah, Marliana, and Suryani,
‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul
Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 <https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>
Majroh, Panitia, Proposal Kegiatan Majelis
Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441
H/2019-2020 M (Cirebon, 2019)
Martin van, Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren
Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)
Masjaya, and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan
Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam
Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018)
<https://journal.unnes.ac.id>
Mikhael, Gewati, Minat Baca Indonesia Ada Di
Urutan Ke-60 Dunia, 2016 <https://edukasi.kompas.com>
Moh, Abdullah, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode
Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab
Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018)
<http://digilib.uinsby.ac.id>
Mohammad, Sholeh, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis
Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan
Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>
Muftisany, Hafidz, Sorogan Dan Bandongan Metode
Khas Pesantren (Jakarta, 2016) <https://www.republika.co.id>
Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca
Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra Dan
Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 <https://journal.uny.ac.id>
Mundzier, Saputra, Perubahan Orientasi Pondok
Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta
Buana Sejahtera, 2009)
Nurcholis, Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah
Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010)
Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’
<https://kebonjambu.org>
Prijosaksono, Aribowo, and Roy Sembel, Self
Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan
Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia,
2003)
Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Transformasi
Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005)
Rakhmawati, Rani, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode
Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat ,
Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet,
V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>
RI, Kementerian Agama, Pesantren Pertumbuhan
Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003)
Rohman, Fathur, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis
Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal
Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200
<http://ejournal.radenintan.ac.id>
Romdhoni, Ali, Al-Qur’an Dan Literasi
(Depok: Literatur Nusantara, 2013)
Semarang, Universitas Negeri, Konferensi Bahasa
Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017)
Setyawan, Ibnu Aji, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan
Pengertian Literasi’, 2018 <https://gurudigital.id>
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif
(Bandung: Alfabeta, 2018)
———, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung:
Alfabeta, 2016)
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017)
Sugiyono, and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar
SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017)
Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu
Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014)
Surya, Hendra, Strategi Jitu Mencapai
Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011)
UNESCO, Plurality of Literacy and Its
Implications for Policies and Programmes (Paris: United Nations Educational
Scientific and Cultural Organization, 2004) <https://unesdoc.unesco.org>
Wowo Sunaryo, Kuswana, Taksonimi Kognitif
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)
Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik
Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat
Press, 2005)
Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018)
Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan
Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’
(Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018)
<http://repo.iain-tulungagung.ac.id>
Zamakhsyari, Dhofier, Tradisi Pesantren Studi
Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015)
[1]Devega Evita, Teknologi
Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 October 2017
<https://www.kominfo.go.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 1 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.
[2]Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca
Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian
Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12
<https://journal.uny.ac.id>. Hal 203.
Diunduh tanggal 1 Desember 2019 pukul 15:00 WIB.
[3]Gewati Mikhael, Minat
Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016
<https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 6 Desember 2019 pukul 20:00 WIB.
[4]Yohanes Enggar Harususilo, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem
Makarim, 2019 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 2 Desember 2019 pukul 17:00 WIB.
[5]Billy Antoro, Gerakan
Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017) <http://repositori.kemdikbud.go.id>. Hal 5. Diunduh
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[6]Harits Tryan Akhmad, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0,
2018 <https://news.okezone.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[7]Sulaiman Ahmad and Agustin Syakarofath Nandy,
‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi
Islam’, Buletin Psikologi, 2018
<https://jurnal.ugm.ac.id>. Hal 5. Diunduh
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[8]Detik.com, Kominfo
Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018
<https://news.detik.com>. Hal 2. Diakses
tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[9]Twin Anik, Hubungan
Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 <https://www.kompasiana.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[10]Kitab
kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang
berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai
dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan
‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan
kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. Bruinessen Martin van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading
Publishing, 2012).V. Istilah
kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan
Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Haedari Amin and Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan
Kompleksitas Global, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006). 149.
[11]Sorogan
yakni suatu sistem pengajaran dengan cara santri mengajukan diri kepada guru
dengan membacakan kitab yang ia maknai, dengan tujuan menashihkan bacaannya. Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9
(Jakarta: LP3ES, 2015). 54.
[12]Metode
wetonan atau bandongan yakni sebuah metode pengajian dimana seorang kiai atau
ustaz membacakan dan menjabarkan isi kandungan kitab sementara murid atau
santri mendengarkan dengan seksama dan memberi makna (maknani atau ngesahi).Madjid Nurcholis, Bilik-Bilik
Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010). 23.
[13]Metode
musyawarah yakni suatu sistem pengajaran dengan cara mendiskusikan materi
pelajaran yang akan atau sudah diberikan oleh sang guru, dengan cara
berkelompok. Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.
[14]Fitriyah Lailatul, Marliana, and Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab
Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30
<https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>. Hal 24-25.
Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 22:34 WIB.
[15]Hafidz Muftisany, Sorogan
Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016)
<https://www.republika.co.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 26 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[16]Rani Rakhmawati, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode
Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat ,
Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60
<http://journal.unair.ac.id>. Hal 352.
Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.
[17]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.
[18]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 174-175.
[19]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 98.
[20]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai.142.
[21]Yakin Alamul, Wawancara
Seputar Pendidikan Di Pondok Kebon Jambu, 2019. Tanggal 22
Januari 2019 Pukul 22:00 WIB.
[22]Rakhmawati. ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab
Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin ,
Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet,
V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Diunduh tanggal
20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.
[23]Fathur Rohman, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah
Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017),
179–200 <http://ejournal.radenintan.ac.id>. Diunduh
tanggal 24 Desember 2019 pukul 21:00 WIB.
[24]Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan
Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain
Tulungagung, 2018) <http://repo.iain-tulungagung.ac.id>. Diunduh
tanggal 20 Desember 2019 pukul 20:54 WIB.
[25]Sholeh Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis
Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan
Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya, 2018) <http://digilib.uinsby.ac.id>. Diunduh
tanggal 20 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[26]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[27]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[28]Tim pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4
Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007). 455.
[29]Mujamil Qomar, Pesantren
Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta:
Erlangga, 2005). 159.
[30]Martin van. Kitab Kuning
Pesantren Dan Tarekat. V.
[31]Ali Romdhoni, Al-Qur’an
Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013). 88-89.
[32]Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan
Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi
Aksara, 2018). Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 257.
[33]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[34]Dennis K. Filsaine, Menguak Rahasia Berfikir Kritis
Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008).
[35]Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish
Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat Press, 2005). 61.
[36]Isjoni, Cooperative
Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010). 15.
[37]Santrock John w., Psikologi
Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015). Psikologi
Pendidikan. 397.
[38]Adrian and others, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif
Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26
<http://journal.um.ac.id>. Hal 222. Tanggal 19 Agustus 2019 pukul 00:59
WIB.
[39]Sofan Amri and IiF Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis
Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010). 67.
[40] Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[41]Lailatul, Marliana, and Suryani. Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di
Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja.
25.
[42]John w., Psikologi
Pendidikan. 398.
[43]John w., Psikologi
Pendidikan 399.
[44]Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi
Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). 40.
[45]Kitab
kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang
berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai
dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan
‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan
kemanyarakatan (mu’amalah) lainnya. Martin van. V. Istilah
kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan
Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Amin and Dkk. Masa Depan
Pesantren Dalam Tantangan Modernis dan Tantangan Kompleksitas Global. 149.
[46]Mohammad. Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam
Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa
Timur. 15.
[47]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[48]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[49]FIP-UPI. Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi
Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang. 455.
[50]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri
Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. 42-44.
[51]Mohammad. Kajian
Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok
Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur.
66-68.
[52]Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan
Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.
[53]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam
Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). 85.
[54]Qomar. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi
Institusi. 159.
[55]Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa Dan
Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017). 3.
[56]Adibah, Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan
Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP
Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018
<http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/artikel1414143067.docx>. Hal 5. Diunduh
tanggal 26 Januari 2020 pukul 15:06 WIB.
[57]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 88-89.
[58]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011). 25.
[59]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan
Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis. 1.
[60]Evelyn Williams English, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017). 15.
[61]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
Dan Menulis. 165.
[62]Romdhoni. Al-Qur’an
Dan Literasi. 90.
[63]Romdhoni. Al-Qur’an
Dan Literasi. 27.
[64]Ibnu Aji Setyawan, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018
<https://gurudigital.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 02 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB.
[65]Brian Ferguson, ‘Information
Literacy’ <http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>. Hal 10-14.
Diunduh tanggal 22 November 2019 pukul 14:30 WIB.
[66]Masjaya and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi
Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan
SDM’, PRISMA, 1.1 (2018)
<https://journal.unnes.ac.id>. hal 571.
Diunduh tanggal 14 April 2019 pukul 15:00 WIB.
[67]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010). 31-33.
[68]UNESCO, Plurality
of Literacy and Its Implications for Policies and Programmes (Paris: United
Nations Educational Scientific and Cultural Organization, 2004)
<https://unesdoc.unesco.org>. Hal 6. Diunduh
tanggal 20 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.
[69]Yudha Prawira Donni, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT.
Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019)
<https://perpustakaan.unimed.ac.id>. hal 10.
Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[70]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 226-232.
[71]Bobbi DePorter and Mike Hernacki, Quantum Learning
Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, Cet XXVIII (Bandung: Mizan
Pustaka, 2010). 134-135.
[72]Aribowo Prijosaksono and Roy Sembel, Self
Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan
Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia,
2003). 118.
[73]Sihotang Kasdin and others, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2012). 3.
[74]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[75]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[76]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 228-230.
[77]Kasdin and others. Critical
Thinking Membangun Pemikiran Logis. 7-8.
[78]Hendra Surya, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan
Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011). 130.
[79]Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010). 154-155.
[80]Surya. Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar. 130.
[81]Mohammad. Kajian
Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir. 136.
[82]Kuswana Wowo Sunaryo, Taksonimi Kognitif
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012). 196.
[83]Filsaine. Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif.
81.
[84]Ghofur Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model
Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang:
UIN-Malang Press, 2009). 28.
[85]Saputra Mundzier, Perubahan
Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat
(Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009). 63.
[86]Mundzier. Perubahan
Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat. 63.
[87]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 85.
[88]Mochtar Affandi, Kitab
Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009). 37.
[89]Affandi. Kitab Kuning
Dan Tradisi Akademik Pesantren. 38.
[90]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 96.
[91]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 99.
[92]Affandi. Kitab Kuning
Dan Tradisi Akademik Pesantren. 42.
[93]Abdullah Moh, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode
Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab
Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018)
<http://digilib.uinsby.ac.id>. Hal 56.
Diunduh tanggal 20 November 2019 pukul 22:00 WIB.
[94]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 87.
[95]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 86.
[96]Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H
(Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019). 12. Bisa
dilihat juga tanggal berdiri pondok kebon jambu pada Tesis Moh. Abdul Hakim, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad
Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon
Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014). 90.
[97]Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ <https://kebonjambu.org>. Hal 1. Tanggal
19 September 2019 pukul 21:22 WIB.
[98]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon
Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 91.
[99]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon
Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 92.
[100]Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam, Pondok Pesantren Dan
Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003). 30.
[101]Pondok
Kebon Jambu. Buku
Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 43.
[102]Pondok
Kebon Jambu. Buku Panduan:
Masa Ta’aruf Santri Baru. 30-31.
[103]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok
Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 94.
[104]Panitia Majroh, Proposal
Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat
1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019). 1-2.
[105]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam
Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). 85.
[106]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri
Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. 42-44.
[107]Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan
Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.
[108]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017). 45.
[109]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014). 12.
[110]Sugiono, Metode
Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018). 66.
[111] Sugiono, Metode
Penelitian Kuantitatif. Metode
Penelitian Kuantitatif. 152-153.
[112] Sugiono, Metode
Penelitian Kuantitatif. Metode
Penelitian Kuantitatif. 66.
[113]
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian Suatu Praktek. 68.
[114] Sugiyono and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017). 292-295.
[115]
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian. 128.
[116] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016). 134.
[117]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur
Penelitian Suatu Praktek. 236.
[118] Sugiono, Metode
Penelitian Kuantitatif. 223.
[119]
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian. 108.
[120] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan. 56.
[121]
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian. 115-117.
[122] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[123]Sugiyono and Susanto. Cara Mudah
Belajar SPSS Dan LISREL. 292-295.
[124] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[125] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[126] Sugiono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
Komentar
Posting Komentar